Popularitas Biden Anjlok Karena Krisis Afghanistan Hanya Sementara

Apakah opini publik akan merugikan kepresidenan Biden dan prospek Partai Demokrat, terutama menjelang pemilihan sela pada November 2022
Ilustrasi: Evakuasi warga di bandara Kabul, Afghanistan kacau karena banyaknya warga yang ingin keluar dari negara itu (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Jakarta – Pasca pengambilalihan kekuasaan pemerintahan yang mengejutkan di Afghanistan, popularitas Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, anjlok dari rata-rata 54% jadi 48% minggu lalu. Ini menurut lembaga polling FiveThirtyEight. Apakah opini publik akan merugikan kepresidenan Biden dan prospek Partai Demokrat, terutama menjelang pemilihan sela pada November 2022? Jimmy Manan melaporkannya untuk VOA.

Pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok Taliban berlangsung dalam waktu yang sangat singkat di Kabul. Peristiwa itu dan kekacauan dalam proses penarikan pasukan dan warga Amerika keluar dari Afghanistan spontan mencemarkan reputasi pemerintahan Biden yang cemerlang sejauh ini. Namun, Gedung Putih yakin, masyarakat Amerika memahami bahwa penarikan pasukan Amerika dari Afghanistan memang benar-benar diperlukan.

presiden AS joe bidenPresiden AS, Joe Biden, menegaskan bahwa pemerintah AS akan mengevakuasi semua warga AS dari Afghanistan, di Gedung Putih, 20 Agustus 2021 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Pada Mei 2021 lalu, jajak pendapat oleh Quinnipiac memperoleh temuan, 62% rakyat Amerika menginginkan Amerika keluar dari Afghanistan, dan hanya 29% yang menginginkan sebaliknya.

Selain itu, pemerintahan Biden yakin, warga Amerika merasa lebih mantap bahwa presiden mereka yang dalam kampanyenya pada 2020 berjanji mengakhiri “perang yang tidak ada ujungnya,” benar-benar memenuhi janjinya.

VOA menghubungi Dr Suzie Sudarman. Pengajar di Fakultas Sosial Politik dan Direktur Pusat Studi Amerika, Universitas Indonesia, itu mengatakan, "Kuncinya adalah House Democrats (anggota DPR AS fraksi Demokrat) clear the path toward passing 3.5 trillion-dollar budget bill and infrastructure plan after breaking stalemate (meloloskan UU Anggaran senilai 3,5 Triliun dan rencana infrastruktur). Itu yang ditunggu bangsa Amerika, nanti dia (warga AS) lupa dengan isu foreign policy (kebijakan luar negeri) sebetulnya."

Ditambahkan oleh Sudarman, popularitas Biden turun sesaat karena pencitraan di media televisi.

"Ini kan hanya karena mereka, bleeding heart liberals (kelompok liberal), kalau melihat orang Afghanistan kesulitan itu kan jadi mem-blame (menyalahkan) pemerintahnya. Tapi America business is business, for average Americans (bisnis adalah bisnis bagi kebanyakan warga Amerika), I think this trillion-dollar bill yang akan keluar, sekalipun mereka berdarah-darah itu akan jadi clear path for a resurgence of an American economy (kalau RUU anggaran senilai 3,5 triliun dolar AS lolos maka akan membangkitkan ekonomi AS)."

Jurnalis Afghanistan di lokasi penyerangan,Jurnalis Afghanistan di lokasi penyerangan, Afghanistan, Senin, 18 Januari 2010 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

VOA juga menghubungi Dewita Soehardjono, mantan ketua Democratic Asian Americans of Virginia (kelompok warga AS keturunan Asia pendukung Demokrat di Virginia). Dia sependapat dengan apa yang disampaikan Suzie Sudarman bahwa terpuruknya popularitas Biden merupakan fenomena yang tidak akan berlangsung lama.

"Saya kira semakin banyak orang mengerti the real situation di Afghanistan, mereka akan membela Biden. Presiden Biden tidak mengambil keputusan berdasarkan poll, tetapi apa yang terbaik untuk masyarakat Amerika. Jadi kita harus keluar, ngapain kita di situ nggak ada urusannya kok. Betul Biden bilang, we have no business being there (kita tidak ada kepentingan untuk terus berada di Afghanistan), nation building, nggak bisa. Ya hanya sementara (popularitasnya terpuruk)," ujarnya.

Perang di Afghanistan sudah berkecamuk selama 20 tahun tanpa ada tanda-tanda akan segera berakhir. Mulai dari Presiden George W. Bush, Presiden Obama, dan Presiden Trump, tidak ada pemimpin yang berani mengambil tindakan tegas untuk mengakhirinya.

Anggota tim robotika perempuan AfghanistanAnggota tim robotika perempuan Afghanistan tiba dari Provinsi Herat untuk menerima visa dari kedutaan AS, di Bandara Internasional Hamid Karzai, di Kabul, Afghanistan, Kamis, 13 Juli 2017 (Foto: voaindonesia.com - AP/Rahmat Gul)

Dari sudut pandang itu, Presiden Biden telah menunjukkan keberanian dan tekad untuk mengakhiri perang tak berkesudahan ini, dan kini dia hendak memusatkan perhatian pemerintah pada masalah domestik, serta memulihkan daya saing Amerika melalui dua paket investasi yang sangat besar, yakni paket infrastruktur bernilai 1 triliun dolar AS, dan paket program sosial atau yang disebut RUU rekonsiliasi bernilai 3,5 triliun dolar AS (jm/ka)/voaindonesia.com. []

Biden Pertahankan Keputusan Tarik Militer Dari Afghanistan

Biden Sebut Afghanistan Harus Tentukan Masa Depannya Sendiri

Biden Sebut Amerika Tidak Akan Kirim Generasi Lain ke Afghanistan

Militer AS Tinggalkan Ribuan Mobil di Pangkalan Udara Bagram Afghanistan

Berita terkait
Biden Hadapi Badai Politik Terkait Penarikan Pasukan Dari Afghanistan
Biden berusaha melewati badai politik pasca penarikan pasukan AS dari Afghanistan yang menimbulkan kekacauan
0
Popularitas Biden Anjlok Karena Krisis Afghanistan Hanya Sementara
Apakah opini publik akan merugikan kepresidenan Biden dan prospek Partai Demokrat, terutama menjelang pemilihan sela pada November 2022