Rektor IPB: Indonesia Harus Cetak SDM Trendsetter Perubahan

Rektor IPB Prof. Arif Satria, mengatakan pentingnya mengubah mental dan maindset pelajar atau mahasiswa menjadi pola pikir pembelajar.
Rektor IPB Prof. Arif Satria (Foto: skpm.ipb.ac.id)

Jakarta - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Arif Satria, mengatakan pentingnya mengubah mental dan maindset pelajar atau mahasiswa menjadi pola pikir pembelajar, pembelajar yang tangguh dan pembelajar yang lincah yang bisa adaptif terhadap perubahan. Karena itu, ia mengatakan pendidikan Indonesia harus mencetak orang-orang menjadi trendsetter perubahan.

Hal ini disampaikan Arif Satria dalam Webinar Nasional Pendidikan dengan mengambil tema “Wajah Baru Pendidikan di Era IR 4.0” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Senin, 11 Mei 2020.

Arif menambahkan saat ini perguruan tinggi harus mengubah metode belajar dari konvensional ke metode merdeka belajar di mana mahasiswa diberi kesempatan meramu paket belajar yang cocok untuk masa depannya.

“Sebelumnya perguruan tinggi seolah lebih tahu menentukan masa depan mahasiswa. Sekarang dalam merdeka belajar ini mahasiswa diberikan kesempatan untuk meramu kira-kira paket (mata kuliah) apa yang cocok untuk masa depannya. Karena itulah orang-orang yang harus kita siapkan adalah orang-orang yang bermental pembelajar, pembelajar yang tangguh dan pembelajar yang lincah yang bisa adaftif terhadap perubahan," katanya.

"Karena sekali lagi kalau kita tidak merespons perubahan selamanya kita akan dikendalikan perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus jadikan pendidikan Indonesia untuk mencetak orang-orang menjadi trendsetter perubahan,” kata Arif.

Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Korneles Galanjinjinay, menyampaikan bahwa salah satu alasan pelaksanaan Webinar tersebut adalah dalam rangka merespons situasi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan hingga akhirnya berimbas pada kekhawatiran terabaikannya beberapa sektor penting, seperti bidang pendidikan.

“Pandemi ini memang memaksa kita harus menggunakan teknologi untuk melanjutkan pembelajaran di sekolah. Tapi, sebenarnya bukan hanya karena pandemi ini juga, seharusnya ada atau tidak ada pandemi ini pemerintah sudah seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendukung modernisasi pendidikan kita karena kita akan masuk era baru, era revolusi industri keempat,” kata Korneles. 

Sementara itu, Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr Apolo Safanpo, yang juga hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya penanaman nilai dan pendidikan karakter bagi generasi muda. 

“Mereka (generasi muda) akan menjadi pelaku pelaku pembangunan di berbagai sektor pada masa depan. Oleh karena itu negara-negara di dunia sedang melaksanakan manajemen talent. Manajemen talent adalah pembimbingan, pendampingan, dan pengkaderan yang dilakukan pada generasi muda untuk dipersiapkan menjadi pemimpin di masa yang akan datang," ujarnya. 

Menurutnya, seseorang dipilih menjadi pemimpin itu bukan karena dia mengetahui segala sesuatu, bukan karena dia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan juga karena dia terampil punya kompetensi yang tinggi. 

"Seseorang dipilih menjadi pemimpin itu karena memiliki nilai-nilai universal, nilai-nilai kemanusiaan, dia selalu berlaku jujur dan adil menghargai orang lain, menghormati orang lain dan mempunyai nilai karakter yang baik. Oleh karena itu saya sekali lagi menggaris bawahi bahwa kita boleh saja terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena itu sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi semua itu harus dilakukan sekali lagi tanpa meninggalkan pendidikan karakter sebagaimana digariskan dalam konstitusi kita,” kata Apolo. 

Direktur Belmawa Kemendikbud RI, Prof Aris Junaidi menyampaikan bahwa dalam rangka menyambut Indonesia emas 2045 pemerintah melalui Kemendikbud telah mempersiapkan beberapa paket kebijakan menyangkut peningkatan SDM. Dalam penjelasannya, bahwa episode-episode yang dilakukan pemerintah sejauh ini telah berjalan, salah satunya tentang merdeka belajar yang membahas tentang ujian nasional.

Terkait dengan pembenahan SDM, Aris mengatakan sudah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024. "Khusus bidang pendidikan tinggi telah ditetapkan 7 poin, diantaranya adalah perguruan tinggi sebagai produsen Ipteknet, inovasi dan pusat keunggulan. Kemudian kerjasama perguruan tinggi, industri dengan pemerintah, peningkatan kualitas lulusan perguruan tinggi, pengembangan bidang keilmuan dan inovasi pembelajaran, pembiayaan pendidikan tinggi yang akan difokuskan pada peningkatan kualitas belanja APBN, dan perwujudan diferensiasi misi dan juga penguatan kelembagaan perguruan tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan dalam rangka menyambut IR 4.0, pemerintah melalui Kemendikbud telah melakukan reorientasi kurikulum dan juga student centre learning, cooperation, proses belajar bisa dimana-mana, dan general education.

“Kami sampaikan bahwa memang di era revolusi industri 4.0 ini, kita sejak tahun lalu menganjurkan untuk melakukan reorientasi kurikulum. Kemudian juga student center learning dan juga belajar itu bisa di mana-mana ya atau bisa di mana-mana untuk belajar dan juga general education yang sudah kita berikan hibah kepada beberapa PTN maupun PTS untuk menanggapi revolusi industri 4.0,” kata Prof Aris Junaidi.

Kabid Medkominfo PP GMKI, Benardo Sinambela, sebagai pemandu dalam webinar menyampaikan agar pemerintah tetap memperhatikan secara khusus keberlangsungan proses pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Menurutnya, keberlangsungan proses pembelajaran adalah tanggungjawab pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan, harus dijamin tetap berjalan agar tujuan pengembangan SDM terus terjadi meskipun situasinya sulit. 


Ia berharap kampus juga tidak lepas tanggungjawab dalam menjamin keberlangsungan proses transfer ilmu kepada mahasiswa karena menyerah pada situasi.

“Khusus untuk situasi terkini di tengah wabah Covid 19, kami giat mendorong supaya kampus juga terlibat bekerja sama dengan pemerintah memperhatikan mahasiswa dan perkembangannya, demi tercapainya tujuan pengembangan SDM. Jangan sampai kita juga terpuruk SDM-nya pasca Covid-19 ini karena ketidakcakapan kita dalam penanganan dan antisipatif," ujarnya. 

Menurutnya, semua kampus harus bisa menjamin pelaksanaan kuliah online, jangan lagi membebankan mahasiswa. "Artinya harus ada suplai sarana fasilitas atau media untuk mengikuti kelas online. Ini logis dilaksanakan, karena mereka sudah bayar uang kuliah dengan mahal dan di lain sisi aktifitas di kampus tidak ada. Otomatis ada selisih biaya dan konsekuensi dari tanggung jawab kampus adalah memastikan mahasiswa tetap mendapat pembelajaran meski metodenya harus online. Jika tidak, kampus bisa dinilai lepas tugas dan tanggungjawabnya sebagai institusi pendidikan,” kata Benardo. []


Berita terkait
Guru Besar IPB: Perkuat Fungsi Hutan Ibu Kota Baru
Guru Besar IPB Bambang Hero Saharjo menyampaikan tata ruang Ibu Kota Negara (IKN) baru harus mampu menguatkan fungsi hutan.
IPB dan PP GMKI Komitmen Lahirkan Petani Milenial
PP GMKI didampingi BPC GMKI Cabang Bogor bertemu Prof. Arif Satria selaku Rektor IPB membahas pentingnya petani milenial.
IPB Jelaskan Gejala Hewan Terinfeksi Virus Corona
Kepala Rumah Sakit Hewan Pendidikan Institut Pertanian Bogor (IPB) Deni Noviana menjelaskan gejala hewan yang terinfeksi virus corona (Covid-19).
0
Sandiaga Uno: Tak Hanya Work From Bali, Bisa Juga Ada Work From Lombok
Berikut jawaban lengkap Menparekraf atas pertanyaan, apakah kebijakan Work From Bali bisa diterapkan di daerah destinasi prioritas wisata lainnya.