UNTUK INDONESIA

Punya Catatan Negatif, Kans Nana Sudjana Jadi Kapolri Kecil

Stanislaus Riyanta menilai peluang Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana menggantikan posisi Idham Azis sebagai Kapolri, semakin kecil.
Analis Terorisme dan Intelijen, Stanislaus Riyanta. (Foto: Tagar/Dokumen Stanislaus)

Jakarta - Pengamat Sosial Politik, Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta menilai peluang mantan Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana menggantikan posisi Jenderal Idham Azis menjadi Kapolri, semakin kecil.

Hal itu mengingat pencopotan Nana dari jabatannya karena dianggap ceroboh membiarkan kerumunan massa Habib Rizieq Shihab melaksanakan Maulid Nabi dan acara pernikahan putri Imam Besar Front Pembela Islam (FPI).

Tentu yang dipilih yang tidak punya catatan negatif, jadi peluang (Nana Sudjana) yang punya catatan negatif semakin kecil

"Kader yang dipilih seharusnya yang benar-benar kompeten dan bersih dari berbagai catatan negatif. Pencopotan dari jabatan apalagi dipublikasikan karena soal kinerja adalah catatan negatif," kata Stanislaus dihubungi Tagar, Selasa, 17 November 2020.

Dia berpandangan, akibat adanya catatan negatif itu, peluang Nana untuk menggantikan Idham Azis sudah tidak ada lagi.

"Tentu yang dipilih yang tidak punya catatan negatif, jadi peluang (Nana Sudjana) yang punya catatan negatif semakin kecil," ujarnya.

Di kesempatan yang lain, Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menilai pencopotan Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana dari jabatan Kapolda Metro Jaya berkaitan dengan dua hal. Pertama, lantaran Nana dianggap ceroboh membiarkan kerumunan massa Habib Rizieq Shihab.

"Kedua, pencopotan Kapolda Metro bagian dari manuver persaingan dalam bursa calon Kapolri. Di mana, Kapolda Metro sebagai salah satu calon kuat dari 'Geng Solo'. Sehingga kecerobohan itu di manfaatkan sebagai manuver dalam persaingan bursa calon Kapolri," ujar Neta saat dikonfirmasi, Selasa, 17 November 2020.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Idham Azis memindahtugaskan dua anak buahnya yang dinilai melakukan kesalahan fatal, lalai dalam menjalankan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19.

Sanksi berupa pencopotan jabatan diberikan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi

Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pencopotan dilakukan sesuai dengan telegram bernomor ST/322/XI/Kep/2020 tertanggal 16 November tentang pemberhentian dan pengangkatan jabatan di lingkungan Polri.

Posisi Nana di Polda Metro Jaya digantikan Irjen Fadil Imran yang sebelumnya menjabat Kapolda Jawa Timur. Lalu Nana dimutasi menjadi Kors Ahli Kapolri.[]

Berita terkait
Sidkon Djampi Sebut Pencopotan Kapolda Jabar Wajar
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Umat (PKB) DPRD Jawa Barat, Sidkon Djampi mengatakan pencopotan Kapolda Jabar hal wajar.
Kapolda Jatim Baru Pernah Menangani Kasus Ratna Sarumpaet
Tampuk kepemimpinan di Polda Jatim berganti. Irjen Fadhil Imran dimutasi menjadi Kapolda Metro Jaya, penggantinya adalah Irjen Nico Afinta.
Pencopotan Dua Kapolda dan Mutasi Besar-besar Pejabat Polri
Kadiv Humas Polri Irjen Raden Prabowo Argo Yuwono: ada dua Kapolda yang dicopot karena alasan tertentu namun ada mutasi besar-besaran juga.
0
Punya Catatan Negatif, Kans Nana Sudjana Jadi Kapolri Kecil
Stanislaus Riyanta menilai peluang Inspektur Jenderal (Irjen) Nana Sudjana menggantikan posisi Idham Azis sebagai Kapolri, semakin kecil.