Oleh: Denny Siregar*

Sejak lama banyak orang berwacana untuk mengembangkan wisata halal di Bali.

Kata mereka, Thailand dan Vietnam saja sudah mengembangkan wisata halal di Bali. Dan potensi pendapatannya sampai ribuan triliun rupiah dari turis Timur Tengah.

Tahun 2015, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah atau MES Muliaman Hadad, berkata ingin mengembangkan wisata syariah di Bali. Ide ini disambut Dadang Hermawan ketua MES Bali yang ingin mendirikan desa wisata atau desa syariah.

Sontak masyarakat Bali bereaksi mendengar kata "syariah". Mereka demo di mana-mana. Akhirnya Dadang minta maaf dan berjanji tidak akan menghadirkan wacana wisata syariah di Bali. Dari sana lahirlah piagam Tantular, untuk tidak memaksakan wisata syariah di Bali.

Masyarakat Bali mempunyai trauma yang panjang dengan kata-kata "syariah" karena pulaunya pernah dibom oleh kelompok radikal berbaju agama yang menewaskan puluhan orang. Dampak sistemiknya adalah ekonomi Bali luluh lantak. Travel warning di negara-negara yang selama ini memasok turis ke Bali, membuat warga Bali seketika kehilangan pekerjaan. Bali menjadi sepi karena orang takut ke sana.

Dan menjadikan Bali Bersyariah adalah wacana terbodoh sepanjang masa, terutama ketika itu diwacanakan di daerah dengan jumlah penganut agama Hindu terbanyak di Indonesia.

Bukan karena orang Bali menolak mereka yang beragama, karena selama ini Bali tidak pernah usil mempertanyakan agama, suku dan ras seseorang. Tetapi wacana itu sangat menghina warga Bali yang sudah punya pakem sendiri dalam mengelola daerah mereka dengan model pariwisata budaya.

Bali terkenal adat dan budayanya. Tamu mereka banyak dari Eropa dan Jepang yang juga pada akhirnya mengenalkan Indonesia ke luar negeri. Bali tidak perlu harus melacurkan diri menerma turis Timur Tengah dengan dandanan syariah supaya mereka mau datang ke sana. Jika turis Timur Tengah mau datang ke Bali, ikuti tata cara Bali, bukan sebaliknya.

Dan mendengar wacana Sandiaga Uno yang akan membangun wisata halal Bali, kembali bereaksi lah orang Bali. Sandiaga kembali membuka luka lama yang sudah tertera di "Piagam Tantular" perjanjian untuk tidak pernah mendirikan konsep Bali menjadi syariah dalam hal wisatanya.

Kenapa Sandiaga tidak belajar sejarah itu sehingga tidak terjebak blunder dengan keinginan menerapkan wisata halal di Bali?

Mungkin itu akibat Sandiaga pernah menaruh petai di kepalanya, sehingga sering lupa dan nanti akhirnya minta maaf karena salah kata.

Seruput dulu, ah....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi