UNTUK INDONESIA
Perdebatan Soal Patung Tokoh di Amerika Serikat
Patung beberapa tokoh yang dibangun di Amerika Serikat disebut sebagian terkait dengan perbudakan dan kolonialisme
Patung Christopher Columbus di kota Boston tampak dirusak sehingga menjadi tanpa kepala (Foto: ilustrasi - voaindonesia.com/AP).

Jakarta - Di Amerika Serikat (AS) sedang terjadi perdebatan tentang patung-patung yang sebelumnya dibangun untuk mengenang tokoh-tokoh sejarah. Sebagian di antaranya dihormati sebagai pahlawan yang membantu membangun Amerika. Tetapi sejumlah pihak mengatakan keterlibatan mereka dalam perbudakan dan kolonialisme mencemari warisan yang mereka tinggalkan.

Debat yang berlangsung di tingkat nasional tentang apa yang harus dilakukan pada patung-patung yang oleh sebagian warga dinilai sebagai warisan budaya, tetapi oleh lainnya dinilai sebagai pengingat yang menyakitkan atas penindasan yang pernah terjadi.

Sebagian besar perdebatan dipusatkan di kawasan Selatan, di mana tugu-tugu peringatan Konfederasi telah digulingkan atau dirusak, dan dalam beberapa kasus, dipindahkan oleh pihak berwenang. Ada yang mengatakan patung-patung itu menghormati warisan setempat, sementara lainnya melihat keberadaan patung-patung itu sebagai perayaan perbudakan dan masa lalu yang rasis.

Di New York, sebagian warga mengatakan patung Presiden Theodore Roosevelt harus dipindahkan karena merendahkan penduduk asli Amerika dan warga Amerika keturunan Afrika.

patung RooseveltPatung Presiden Theodore Roosevelt harus dipindahkan dari Manhattan, New York karena khawatir akan dirusak (Foto: voaindonesia.com/Reuters).

Sasaran lain adalah Columbus, penjelajah Italia yang menemukan benua Amerika dan membukanya sebagai wilayah penjajahan Eropa, dan menurut para pengecam telah menghancurkan komunitas penduduk asli Amerika. Perdebatan ini telah menimbulkan perselisihan di antara warga Amerika keturunan Italia yang memuji Columbus dengan mereka yang menghormati keberadaan penduduk asli Amerika yang ditaklukannya.

Bagaimana dengan tokoh-tokoh lain dari sejarah, politik dan kebudayaan? Orang seharusnya memutuskan hal ini, ujar warga San Fransisco, Jordan Schneider. “Ini tindakan langsung. Tindakan langsung lebih efektif dibanding melewati banyak proses demokratik. Ini pembangkangan sipil.”

Sasaran lain lebih membingungkan. Misalnya patung Miguel de Cervantes, penulis Spanyol yang dihormati, yang ditangkap oleh bajak laut dan kemudian menjadi budak selama lima tahun. Patungnya di San Francisco dirusak, namun masih tetap ada.

Sasaran lain adalah patung Junipero Serra, misionaris Spanyol abad ke 18 yang warisannya dihormati oleh umat Katholik-Hispanik, tetapi dikecam oleh banyak penduduk asli Amerika.

tulisan rasisTulisan "racista" (rasis) tampak di bawah patung Junipero Serra di Palma de Mallorca, Spayol (Foto: dok - voaindonesia/Reuters).

Rudy Ortega, anggota Fernandeno Tataviam band of Mission Indians mengatakan, “Junipero adalah penyebab berkurangnya jumlah penduduk asli, hilangnya bahasa, budaya dan agama kami.”

Ortega mengatakan banyak anggota suku memiliki latar belakang campuran Hispanik dan penduduk asli, jadi tidak semua menyetujui hal ini. Ruben Mendoza, seorang ilmuwan yang juga keturunan campuran di California State University, mengatakan kasus Junipero menunjukkan kerumitan masalah ini. “Sungguh menyakitkan saya ketika orang-orang di komunitas saya, keturunan asli dan Hispanik, atau biasa disebut 'mestizaje' – atau warisan saya, percampuran budaya kami; lalu melihat satu bagian atau bagian lain dari warisan itu sebagai sesuatu yang akan dikecam keras. Saya telah mengabdikan seluruh hidup saya untuk mencoba mendamaikannya, dan dalam satu momen ini saya benar-benar merasa terkoyak.”

Setiap generasi harus mengkaji kembali pahlawan-pahlawannya, baik itu Columbus, Junipero Serra, atau presiden-presiden Amerika, ujar pemimpin suku asli Rudy Ortega.

“Kita yang membuat sejarah, begitu juga yang terjadi 100 tahun dari sekarang, orang akan membaca buku-buku teks dan mengatakan 'ini yang dilakukan orang-orang supaya dapat hidup lebih baik di Amerika' untuk memastikan lebih banyak keterbukaan,” tambahnya. Namun ia ingin proses pembuatan keputusan berlangsung tertib.

Profesor Mendoza mengatakan para pengecam seringkali tidak mengetahui banyak hal tentang sejarah. “Mari berharap agar siapa pun yang melakukan hal ini tidak berada dalam posisi yang dihormati karena suatu hari nanti akan datang kelompok lain dan menodai makna apapun yang mereka sumbangkan pada masyarakat ini.”

Pengkajian ulang sejarah ini terus berlangsung, sementara warga bertanya “siapa yang seharusnya dihormati dalam bentuk monumen?” dan “siapa yang memutuskan?” Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab. (em/lt)/voaindonesia.com []

Berita terkait
Patung Presiden AS, Abraham Lincoln Mau Dirobohkan?
Demonstrans meminta pemerintah Amerika Serikat merobohkan patung Presiden ke-16, Abraham Lincoln yang dinilai ofensif terhadap isu rasisme.
0
220.000 Relawan Siap Menangkan Pradi-Afifah Pilkada Depok
Ada 2020 relawan yang siap menangkan Pradi-Afifah dalam Pilkada Kota Depok 2020.