Oleh: Kir.  KPH.  Bagas Pujilaksono Widyakanigara, M. Sc., Lic. Eng., Ph. D. (UGM)

Nalar akademik akan terbangun dengan baik jika semua civitas akademika mampu menjunjung tinggi nilai-nilai universal. Oleh karena itu, pemahaman masalah secara utuh adalah cirinya.

Attitude yang dibangun adalah kejujuran, ketekunan, dan konsistensi. Cara berfikir terbuka dan tidak terdispersi dalam spektrum warna yang subyektif. Ujung-ujungnya hanya memunculkan kelompok-kelompok dengan kepentingan non-akademis. 

Menjunjung tinggi substansi etika dan moral tanpa dikaburkan dengan polemik soal cara penyampaian atau perilaku sosial yang sifatnya sangat personal.

Kebebasan akademik ditujukan untuk kepentingan akademik, bukan untuk hal-hal yang sifatnya membangun kenyamanan bagi kelompoknya atau diarahkan untuk kepentingan politik melawan negara. Dunia akademik tidak hanya harus netral dan bebas dari segala hal berbau SARA, namun juga harus akademis. Dunia akademik tidak pernah bisa mentolerir nilai-nilai kebohongan, penindasan dan deskriminasi.

Civitas akademika adalah bagian dari masyarakat secara luas, bukan dunia yang terkucil, sehingga pemahaman soal akademik dan hukum harus jelas dan tegas. Tidak boleh ada kerancuan, yang berujung pada kaburnya pemahaman permasalahan akademik dan hukum.  
Akademisi harus menjadi panglima penegakan hukum. 

Hukum adalah aturan yang merupakan kesepakatan bersama yang mengandung nilai-nilai moral dan etika yang sifatnya memaksa. Menghindari penyelesaian hukum atas suatu masalah hukum adalah gambaran pincangnya moral dan etika akademik. Jangan rancu antara mau mendidik dan mau membodohkan atau menyesatkan!

Runtuhnya dunia akademik adalah awal dari runtuhnya negara!

Namun, kita kadang perlu pragmatis melihat realita, bahwa tidak semua akademisi adalah ilmuwan sejati. Ilmuwan sejati hanya muncul dalam kejarangan...very few... Semoga kita semua bisa menjaga kehormatan dan harga diri kita sebagai akademisi.