Presiden Prabowo: 4 kali Saya Kalah, tapi Saya Tak Ganggu Pemimpin yang Dapat Mandat

Prabowo mengatakan, bangsa Indonesia harus bisa saling mendukung satu sama lain. Terlebih, dunia kini sedang menghadapi ketidakpastian.
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Tagar/Dok ist)

TAGAR.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menghadiri Sarasehan Kebangsaan bersama 2.600 rektor, dekan, dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS) seluruh Indonesia di JCC, Jakarta, Jumat (26/6)

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan, bangsa Indonesia harus bisa saling mendukung satu sama lain. Terlebih, dunia kini sedang menghadapi ketidakpastian.

"Kita lihat apa yang terjadi di Gaza, di Palestina, di Lebanon, 90 persen dari Gaza rata. Mungkin sama akibatnya dengan Hiroshima atau Nagasaki. Lebanon sekarang seperti itu, Iran, seluruh negara teluk, Yaman. Kita tinggal lihat tiap hari. Perang di Afghanistan, perang di Baluchistan, perang di Myanmar semakin ... Perang antara orang Thailand dan Kamboja. Saudara-saudara, di tengah ini semua, kuncinya adalah antara lain elite yang tidak bisa kerja sama," ujar Prabowo.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menceritakan sudah kalah empat kali dalam kontestasi pemilihan umum (Pemilu). Ia menyebut, saat kalah, tidak pernah mengganggu pemimpin yang menang.

"Saya sebagai pemimpin politik, saya dipilih secara demokratis. Saya maju ke rakyat lima kali minta mandat. Empat kali tidak diberi mandat. Empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat," ucap Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan Prabowo pun disambut tepuk tangan. Kemudian ia menyampaikan terima kasih. Sebab, kata Prabowo, biasanya ketika ia bercerita mengenai kalah empat kali, hadirin merespons dengan tertawa.

"Terima kasih (sudah tepuk tangan). Karena biasanya kalau saya bilang empat kali kalah, audiens ketawa. Ini orang Indonesia itu kalah itu sedih sebetulnya. Tapi karena saya sadar, saya mengerti alternatifnya apa. Karena kita sudah sepakat, bangsa Indonesia sudah sepakat kita ingin hidup sebagai negara di mana kedaulatan rakyat yang berkuasa," ucap dia.

Oleh karena itu, Prabowo tidak ingin demokrasi Indonesia gaduh. Perbedaan pendapat juga tidak masalah, tapi Prabowo ingin agar tidak terjadi kegaduhan.

"Jadi kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi, demokrasi wujudnya adalah pemilihan. Kita mengerti, kita mungkin tidak puas tapi alternatifnya apa? Apakah kita mau gaduh? Habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut, yang kalah ribut," kata Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan, orang pintar seharusnya bisa mengabdikan diri untuk bisa membantu masyarakat paling miskin keluar dari kesusahan.

"Kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita? Bukankah itu kewajiban kita sebagai anak bangsa, sebagai pemimpin, sebagai orang terpintar di negara ini? Bukankah itu segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah? Bukankah itu?" tandas dia.

Berita terkait
Prabowo: Saya Tetangga Keluarga Gus Dur, Eyang Putri Saya dari NU
Presiden Prabowo Subianto mengaku nyaman berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU).
Presiden Prabowo ke Gorontalo, Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII
Prabowo Subianto bertolak ke Provinsi Gorontalo untuk menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII, Rabu (24/6).
Soal Prabowo Panggil Purbaya-Bahlil di Minggu Malam, Seskab Teddy: Terima Laporan
Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri hingga kepala badan Kabinet Merah Putih ke kediamannya di Kertanegara.