UNTUK INDONESIA
Pandemi, Milenial China Konsumen Terbesar Belanja Sex Toy
Pandemi Covid-19 membuat kebutuhan alat pemuas seks atau sex toy di China melonjak dengan nilai belanja mencapai US$ 15 miliar.
Manajer Li Hong berdiri di luar gerai sex toy-nya di Beijing. Pandemi Covid-19 membuat kebutuhan alat pemuas seks atau sex toy di China melonjak dengan nilai belanja mencapai US$ 15 miliar. (Foto: Tagar/AFP/Sex Toy di China).





Jakarta - Pandemi Covid-19 yang memaksa orang harus tinggal di rumah membuat kebutuhan alat pemuas seks atau sex toy di China melonjak. Belanja sex toy di Negeri Tirai Bambu mencapai hampir US$ 15 miliar. Yang mengejutkan, kalangan milenial menjadi salah satu konsumen terbesar.

Sebelumnya, saya merasa sedikit takut dan malu untuk memakai sex toy. Namun kemudian saya menemukan dunia baru.

Amy, wanita berusia 27 tahun yang masih lajang merasa tersiksa dengan kebijakan penguncian akibat pandemi. Ia tak bisa lagi keluar bertemu dengan teman-temannya membicarakan banyak hal termasuk untuk urusan seks.

Obrolan mereka pun beralih ke dunia maya. Dari obrolan online itu, mereka menemukan solusi saat gairah seks meningkat yaitu sex toy.

"Sebelumnya, saya merasa sedikit takut dan malu untuk memakai sex toy. Namun kemudian saya menemukan dunia baru," ucap Amy yang bukan nama sebenarnya seperti diberitakan dari Japan Times, Minggu, 18 Oktober 2020.

Cukup banyak wanita… yang aktif secara seksual memiliki sikap yang sangat terbuka terhadap penggunaan mainan seks.

Lajang dan terkunci dari kancah kencan Beijing oleh pandemi, Amy didorong oleh wanita lain di ruang obrolan online untuk menemukan solusi untuk pantangan yang dipaksakannya - mainan seks.

Yi Heng, seorang bloger konsultasi seksMenurut Yi Heng, seorang bloger konsultasi seks, terjadi perubahan demografi dimana kalangan milineal kini juga semakin terbuka membicarakan soal seks. (Foto: Tagar/AFP/Yi Heng, bloger konsultasi seks).

Keasyikan dengan dunia barunya, Amy ingin memperbanyak koleksi mainan seksnya. Ia tak segan-segan membelanjakan banyak yuan China untuk menambah koleksinya.

Permintaan sex toy di China meningkat pesat selama pandemi. Negeri Panda ini menjadi negara pengekspor alat bantu "kamar tidur" terbesar di dunia.

Peningkatan penjualan alat bantu seks bukan lantaran faktor pandemi, tapi juga karena produk dari perubahan budaya yang lebih terbuka terhadap masalah seks. Menurut Yi Heng, seorang bloger konsultasi seks, terjadi perubahan demografi dimana kalangan milineal kini juga semakin terbuka membicarakan soal seks.

“Cukup banyak wanita… yang aktif secara seksual memiliki sikap yang sangat terbuka terhadap penggunaan mainan seks. Mereka melihatnya sangat alami dan normal,” kata Yi Heng.

Yi, yang memiliki lebih dari 700.000 pengikut di platform Twitter-nya China, Weibo percaya bahwa wanita China sedang mengendalikan pasar. Tiongkok lebih sering dikaitkan dengan sikap publik konservatif terhadap seks - pornografi dilarang dan pihak berwenang telah melakukan tindakan keras secara berkala terhadap konten online yang "vulgar".

Presiden Xi Jinping mendorong dunia maya yang "bersih dan adil". Pemerintah China telah berusaha untuk mempromosikan pernikahan dan nilai-nilai tradisional keluarga sebagai cara untuk menghidupkan kembali tingkat kelahiran yang menurun.

Namun tingkat perceraian di China mencapai rekor tertinggi lebih dari 3,1 juta dalam sembilan bulan pertama tahun 2019. Hal ini sebuah tanda perubahan nilai-nilai sosial.

Ketika mereka semakin berdaya atas apa yang mereka inginkan di kamar tidur, wanita berusia tiga puluhan dan lebih muda menjadi lebih nyaman dengan gagasan menggunakan mainan seks. Menurut Yi, terkadang mereka tidak menemukan orgasme dan kesenangan yang diinginkan, mungkin karena keterampilan pria di tempat tidur tidak cukup baik.

"Wanita kemudian mungkin lebih termotivasi menemukan cara untuk menyenangkan diri mereka sendiri," tutur Yi.

Meskipun China merupakan negara pengeskpor sex toy terbesar di dunia, justru penjualan domestik tertinggal jauh dari negar-negara Barat bahkan Jepang. Namun, didorong terutama oleh konsumen wanita dan milenial, pasar mainan seks di China melesat. Menurut perusahaan riset China, iiMedia, pasar domestik sex toy mencapai lebih dari 100 miliar yuan atau US$ 14,7 miliar.

Kueri untuk kata kunci sex toy di mesin pencari Baidu melonjak antara Januari dan Juni, menurut Steffi Noel, seorang analis di firma riset pasar yang berbasis di Shanghai, Daxue Consulting.

Namun Noel memperkirakan lonjakan permintaan domestik selama pandemi sifatnya hanya sesaat, tidak akan memberikan efek untuk pertumbuhan jangka panjang. “Orang-orang yang membeli sex toy selama pandemi terutama adalah pembeli pertama kali, dan 70 persen dari mereka kemungkinan besar hanya sekali membeli," ucapnya.

Daxeu Consulting dalam laporan Maret lalu menyebutkan, China memproduksi 70 persen dari ekspor sex toy global. Sementara permintaan dari luar negeri yang terus melonjak tak bisa terpenuhi.

Ilustrasi Sex ToyIlustrasi Sex Toy. (Foto: Tagar/AFP/Ilustrasi Sex Toy).

"Lonjakan pesanan datang dari Prancis, Italia, dan AS, terutama untuk vibrator dan boneka seks," kata Noel.

Pada paruh pertama tahun 2020, ekspor melonjak 50 persen dibandingkan periode pertama tahun lalu, menurut raksasa e-commerce China. Menurutnya, pabrik berlomba-lomba untuk memenuhi permintaan sex toy di dunia yang terjebak di dalam negeri karena virus.

"Kami mengekspor lebih dari 1.000 boneka seks manusia hidup per bulan ... kami telah mencapai kapasitas produksi penuh," kata seorang manajer bermarga Feng di Shengyi Adult Products Co. di pusat manufaktur selatan Shenzhen.

Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang adalah tujuan utama sex toy yang harganya masing-masing lebih dari 2.000 yuan (hampir US$ 300). “Mereka tidak melihat (boneka seks) sebagai tabu,” kata Feng.

Amy berharap masyarakat China secara bertahap akan lebih menerima sex toy. Setelah pandemi berlalu, mereka akan terbiasa memakai mainan seks. “Saya berharap semua orang bisa merasakan kebahagiaan seperti ini,” katanya. []

Berita terkait
Pertumbuhan Ekonomi China Melambat
Ketegangan hubungan ekonomi dengan Amerika Serikat akibat perang dagang dan permintaan domestik yang melemah menjadi pemicu perlambatan pertumbuhan
Ratusan Juta Warga China Merayakan Liburan di Masa Pandemi
Berbulan-bulan dikungkung pandemi virus corona pekan ini ratusan warga China merayakan liburan Pekan Emas dengan tetap pakai masker
Ekonomi China Diperkirakan Rebound Kuartal Kedua 2020
Perekonomian China diperkirakan akan mengalami rebound atau kembali ke pertumbuhan pada kuartal kedua 2020 pasca anjlok akibat imbas Covid-19.
0
Bobby Temui Warga yang Sakit Hingga Tawarkan Bantuan Usaha
Calon Wali Kota Medan Bobby Nasution menyambangi kediaman warga yang sakit hingga menawarkan bantuan usaha.