UNTUK INDONESIA
Petinggi Palestina Tertular Virus Corona Kritis di Israel
Seorang pejabat tinggi Palestina, Saeb Erekat, dalam kondisi kritis setelah tertular virus corona dirawat di rumah sakit di Israel
Saeb Erekat menjalani transplanasi paru-paru tiga tahun lalu, kondisi yang membuatnya rentan atas Covid-19 (Foto: bbc.com/indonesia - Reuters).

Jakarta - Seorang pejabat tinggi Palestina yang juga dikenal sebagai juru runding, Saeb Erekat, dalam kondisi kritis setelah tertular virus corona dan dirawat dengan bantuan ventilator, seperti dikabarkan oleh rumah sakit di Israel, tempat dia dirawat.

Erekat yang berusia 65 tahun dilarikan ke rumah sakit Hadassah di Yerusalem dari rumahnya di Jericho, Tepi Barat, kawasan yang diduduki Israel. Kondisinya digambarkan "serius tapi stabil" dan dia diberi oksigen tambahan.

Hari Senin pagi, 19 Oktober 2020, rumah sakit mengatakan kondisi Erekat memburuk dan "kini disimpulkan dalam kondisi kritis." "Karena kesulitan bernafas, ia ditempatkan dengan bantuan ventilator dan secara medis dibuat koma," kata rumah sakit.

Rumah sakit yang merawat Erekat mengatakan kondisinya "merupakan tantangan besar" karena ia pernah menjalani transplantasi paru-paru tiga tahun lalu dan memiliki "sistem kekebalan lemah serta mengalami infeksi bakteri, selain terkena virus corona."

Erekat adalah sekretaris jenderal Organisasi Pembebasan Palestina, PLO, dan menjabat sebagai penasihat Presiden Mahmoud Abbas dan menjadi juru runding Palestina selama sekitar 25 tahun. Ia mengumumkan tanggal 9 Oktober 2020 bahwa ia dinyatakan positif terkena Covid-19.

Melalui cuitannya ia mengatakan bahwa ia mengalami "gejala berat karena kurangnya kekebalan akibat transplantasi paru". Namun, ia menambahkan bahwa "semuanya terkendali. Alhamdulilah."

Hari Minggu, 18 Oktober 2020, PLO mengatakan ia dipindahkan ke Hadassah Medical Centre karena "masalah kronis yang ia hadapi dalam sistem pernapasan."

Para saksi mata mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa mereka melihat Erekat dipandu ke luar rumahnya di Jericho, dan ditempatkan di ambulans Israel. Sedangkan saudara kandung laki-lakinya mengatakan kepada kantor berita AFP, "Kondisinya tidak bagus."

Direktur Hadassah Medical Centre, Prof Zeev Rothstein, mengatakan, "Erekat mendapat perawatan profesional utama seperti halnya pasien serius virus corona di Hadassah, dan staf akan melakukan apapun untuk membantu pemulihannya." "Di Hadassah, kami merawat setiap pasien, seolah dia adalah pasien satu-satunya," tambahnya.

Sejak pandemi terjadi, lebih dari 58.000 orang dipastikan terinfeksi virus corona di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serta Jalur Gaza, dan 478 orang meninggal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara Israel mengumumkan lebih dari 303.000 kasus dan 2.209 orang meninggal. Pemerintah Israel melonggarkan karantina nasional kedua yang diterapkan selama satu bulan, setelah memastikan ada penurunan kasus.

Warga Israel kini diizinkan untuk keluar rumah lebih dari satu kilometer untuk membeli keperluan penting. Restauran telah dibuka untuk menerima pesanan. Pantai dan taman nasional juga telah dibuka untuk pengunjung.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Kamis, 15 Oktober 2020, langkah yang diambil "berhasil" namun mengatakan langkah membuka pembatasan wilayah perlu dilakukan "bertahap, berhati-hati dan bertanggung jawab." (bbc.com/indonesia). []

Berita terkait
Israel Menduga, Virus Corona Senjata Biologi China
Seorang mantan intel Israel menduga wabah virus corona terkait senjata biologi di China. Ia mencurigai laboratorium virus Wuhan Institute biangnya.
0
Soal Survey Indikator, DPR: Catatan Buruk Kinerja Pemerintah
Anis menegaskan bahwa ketidakberhasilan pemerintah mencapai target-target ekonominya menjadi catatan tidak baik terhadap kinerja pemerintah.