UNTUK INDONESIA
Merger Gojek dan Grab Mungkin dari Perspektif Bisnis
Rumor penggabungan Gojek dan Grab mencuat pascapertemuan Presiden Grab Ming Maa dengan Co-Chief Executive Officer Gojek Andre Soelistyo awal bulan.
Driver Gojek. (Foto: Instagram/@gojekindonesia)

Jakarta - Direktur Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Rasa Nugraza Barley mengatakan rumor penggabungan Gojek dengan Grab mungkin saja terjadi apabila melihat dari perspektif ekonomi.

"Kalau dari sisi bisnis hal tersebut pasti bisa dan berpeluang terjadi," ujar Rasa Nugraza Barley kepada Tagar di Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020. 

Meskipun demikian, dia enggan mengomentari lebih jauh terkait marger dua perusahaan jasa transportasi online di Indonesia tersebut. Barley beralasan rumor difusi dua raksasa itu masih jauh dari kata pasti.

Pasalnya, baik Gojek maupun Grab dipandang masih terus melebarkan lini usaha masing-masing. “Lagi pula mereka masih sama-sama kuat untuk mengembangkan bisnis dan ekosistem di Indonesia," kata dia. 

Sebenarnya, sambung Barley di Tanah Air sendiri terdapat banyak pemain usaha yang berkecimpung dalam industri jasa transportasi dan logistik. Akan tetapi, nama Gojek dan Grab dinilai sebagai dua pionir utama dalam sektor ini lantaran pengaruhnya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. 

"Kembali lagi, rumor marger Gojek dan Grab ini masih sangat dini dan saya tidak terlalu percaya hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat," ucapnya. 

GrabSebanyak 150 mitra grab melakukan pengantaran 3000 paket makan untuk daerah Jakarta dalam rangka Gerakan Jangan Lupa Makan. (Foto: Tagar/Dicky Kurniawan)

Satu hal yang diyakini Barley adalah biaya pengembangan usaha transportasi online yang mesti dikeluarkan pemain industri diprediksi masih tergolong tinggi. Asumsi ini didasarkan pada ongkos akuisisi pengguna aplikasi yang memakan dana besar. 

"Ini adalah hal yang wajar. Dua atau tiga tahun yang lalu kan mereka pemain baru, sehingga dibutuhkan banyak promosi kepada masyarakat untuk proses akusisi pengguna," tuturnya. 

Barley sendiri menolak anggapan bahwa banyak pelaku ekonomi digital dan investor yang melakukan aktivitas 'bakar duit'. Menurut dia, penggelontoran sejumlah besar dana perusahaan merupakan bagian dari strategi marketing untuk terus menggenjot pendapatan usaha. 

Mengutip informasi dari Bloomberg, rumor penggabungan Gojek dan Grab mencuat pasca pertemuan Presiden Grab Ming Maa dengan Co-Chief Executive Officer Gojek Andre Soelistyo awal bulan ini.

Sebuah sumber menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut menemui jalan buntu lantaran tidak diperoleh titik terang atas siapa yang nantinya mengendalikan usaha. 

"Tidak ada rencana untuk marger apapun dalam waktu dekat dan media menyampaikan informasi yang kurang akurat terkait masalah ini," tulis Gojek dalam keterangan resminya, Selasa, 25 Februari 2020.

Untuk diketahui, Gojek merupakan produk usaha dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa besutan Nadiem Makarim yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan Grab adalah perusahaan jasa transportasi online yang bermarkas di Singapura

Perusahaan beda negara itu menggarap bisnis yang sama di Indonesia dan menjadi pemain industri paling besar di negara ini. Keduanya juga telah naik level menjadi perusahan decacorn dengan valuasi pasar lebih dari 10 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Grab sendiri ditaksir mempunyai nilai pasar sekitar 14 miliar dolar AS, sementara Gojek dipercaya bernilai lebih dari 10 miliar dolar AS. []

Berita terkait
Gojek Tepis Isu Soal Merger dengan Grab
Gojek membantah laporan yang menyebutkan bahwa perusahaan transportasi berbasis aplikasi itu tengah melakukan pembicaraan merger dengan Grab.
Fitur Tombol Darurat Grab Cegah Ulah Sopir Jahat
Grab menyediakan tombol darurat sebagai salah satu upaya menjamin keamanan dan keselamatan penumpang dari tindak kejahatan pengemudi.
Blue Bird Tangkal Disrupsi Lewat Pencaplokan Gojek
Ketua MTI Djoko Setijowarno mengomentari proses akusisi PT Blue Bird Tbk oleh PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek beberapa waktu lalu.
0
Budaya Salaman Haruskah Ditinggalkan di Masa Corona?
Budaya salaman atau salim yang dilakukan dengan membungkuk kemudian mencium tangan apakah harus ditinggalkan di tengah wabah virus corona?