Mengenang Isra Mikraj Fondasi Bagi Umat Islam

Mari mengenal lagi Isra Mikraj sebagai fondasi bagi umat Islam.
Ilustrasi. (Foto: Islami.co)

Jakarta, (Tagar 2/4/2019) - Perayaan hari besar umat Muslim Isra Mikraj tinggal menghitung jam. Mari mengenal lagi Isra Mikraj sebagai fondasi bagi umat Islam.

Dalam kepercayaan umat Muslim, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul terakhir yang ditunjuk oleh Allah SWT, kemudian ia diamanatkan untuk menyempurnakan serta menyebarkan ajaran agama Islam ke seluruh umat Muslimin.

Pada usia ke-40, Muhammad SAW acap kali menyendiri di dalam Gua Hira, sebuah gua bukit yang berjarak 6 km dari kota Makkah. Suatu hari, ia didatangi Malaikat Jibril yang menurunkan wahyu pertama dari Allah SWT untuk disampaikan kembali kepada umat Muslim, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa ini dikenang oleh umat Muslim di Indonesia dengan sebutan Nuzulul Qur'an.

Berselang beberapa tahun, Muhammad SAW mulai memberanikan diri untuk berdakwah terbuka, menyebarkan ke-Esaan Allah dengan Islam sebagai agama yang benar dan menyarankan umat untuk meninggalkan sesembahan selain Allah SWT.

Muhammad menerima wahyu berangsur-angsur hingga wafat pada usia 63 tahun. Praktik atau amalan Muhammad diriwayatkan dalam hadits, dirujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam bersama pedoman tetap yaitu Alquran.

Salah satu wahyu terpenting yang dijalankan oleh umat Islam saat ini adalah Isra Mikraj. Umat muslimin mengenal Isra Mikraj merupakan perjalanan semalam Nabi Muhammad SAW yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menunaikan salat wajib lima waktu dalam sehari semalam, dan hal ini diketahui merupakan hukum Islam yang pertama.

Isra dan Mikraj merupakan dua peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad diberangkatkan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerussalem). Kemudian dalam Mikraj, Muhammad dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha, menaiki sosok makhluk bernama buraq.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan, pada saat peristiwa Mikraj, Nabi Muhammada SAW berada di Baitul Ma'mur, Allah SWT mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan salat lima puluh rakaat dalam sehari semalam.

Namun, Nabi Musa AS memperingatkan, umat Muhammad tidak akan kuat dengan limapuluh waktu itu. "Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu."

Meneruskan catatan Islami.co, Nabi Muhammad kembali menghadap Sang Rabb, meminta keringanan dan ternyata dikabulkan. Tidak lagi lima puluh waktu, tapi diberi keringanan menunaikan sepuluh waktu saja.

Nabi Muhammad pun bergegas. Namun Nabi Musa tetap tidak yakin umat Muhammad mampu melakukan shalat sepuluh waktu itu. "Mintalah lagi keringanan." Nabi kembali dan akhirnya memeroleh keringanan, menjadi ibadah wajib salat lima waktu sehari semalam seperti yang ditunaikan oleh umat Muslim hingga hari ini.

Perlu diketahui, kewajiban shalat lima waktu memang baru muncul setelah Isra Mikraj, akan tetapi bukan berarti sebelum itu Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengerjakan salat.

Dalam keterangan yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama (NU), sebetulnya kewajiban shalat sudah ada sebelum peristiwa Isra Mikraj. Salat diwajibkan kepada Nabi Muhammad sejak awal ia diangkat sebagai nabi dan menerima wahyu pertama.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadis riwayat Ahmad dan Ad-Daraquthni bahwa:

أن جبريل أتاه في أول ما أوحي إليه فعلمه الوضوء والصل

Artinya, "Jibril datang kepada Rasul ketika menyampaikan wahyu pertama dan mengajarkan Rasul wudhu’ dan shalat," (HR Ahmad dan Ad-Daraquthni).

Menurut Ibnu Ishaq, kewajiban salat dimulai sejak Rasulullah menerima wahyu pertama. Bahkan, Rasul dan Khadijah sudah shalat sebelum shalat lima waktu diwajibkan.

Tidak hanya itu, para sahabat juga diperintahkan oleh Rasulullah untuk mengerjakan shalat dan berbuat baik. Ini dipahami dari hadits yang dikutip oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Kitab Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari. Dalam kitab itu, Ibnu Rajab menulis:

وقال ابن عباس: حدثني أبو سفيان في حديث هرقل، فقال يأمرنا، يعني النبي صلى الله عليه وسلم، بالصلاة والصدق والعفاف

Artinya, "Ibnu Abbas berkata, dari Abu Sufyan tentang hadits Herakilius, bahwa Nabi SAW memerintahkan kami shalat, jujur, dan menjaga harga diri."

Bagi umat Islam, peristiwa Isra Mikraj merupakan peristiwa yang sangat berarti, karena ketika inilah salat lima waktu ditetapkan menjadi ibadah wajib dalam keseharian, dan tiada nabi lain yang mendapatkan perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini.

Baca juga:

Berita terkait