Rasisme Secara Struktural dan di Masyarakat Jerman Bisa Jadi Ancaman Terhadap Demokrasi

Laporan tahunan pemerintah Jerman menyoroti masalah rasisme struktural dan rasisme sehari-hari dalam masyarakat Jerman
Komisaris antirasisme Reem Alabali-Radovan memperkenalkan laporan tahunan rasisme di Jerman. (Foto: dw.com/id - Christian Ditsch/epd-bild)

TAGAR.id - Laporan tahunan pemerintah Jerman menyoroti masalah rasisme struktural dan rasisme sehari-hari dalam masyarakat Jerman. Pejabat antirasisme menyatakan masalah itu telah diabaikan selama bertahun-tahun. Elizabeth Schumacher melaporkannya untuk DW.

"Rasisme bukanlah konsep abstrak, tetapi kenyataan yang menyakitkan bagi banyak orang di masyarakat kita," kata Reem Alabali-Radovan, komisaris antirasisme Jerman pada hari Rabu, 11 Januari 2023, saat menyampaikan laporan tahunan pemerintah tentang rasisme.

"Ini adalah ancaman besar bagi demokrasi, karena menyerang warga dan martabat kemanusiaan mereka, yang dijamin oleh konstitusi Jerman-Gundgesetz,” lanjutnya.

Reem Alabali-Radovan adalah pejabat pertama yang mengisi jabatan komisaris untuk antirasisme yang baru saja dibentuk. Laporan tahunan pemerintah yang dirilis juga merupakan laporan tahunan pertama.

Dia menekankan perlunya dukungan yang lebih baik bagi mereka yang terkena dampak rasisme, dan pengakuan yang lebih besar terhadap adanya rasisme sehari-hari dan rasisme struktural di Jerman, setelah "masalah ini selama bertahun-tahun diabaikan".

Laporan tentang rasisme dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dalam kajian rasisme dan sebagai "presentasi rasisme komprehensif pertama di Jerman," kata Reem Alabali-Radovan.

Kantor komisaris antirasisme menyusun laporan tahunannya dari kajian-kajian dan studi representatif yang dilakukan oleh organisasi lain, seperti Nationaler Diskriminierungs- und Rassismusmonitor (NaDiRa), yang melakukan 5.000 wawancara telepon tentang topik rasisme.

Reem Alabali-Radovan
Komisaris antirasisme pertama Jerman, Reem Alabali-Radovan. (Foto: dw.com/id - Malte Ossowski/Sven Simon/picture alliance)

Rasisme bukan hanya kebencian dan kekerasan

Jerman belum memiliki standar definisi hukum tentang rasisme, jadi laporan tahunan tersebut menggunakan definisi yang ditetapkan dalam studi pemerintah tahun 2021 tentang integrasi, yang menyebutkan bahwa rasisme adalah "keyakinan dan praktik yang didasarkan pada devaluasi dan eksklusi sistematis terhadap kelompok populasi tertentu, yang secara biologis atau budaya dikaitkan dengan karakteristik dan perilaku yang dianggap lebih rendah dan tidak dapat diubah".

Dalam sambutannya ketika memperkenalkan laporan tahunan itu, Reem Alabali-Radovan mengingatkan bahwa rasisme tidak hanya menampilkan dirinya sebagai "kebencian dan kekerasan", tetapi juga misalnya dalam agresi kecil yang rutin, pengucilan dari pasar tenaga kerja dan penyewaan rumah, dalam kebrutalan polisi dan diskriminasi di sekolah-sekolah.

Laporan itu sendiri menekankan perlunya memisahkan isu-isu yang sebelumnya sering disamaratakan, sehingga merugikan upaya untuk melawannya — seperti misalnya menyamakan rasisme dan xenofobia.

Memang, dalam satu survei, kantornya mencatat, "sepertiga responden mengatakan bahwa imigrasi Muslim ke Jerman harus dibatasi, dan 27% mengatakan bahwa terlalu banyak Muslim yang tinggal di Jerman."

Studi tersebut juga mencatat masalah diskriminasi terhadap warga Jerman keturunan Asia, terutama sejak pandemi Covid-19. Sekitar separuh dari 700 orang Jerman Asia yang disurvei mengatakan, mereka pernah mengalami rasisme yang berhubungan langsung dengan persepsi yang salah tentang pandemi.

Laporan yang lama ditunggu dan sangat dibutuhkan

Kelompok yang menghadapi permusuhan paling terbuka, kata laporan itu, adalah mereka yang berlatar belakang Sinti dan Roma. "Sekitar 29% penduduk...mengaku menyimpan antipati terhadap kelompok-kelompok ini. Hasil ini, mengingat genosida terhadap Sinti dan Roma [selama Holocaust], lebih dari mengkhawatirkan."

Dengan mempertimbangkan masalah ini, Reem Alabali-Radovan mengumumkan, kantornya berencana menerapkan langkah-langkah berikut di tahun mendatang: memperkuat layanan konseling berbasis komunitas, memastikan layanan ini terhubung dengan lebih baik satu sama lain, membuat panel ahli untuk menyarankan prinsip antirasisme dalam kebijakan pemerintah, termasuk membuat definisi hukum tentang rasisme, memperketat undang-undang melawan ujaran kebencian di internet, dan memastikan bahwa para pemimpin di tingkat negara bagian, kota, dan lokal lebih terlibat dengan program antirasisme.

Komisioner Anti-Diskriminasi Federal Jerman Ferda Ataman menyambut baik laporan itu sebagai "sinyal yang lama ditunggu dan sangat dibutuhkan."

"Ini adalah pertama kalinya pemerintah menegaskan bahwa memerangi rasisme harus menjadi prioritas utama," katanya. "Laporan itu menunjukkan: rasisme tetap menjadi masalah di Jerman." (hp/as)/dw.com/id. []

Berita terkait
Apakah Kritik Terhadap Piala Dunia Qatar 2022 Bersifat Rasisme?
Kritik terhadap Qatar yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 semakin hari semakin semakin keras terdengar
0
Rasisme Secara Struktural dan di Masyarakat Jerman Bisa Jadi Ancaman Terhadap Demokrasi
Laporan tahunan pemerintah Jerman menyoroti masalah rasisme struktural dan rasisme sehari-hari dalam masyarakat Jerman