UNTUK INDONESIA

Pandemi Landa Dunia Tambah Beban Utang di Negara Berkembang

Ketika virus corona menyebar ke seluruh dunia organisasi bantuan internasional peringatkan dampak besar pandemi terhadap negara-negara miskin
Orang-orang antre untuk menjalani tes Covid-19 di Rumah Sakit Livingstone di Port Elizabeth, Afrika Selatan, 13 November 2020 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Jakarta - Ketika virus corona mulai menyebar ke seluruh dunia pada paruh pertama tahun 2020, organisasi bantuan internasional mulai memperingatkan dampak besar pandemi virus tersebut terhadap negara-negara miskin, terutama negara-negara yang terpaksa mengalokasikan sejumlah besar anggaran tahunan mereka untuk melunasi utang negara.

Sekarang, hampir setahun setelah pandemi, peringatan itu banyak yang menjadi kenyataan, dan para aktivis mengatakan upaya untuk meringankan beban utang di negara-negara berkembang tidak efektif, dan yang paling buruk adalah bantuan kepada pemberi pinjaman sektor swasta.

Institute of International Finance (IIF) bulan lalu memperingatkan "tsunami utang" mengancam ekonomi dunia, karena pemerintah dan bisnis swasta menanggung lebih dari 15 triliun dolar AS merupakan kewajiban tambahan selama 10 bulan pertama tahun ini. Di negara berkembang, menurut temuan IIF, beban utang meningkat 26% pada waktu itu, sementara penerimaan pajak menurun tajam.

Data Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menunjukkan bahwa setidaknya 35 negara saat ini berada atau berisiko tinggi mengalami "kesulitan utang." Negara itu termasuk Ghana, Kenya, Afghanistan, Tajikistan, Haiti, Dominika, Tonga dan Tuvalu. Masalah ini sangat parah di sub-Sahara Afrika, di mana data IMF menunjukkan rata-rata utang telah membengkak hingga 65,6% dari produk domestik bruto, dan rata-rata kewajiban pembayaran utang mencapai 32,3% dari pendapatan tahunan.

Hal ini membuat serangkaian masalah yang kompleks bagi para pemimpin negara berkembang. Dengan pendapatan yang lebih rendah, pembayaran utang yang menjadi bagian yang lebih besar dari pengeluaran tahunan, menciptakan pilihan yang sulit ketika memerlukan investasi kesehatan masyarakat yang besar.

Banyak negara tidak mau memanfaatkan program yang akan memungkinkan mereka merestrukturisasi utang mereka, karena takut hal itu akan berdampak pada cara pemberi pinjaman internasional memandang kelayakan kredit mereka, mempersulit peminjaman di masa depan.

Contoh utama dari masalah ini tampak jelas di Zambia. Negara Afrika ini pada bulan lalu gagal membayar utang obligasi Eurobond sebesar 42,5 juta dolar AS. Para ahli khawatir insiden ini hanya yang pertama dari kegagalan membayar utang oleh berbagai negara akibat tekanan virus corona.

Awal tahun ini, kelompok negara industri besar G20 menyetujui sebuah rencana, yang disebut Debt Service Suspension Initiative (DSSI), yang memberikan izin kepada pemegang utang internasional utama, seperti Dana Moneter Internasional untuk mengizinkan lebih dari 70 negara berkembang yang banyak berutang menunda pembayaran sebagian utang mereka sampai akhir tahun. Bulan lalu, program tersebut diperpanjang hingga Juni 2021 (my/ah)/voaindonesia.com. []

Berita terkait
53% Vaksin Virus Corona Dunia Sudah Dibeli Negara Kaya
Negara-negara kaya timbun vaksin virus corona (Covid-19), dan negara-negara miskin akan ketinggalan karena tidak mendapatkan vaksin untuk rakyatnya
Vaksin Virus Corona Pfizer Tak Cocok untuk Negara Berkembang
Seorang ilmuwan terkemuka Pakistan katakan vaksin virus corona Pfizer tidak cocok untuk Pakistan, atau negara-negara berkembang lain
Negara dengan Utang Luar Negeri Terbesar Tahun 2019
Bank Dunia (World Bank) meriils laporan terbaru terkait statistik utang internasional negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah.
0
Kemen PPPA Luncurkan Panduan Perlindungan Hak Perempuan
Kemen PPPA UNFPA Indonesia, dan UN Women meluncurkan Panduan Perlindungan Hak Perempuan dari Diskriminasi dan KGB dalam situasi pandemi.