UNTUK INDONESIA
Nobel Ekonomi 2019, Penelitian Tentang SD Inpres di Indonesia
Nobel Ekonomi tahun 2019 dimenangkan tiga ekonom dari Amerika. Salah satunya mengangkat riset tentang Sekolah Dasar (SD) Inpres di Indonesia.
Nobel Ekonomi tahun 2019 dimenangkan tiga ekonom dari Amerika Serikat yakni Abhijit Banerjee dan istrinya Esther Duflo, serta Michael Kremer. (Foto: Ilustrasi Niklas Elmehed)

Jakarta - Nobel Ekonomi 2019 dimenangkan tiga ekonom dari Amerika Serikat, yakni Abhijit Banerjee dan istrinya Esther Duflo, serta Michael Kremer. Salah satunya mengangkat riset tentang Sekolah Dasar (SD) Inpres di Indonesia.

Menurut Duflo, pembangunan SD Inpres secara masif dalam kurun waktu 5 tahun itu merupakan yang terbanyak yang pernah tercatat dalam sejarah.

Banerjee dan Duflo berstatus sebagai Profesor Massachusetts Institute of Technology (MIT), sementara Kremer adalah profesor di Universitas Harvard. Duflo menjadi peraih Nobel Ekonomi termuda, dan menjadi wanita kedua yang memenangkan pengharaan ini. 

Duflo melakukan riset terhadap pendirian SD Inpres di Indonesia. Dia menyebutkan hal tersebut sebagai program pengentasan kemiskinan dan pencerdasan masyarakat secara masif.

Dalam tesisnya berjudul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence From an Usual Policy Experiment, Duflo mencatat dari 1973-1978 telah terbangun sebanyak 61.000 SD Inpres di seluruh Indonesia. 

Menurut Duflo, pembangunan SD Inpres secara masif dalam kurun waktu 5 tahun itu menjadi yang paling terbanyak tercatat dalam sejarah. Hasilnya secara signifikan berkorelasi dengan upaya pencerdasan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. 

SD Inpres sebagai program Pelita (Pembangunan Lima Tahun) di masa Presiden ke-2 Indonesia Soeharto digawangi oleh ekonom Prof. Widjojo Nitisastro. Waktu itu, kebanyakan yang bersekolah di SD Inpres adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Secara garis besar, Duflo, Banerjee, dan Kremer meraih Nobel Ekonomi karena dianggap berjasa dalam memerangi kemiskinan, termasuk membuat pendekatan baru dalam pendidikan dan perawatan kesehatan. Penelitian ketiganya dilakukan di Asia, khususnya di India dan di Afrika. 

"Mereka memenangkan Nobel untuk pendekatan eksperimental mereka untuk mengurangi kemiskinan global," kata Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia dikutip dari AFP, Senin, 14 Oktober 2019.

Menurut data juri Nobel Ekonomi, saat ini lebih dari 700 juta orang hidup dengan pendapatan sangat rendah, dan sekitar 5 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahun karena penyakit yang semestinya dapat dicegah atau disembuhkan.

Ketiga profesor ini menemukan cara efisien memerangi kemiskinan dengan memecahkan masalah sulit menjadi pertanyaan simple, lebih mudah dikelola, yang kemudian dapat dijawab melalui eksperimen lapangan.

Penghargaan juga diberikan karena hasil konsistensi kerja riset mereka dalam bidang ekonomi pembangunan yang berbasis field experiment.

Program Nobel Ekonomi dicetuskan pada 1968 untuk menandai peringatan 300 tahun bank sentral Swedia.  Kemudian pemberian nobel pertama kali dilakukan pada 1969. Para penerima nobel harus berbagi 9 juta kronor Swedia atau sekitar Rp12,7 miliar.

Duflo, Banerjee, dan Kremer akan menerima penghargaan tersebut langsung dari Raja Carl XVI Gustaf dalam upacara di Stockholm pada 10 Desember 2019, sekaligus menandai meninggalnya Alfred Nobel tahun 1896. []

Berita terkait
Tiga Ekonom AS Raih Nobel Ekonomi
Keberhasilan tiga ekonom AS mempelopori cara-cara baru untuk mengurangi kemiskinan menghantarkan mereka meraih nobel bidang ekonomi
BJ Habibie Pantas Dapat Nobel
Fahri Hamzah menuturkan BJ Habibie, yang wafat pada Rabu (11/9/2019) di Jakarta, pantas mendapatkan hadiah Nobel untuk jasa-jasanya.
Gara-gara Skandal Seks, Penganugerahan Nobel Sastra Ditiadakan
Pembatalan hadiah bergengsi itu belum pernah terjadi selama beberapa dasawarsa belakangan.
0
Fachrul Razi: Pegawai BUMN Benci Pemerintah, Keluar!
Menag Fachrul Razi kembali melontarkan pernyataan keras, terutama kepada pegawai BUMN yang membenci pemerintah.