UNTUK INDONESIA
Pesta Asian Games, Beli Gorengan Kaki Lima Gunakan Nontunai
Pesta Asian Games, beli gorengan kaki lima gunakan nontunai. Pengunjung atau konsumen jangan harap bisa menggunakan uang tunai untuk bertransaksi meski nilainya cuma Rp 5.000.
Salah satu sudut PKL di lokasi Asian Games 2018, Senayan, Jakarta. (Foto: Ant/A Malik Ibrahim)

Jakarta, (Tagar 19/8/2018) – Kehadiran pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta tempat menjajakan berbagai macam aneka makanan kecil khas Indonesia, merupakan lokasi yang patut dikunjungi pada momen Asian Games 2018.

Beraneka ragam makanan dari berbagai daerah banyak dijual pelapak di kawasan itu. Bahkan, lapak mereka bisa menjadi salah satu lokasi kunjungan favorit bagi masyarakat, ofisial serta atlet yang sedang bertanding atau hanya untuk sekadar untuk jalan-jalan.

Namun demikian ada hal berbeda dibanding PKL di tempat lain. Pengunjung atau konsumen jangan harap bisa menggunakan uang tunai untuk bertransaksi meski nilainya kecil, yakni Rp 5.000, karena ratusan lapak atau kios telah dilengkapi mesin pembayaran nontunai.

Aep, Koordinator Unit II Bisnis Pengembangan dan Minuman Kawasan Senayan Aep mengakui, penggunaan transaksi nontunai di area pelaksanaan Asian Games 2018 hukumnya wajib, dan hal itu tidak hanya untuk tiket melainkan juga bagi semua lapak atau kios dan sekecil berapa pun nilai transaksinya.

"Kami memang diwajibkan setiap transaksi menggunakan nontunai, sehingga pengunjung ketika membeli apa pun wajib menggunakan transaksi nontunai atau debit," kata Aep ditemui di kawasan Senayan, Sabtu (18/8).

Aep mengatakan, ada sebanyak 220 kios yang terdiri atas kios sponsorship serta kios PKL hasil binaan koperasi kawasan Senayan yang mangkal atau beroperasi.

Untuk kios binaan koperasi, diakui Aep, awalnya memang sulit menerapkan transaksi nontunai karena selama ini terbiasa menggunakan uang tunai. Bahkan beberapa pedagang dan pembeli sempat merasa kebingungan dalam penggunaannya.

"Masak beli segelas kopi dan gorengan di lapak PKL harus menggunakan debit mas, kan susah," kata Aep, menirukan beberapa pedagang yang awalnya enggan menggunakan transaksi nontunai.

Untuk mengatasi hal itu, Aep mengaku telah melakukan pelatihan sehari sebelumnya, sehingga saat ini beberapa pedagang sudah terbiasa, meski masih ada beberapa pedagang lainnya yang mengaku bingung dalam penggunaannya.

Aep mengatakan, ada tiga bank BUMN yang secara langsung mendukung pelaksanaan pembayaran nontunai di kawasan Senayan, yakni BNI, BRI, dan Bank Mandiri.

Ketiga bank BUMN itu, kata dia, memberi fasilitas mesin pembayaran nontunai kepada pedagang sebanyak 100 mesin untuk dibagikan setiap unitnya melalui koordinasi Unit II Bisnis Pengembangan dan Minuman Kawasan Senayan.

"Ribet"

Rohman, salah satu pedagang, mengakui awalnya penggunaan transaksi nontunai cukup "ribet" atau menyulitkan bagi dirinya dan pedagang lainnya, sebab harus mengerti dan bisa mengoperasikan sistem yang ada pada alat pembayaran perbankan.

Meski awalnya ribet, namun setiap pedagang kini mengaku cukup senang karena keuntungannya tidak ada beban membawa uang tunai, serta tanpa harus memikirkan kembalian pada setiap transaksi, sebab setiap perbankan juga tidak menerapkan batasan minimal transaksi di lokasi itu.

Di kawasan Senayan, ada beberapa titik yang menjadi lokasi atau tempat pedagang menjajakan dagangannya pada momen Asian Games 2018 yang digelar dari 18 Agustus hingga 2 September 2018 di Jakarta dan Palembang.

Sebelumnya, Vice Director Revenue Inasgoc Mochtar Sarman mengatakan acara Asian Games 2018 juga melibatkan 23 perusahaan yang tujuh di antaranya perusahaan UMKM sebagai pemasok merchandise atau produk resmi Asian Games 2018.

"Produk yang diperlukan banyak sekali mulai dari sepatu, pakaian, suvenir, boneka, makanan dan minuman. Ini semua perlu diperhatikan dari berbagai sisi termasuk kualitas karena ini sebuah kesempatan kita untuk bisa mengekspor produk," kata dia.

Asian Games bisa menjadi kesempatan bagi UKM untuk belajar banyak hal termasuk soal tren.
"Kita memberikan masukan-masukan soal tren karena target kita kan milenial, jadi kita harus membuat produk yang instagramable sebab sosial media itu juga berperan penting," ujarnya.

Dia berharap para pelaku UMKM mau belajar untuk memperhatikan kualitas dan kontinuitas produknya khususnya untuk acara Asian Games 2018 dengan target pasar milenial yang menyukai produk-produk yang trendi.

"Ini event terbesar kedua setelah olimpiade, kalau dihitung dari jumlah peserta justru lebih besar," ucapnya.

Dukung GNNT

Penggunaan transaksi nontunai di setiap lapak atau gerai UMKM Asian Games 2018 merupakan upaya panitia olahraga terbesar se-Asia itu untuk mendukung Gerakan Nasional Nontunai (GNNT) yang merupakan kebijakan pemerintah.

Kebijakan itu, sebelumnya dilaksanakan melalui Bank Indonesia sejak Agustus 2014, tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen nontunai.

Deputi Direktur Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Susiati Dewi mengatakan, penggunaan GNNT bisa membuat transaksi lebih hemat, efektif dan efisien serta aman.

Dia mengatakan, GNNT sudah menggema dan merambah 24 kota dengan total sekitar 1,2 juta orang yang telah menggunakan transaksi nontunai melalui kartu kredit, kartu ektronik dan sejenisnya.

Gerakan ini, diharapkan pada 2024 bisa menjangkau 25 persen dari jumlah penduduk Indonesia, sehingga bisa menghemat uang negara.

"Pertumbuhan uang kartal masih 18 persen dibandingkan tahun lalu. Namun, jika tidak ada GNNT mungkin bisa lebih dari itu," ucapnya. (A Malik Ibrahim/ant)

Berita terkait
0
Jalan Tol Yogyakarta-Cilacap Mendesak Dibangun
Pemda DIY berharap jalan tol Yogyakarta-Cilacap bisa dibangun 2020. Keberadaan tol tersebut bisa mendongkrak ekonomi masyarakat setempat.