Pemerintah memprediksi jumlah pemudik pada Lebaran 1446 Hijriah atau tahun 2025 ini akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan bahwa penurunan ini mencapai sekitar 24 persen dari jumlah pemudik tahun 2024 yang mencapai 193,6 juta orang. Kabiro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub, Budi Rahardjo, mengonfirmasi hal ini pada Sabtu (22/3) lalu.
Budi menjelaskan bahwa penurunan ini didasarkan pada hasil survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub bersama akademisi. Survei tersebut memperkirakan jumlah pemudik Lebaran 2025 akan mencapai 146,48 juta orang. Meskipun demikian, Budi menegaskan bahwa survei ini tidak mendalami penyebab penurunan tersebut, sehingga pihaknya tidak dapat memberikan alasan pasti mengenai hal ini.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, juga memprediksi bahwa sekitar 23 persen dari total pemudik akan menggunakan mobil pribadi. Arus puncak mudik diperkirakan terjadi pada 28 Maret 2025, meskipun ada kemungkinan pergeseran waktu karena kebijakan bekerja dari mana saja (WFA) atau kesepakatan fleksibel (flexible working arrangements).
Kepala Korlantas Polri, Irjen Agus Suryonugroho, menilai kebijakan WFA berpengaruh pada pergeseran waktu arus mudik yang lebih awal, mulai dari H-10 Lebaran atau Jumat (22/3). Data perlintasan jalan Tol Trans Jawa dan Sumatera menunjukkan peningkatan jumlah kendaraan, dengan catatan Jasa Marga mencatat 158 ribu kendaraan pada H-10 sampai H-7, naik 37,5 persen dibandingkan tahun lalu.
Sebanyak 603.658 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada H-10 sampai H-7 libur Idulfitri 2025, naik 11,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini mencerminkan kenaikan volume lalu lintas yang signifikan, menunjukkan dampak positif dari kebijakan WFA dalam meredistribusi arus mudik.