Bandung, (Tagar 14/9/2018) – Mantan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat (Jabar) Mulyadi membeberkan alasan jabatannya di Gerindra dicopot oleh Prabowo Subianto.

Mulyadi mengemukakan, dia dicopot karena besarnya tekanan Djoko Santoso kepada Prabowo Subianto yang meminta dirinya diganti oleh Brigjen TNI (Purn) Taufik Hidayat. Alasan lainnya karena permainan dana Pemilihan Presiden di tubuh Partai Gerindra.

“Jadi sebenarnya bukan karena kegagalan saya memenangkan Asyik. Saya pikir bukan itu, karena nyatanya Asyik mampu menjadi nomor dua, padahal dalam survei sebelumnya Asyik diurutan paling akhir,” kata Mulyadi di Bandung, Jumat (14/9).

“Jabatan saya dicopot karena besarnya tekanan kepada Prabowo Subianto, ini erat kaitannya dengan dana pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk Jabar yang sangat besar,” imbuhnya.

Menurut Mulyadi, Jabar termasuk wilayah sangat strategis bagi kedua pasangan calon, dan Jabar menjadi modal bagi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno karena yakin di Pilpres 2019 Prabowo akan mampu menang hampir mendekati 60%.

“Detailnya saya tidak mau banyak memberitahu, karena hal ini sangat sensitif di tubuh partai kami, yang jelas di Pilpres 2019 akan ada anggaran dengan target minimal harus bisa menyamakan perolehan suara Prabowo Subianto di Pilpres 2014,” jelas Mulyadi.

Dan apa pun alasannya, kata Mulyadi, dirinya legowo, tidak akan resisten terhadap segala keputusan ataupun kebijakan Prabowo Subianto.

“Saat ini saya memilih untuk berpandangan positif saja, keputusan yang dikeluarkan oleh Prabowo Subianto terbaik bagi Gerindra, terutama bagi kemenangan Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno di Pilpres 2019,” tegasnya.

Selain itu, Mulyadi juga membeberkan efek berita pencopotan dirinya yang menjadi trending topic. Dia mengaku, dirinya dibanjiri tawaran masuk ke partai koalisi pendukung Prabowo dan pendukung istana, yakni Perindo dan Partai Nasdem.

“Perindo dan Nasdem memberikan penawaran kepada saya untuk masuk, tetapi saya memilih untuk tidak mengambil tawaran itu, meskipun ditawarkan posisi yang sangat strategis dan menguntungkan,” beber Mulyadi.

“Saya akan tetap setia kepada partai pertama dan terakhir saya yaitu Gerindra, dan ini sebagai wujud loyalitas dan integritas saya kepada Prabowo Subianto terutama Gerindra,” imbuhnya.

Berikutnya, Mulyadi membantah bahwa pencopotan dirinya adalah strategi untuk mengaburkan kasus mahar politik Sandiaga Uno di DPP, atau cara untuk meningkatkan elektabilitas dirinya karena maju di Pileg 2019 ataupun Pilpres 2019.

“Sebenarnya pergantian ketua DPD partai merupakan hal biasa, mungkin saya menilai karena waktunya tidak tepat sehingga banyak spekulasi atau memang saya ini politisi fenomenal. Namun yang jelas pergantian ketua DPD baik Jabar maupun daerah manapun merupakan hak preogratif Prabowo Subianto,” ujarnya.

Mulyadi menegaskan, dirinya akan legowo dan fokus pada Pemilihan Legislatif. Meski dirinya diganti, Mulyadi menjamin bahwa pengurus yang saat ini menjabat di DPD Partai Gerindra Jabar tidak akan berubah.

“Saya sudah konfirmasi ke Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Mujani bahwa katanya yang diganti hanya ketuanya saja, tidak untuk pengurusnya. Akan sulit kerja sama apabila pengurus diubah mengingat waktu sangat sempit untuk konsolidasi Pileg dan Pilpres 2019 ini,” jelasnya.

Menurut dia, lihat saja nanti saat Ketua DPD Partai Gerindra Jabar dijabat oleh ketua yang baru, apakah akan diganti atau seperti apa. Sebab, semua bisa berubah. Namun yang jelas, kabar dari Sekjen DPP Partai Gerindra, Ahmad Mujani tidak akan ada perubahan pengurus. “Hanya ketua saja, sehingga dalam hal ini saya bisa yakin dan menjamin pengurus tidak akan diganti,” terangnya.

“Lihat saja nanti-lah ya, yang jelas pernyataan saya ini bisa dipegang karena Sekjen DPP Partai Gerindra sendiri yang sudah menyampaikannya ke saya seperti itu,” imbuhnya.

Mulyadi Berlebihan

Sementara itu, ditemui ditempat terpisah, Sekretaris Jenderal DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Abdul Haris Bobihue menyayangkan sikap Mulyadi yang berlebihan dengan memberikan pesan siaran (brodcast) ke banyak media terkait pencopotannya.

“Cukup disayangkan, Mulyadi itu malah brodcast ke banyak media soal pencopotan itu. Saya pun kaget, kenapa seperti ini,” sesalnya.

Eloknya, terang Abdul Haris Bobihue, Mulyadi langsung menghadap Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bukan justru “curhat” ke media, khususnya menanyakan alasan pencopotan dan meluruskan terkait banyaknya spekulasi di luar.

“Jadi tidak akan seperti ini, menjadi isu hangat di media. Hal ini kan seharusnya menjadi konsumsi internal partai saja. Cukup kita saja yang tahu, toh sebenarnya pergantian ketua DPD itu hal yang biasa tetapi karena ini waktunya yang salah sehingga muncul spekulasi yang akhirnya ramai di banyak media,” terangnya.

Abdul Haris mengatakan, tidak bisa dipungkiri bahwa ada pertemuan dan pembicaraan dengan DPP tanpa kehadiran Mulyadi sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Jabar saat itu untuk membicarakan pencopotan atau pergantian DPD Partai Gerindra Jabar.

“Soal alasan detailnya, saya pun tidak mengetahi pasti, yang jelas memang ada wacana pergantian tersebut tetapi hal ini wajar terjadi di partai manapun. Saya pun heran kenapa harus ramai seperti ini,” tanya dia. []