UNTUK INDONESIA
Mengenal Prinsip Penularan HIV dan AIDS dengan Benar
Masyarakat harus mengenali penularan HIV/AIDS dengan benar melalui empat prinsip, yaitu Exit, Survive, Sufficient, dan Enter (ESSE).
HIV AIDS (Foto: Wikipedia).

Denpasar - Dokter Ketut Suryana dari klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar mengajak masyarakat untuk mengenali penularan HIV/AIDS  dengan benar, yaitu dengan prinsip Exit, Survive, Sufficient, dan Enter (ESSE).

"Jadi penularan virus HIV itu tidak mudah, ada prinsip yang harus dipegang yaitu ESSE. Dari empat itu kalau satu saja tidak dikerjakan proses penularan itu tidak bisa ditularkan dari satu orang ke orang lain, karena jalur umumnya itu melalui kontak seks yang tidak terlindung dengan bukan pasangan," kata dr. Ketut Suryana, Kamis, 20 Februari 2020, seperti diberitakan Antara

Dia menjelaskan HIV hanya bisa menular jika empat prinsip ini dipenuhi semua. Untuk itu pihaknya mengatakan agar masyarakat tidak melebih-lebihkan tentang penularan virus HIV tersebut.

Kalau pasiennya dalam keadaan hamil terkena HIV, dianjurkan untuk rutin mengonsumsi ARV selama enam bulan itu untuk menekan resiko penularan.

Adapun pengertian ESSE yaitu, E berarti Exit. Prinsip ini dimaksudkan karena adanya jalan keluar cairan didalam tubuh seseorang dengan virus HIV. Misalnya saja penggunaan narkoba dari jarum suntik secara bergantian dari orang dengan virus HIV ke orang yang tidak terkena virus HIV sebelumnya.

"Bisa juga misalnya terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan suntikan bekas pasien HIV tersebut malah tertusuk ke seseorang yang tidak terkena sebelumnya," ucap Ketut Suryana.

Kedua Survive, artinya cairan tubuh pada seseorang dengan virus HIV ini harus tetap mengandung virus yang bisa mendorong untuk bertahan hidup.

Ketiga adalah Sufficient, yaitu kandungan dalam virus HIV yang berada di tubuh seseorang terinfeksi harus dalam kandungan yang cukup. Jumlah kandungan tersebut mempengaruhi proses inkubasi pada tubuh seseorang lainnya.

Selanjutnya Enter merupakan proses masuknya cairan yang mengandung virus HIV masuk ke tubuh seseorang. Salah satunya terjadi ketika ada kontak hubungan seksual, sehingga dianjurkan untuk menggunakan pengaman (kondom) agar meminimalisir jalur masuk tersebut.

"Kalau pasiennya dalam keadaan hamil terkena HIV, dianjurkan untuk rutin mengonsumsi ARV selama enam bulan itu untuk menekan resiko penularan, kalau laki-laki itu tinggi juga maka dosis pemberian ARV juga berbeda," ujarnya.

Untuk pasien dengan virus HIV harus menjalani pengobatan dengan rutin, konsisten, dan disiplin. 

"Kalau dia enggak taat repot juga karena virus HIV salah satu virus yang bandel, jadi tidak cukup 1-2 kali diberi obat tapi harus rutin, yang perlu digaris bawahi untuk pasien HIV, tingkat kepatuhannya harus tinggi," tuturnya.

Dia mengatakan seseorang dengan HIV memang harus diberikan obat virus. Tetapi dengan syarat, infeksi oportunistik yang ada harus terkendali, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan baru dalam tubuh.

"Banyak ditemukan pasien dengan infeksi lain, kalau dia datang dengan HIV positif dan ada kondisi TBC tentu berpotensi menimbulkan masalah, jadi TBC nya diobati lebih dulu sampai tubuh mulai toleran. Kalau tubuh sudah toleran langsung diberikan obat virus," katanya.

Kata dia, seseorang dengan positif HIV tanpa ada catatan infeksi oportunistik atau adanya infeksi menyimpang bisa mengonsumsi obat virus, untuk itu penting adanya pemeriksaan sejak dini.

Selain itu, untuk stok ARV di RSUD Wangaya terbilang cukup dan tidak pernah mengalami kekurangan. 

"Setiap tiga bulan kita ajukan, dan satu bulan terakhir langsung kita ajukan kembali, jadi stoknya tetap aman," ucap dr. Ketut Suryana.

Selanjutnya, pasien HIV/AIDS yang dirawat di RSUD Wangaya menjalani rentang waktu perawatan berbeda-beda, ada tujuh hari, lima hari dan tiga hari. 

Menurutnya, ruangan untuk pasien dengan HIV/AIDS tidak harus diisolasi, namun tidak boleh juga dicampur dengan pasien lainnya, karena pasien HIV/AIDS adalah orang-orang dengan daya tahan tubuh menurun.

"Jadi mereka tidak dipisahkan atau tidak berada dalam ruang isolasi agar tidak ada namanya diskriminasi. Mereka dirawat diruang yang sama bersama pasien lain dengan catatan lingkungan tidak berisiko menular," ujar dia. []

Baca juga:

Berita terkait
Campuran Obat Flu dan HIV Lawan Virus Corona
Dokter di Thailand melihat keberhasilan dalam mengobati kasus parah virus corona baru, dalam campuran obat flu dan HIV
Apa Penyebab Kasus HIV/AIDS di Kota Padang Banyak
Jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Padang, Sumatera Barat, terbanyak dari daerah lain di Sumatera Barat, apa penyebab kasus HIV/AIDS banyak di Padang
Kawin-kontrak Bisa Jadi Mata Rantai Penyebaran AIDS
Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai Juni 2019 dilaporkan 466.859, insiden infeksi HIV baru terus terjadi al. melalui kawin-kontrak
0
Makanan Sehat untuk Anak Terhindar dari Corona
Makanan sehat sangat berperan penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak agar tidak mudah terserang virus Corona