Sakralnya Makam Datuk Paggentungang di Gowa

Makam Datuk Ri Paggentungang di Gowa dianggap memiliki nilai sakral atau bertuah dikalangan masyarakat Gowa
Menjelang bulan Ramadan warga asli Desa Paggentungang, Kabupaten Gowa berziarah ke makam Datuk Ri Paggentungang. (Foto: Tagar/Afrilian Cahaya Putri)

Gowa - Makam Datuk Ri Paggentungang ialah makam yang dianggap memiliki nilai sakral atau bertuah dikalangan Masyarakat Gowa hingga ke pelosok Daerah di Sulawesi Selatan.

Makam yang terletak di Desa Tamarunang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini mulai ramai pengunjung menjelang bulan Ramadan.

Alasannya beragam, masyarakat yang datang kebanyakan mengunjungi makam ini untuk melunasi nazar, atau dalam bahasa Makassarnya disebut 'Tinja'.

Makam Datuk Ri PagentungangKeluarga Risma, warga Desa Bontolebang, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar memotong hewan ternak dan disantapnya bersama-sama di makam Datuk Ri Paggentungang, Kamis 2 Mei 2019. (Foto: Tagar/Afrilian Cahaya Putri)

Melunasi nazar dilakukan dengan cara yang beragam, salah satunya yang di lakukan keluarga Risma, warga Desa Bontolebang, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar dengan memotong hewan ternak dan disantapnya bersama-sama keluarga besar di makam tersebut.

Adat istiadat yang melekat didalam keluarga Risma ini dilakukannya setiap keinginannya dikabulkan oleh Tuhan. Maka wajib hukumnya sebuah nazar dilunasi.

Karena kalau tidak dilunasi nazar ini pasti kita sekeluarga dapat musibah, dan itu sudah jadi kepercayaan di keluarga besar kita

Ritual yang dilakukan dalam rangka melunasi nazar ini dilakukan dengan pembacaan doa didepan makanan yang telah tersaji, tidak ketinggalan hewan ternak yang disembelih tadinya.

Meskipun modelnya seperti sesajen, tapi ini tidak dianggap sebagai berhala. Pada umumnya, pemimpin doa akan membacakan ayat-ayat suci Alquran dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wujud rasa syukur.

Baca juga: Ziarah ke Makam KH. Noer Ali, Ini yang Diperjuangkan Emil

Sementara itu, penjaga makam Datuk Ri Paggentungang, Daeng Ngitung saat ditemui Tagar menjelaskan, jika pemotongan hewan ternak seperti Kambing maupun Sapi di lingkungan Makam Datuk dengan nama Asli Srinaradireja bin Abd Makmur ini sudah menjadi pemandangan yang biasa.

"Mereka datang kesini hanya untuk berwashilah. Adapun melakukan pemotongan hewan seperti Kambing ataupun Sapi hal itu merupakan bentuk rasa syukur atau pelunas nazar," jelas Daeng Ngitung

Daeng Ngitung sedikit mengisahkan, jika Datuk Ri Paggentungang ini adalah ulama besar Sulawesi Selatan yang hidup pada abad ke 16 di zaman raja Gowa ke 14 yakni I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, yang merupakan Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam pada hari Jumat 22 September 1660.

Untuk diketahui, jika pemakaman Datuk Ri Paggentungang ini tidak terbuka untuk umum, hanya di khususkan warga Asli Desa Pagentungang saja. []

Baca juga

Berita terkait