Mayoritas Senior Taliban Duduki Kabinet Baru Afghanistan

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid mengumumkan, pemerintahan sementara Taliban tidak dibentuk berdasarkan pembagian saham dan jatah suku.
Taliban. (Foto: Dok. Pars Today)

Jakarta - Taliban baru-baru ini mengumumkan susunan kabinet Afghanistan yang didominasi oleh anggota kelompok itu, dan diklaim sebagai pemerintahan transisi. 

Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid mengumumkan, pemerintahan sementara Taliban tidak dibentuk berdasarkan pembagian saham dan jatah suku.

Tapi menurutnya, Taliban berusaha untuk melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan suku di Afghanistan, dalam pemerintahan baru.

Sebagaimana dilansir dari Pars Today, berdasarkan susunan kabinet yang diumumkan Taliban, Mullah Mohammad Hasan Akhund ditunjuk sebagai pemimpin pemerintahan baru Afghanistan, dan Mullah Abdul Ghani Baradar sebagai wakilnya.

Dengan mencermati daftar kabinet baru Afghanistan yang diumumkan Taliban, nampak jelas bahwa sebagian besar menteri kabinet merupakan anggota senior Taliban.

Statemen Jubir Taliban yang mengatakan bahwa pemerintah baru Afghanistan tidak dibentuk berdasarkan pembagian jatah suku di negara itu merupakan pengakuan atas hal ini bahwa Taliban dalam menentukan susunan kabinet tidak memberikan saham yang cukup berarti kepada suku-suku Afghanistan.

Meski sejumlah pejabat Taliban menekankan pembentukan pemerintahan inklusif yang mengakomodir seluruh kelompok dan suku Afghanistan, namun daftar susunan kabinet Taliban menunjukkan bahwa kelompok ini seolah tidak menepati janjinya terkait partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pemerintahan baru Afghanistan.

Sebelumnya Taliban juga menekankan upaya untuk membuka peluang yang diperlukan bagi partisipasi seluruh suku Afghanistan di masa depan politik negara ini, akan tetapi sepertinya kelompok ini enggan memberikan posisi-posisi penting di tingkat nasional dan daerah kepada suku-suku lain sesuai dengan kapasitas dan populasi mereka.

Sementara menurut Undang-Undang Dasar Afghanistan, para menteri yang diusulkan pemerintah harus mendapat persetujuan Parlemen negara ini. Oleh karena itu belum jelas apakah Taliban memang ingin berjalan di jalur ini atau menjalankan pemerintahan dengan menteri-menteri yang belum mendapat persetujuan Parlemen.

Realitasnya Taliban seperti tidak bersedia melibatkan suku-suku Afghanistan dalam pemerintahan baru secara nyata, dan publik tidak melihat Taliban berembuk dengan berbagai pihak dalam membentuk pemerintahan baru ini.

Langkah Taliban yang tidak menghiraukan UUD Afghanistan agar menteri-menterinya mendapat persetujuan dari Parlemen terlebih dahulu sejalan dengan apa yang disampaikan oleh anggota Dewan Ketua Taliban Jalaluddin Shinwari.

Beberapa hari lalu Shinwari berbicara soal perubahan UUD Afghanistan, dan menurutnya hal itu merupakan tuntutan seluruh kelompok politik Afghanistan bukan hanya Taliban. Oleh karena itu ada kemungkinan UUD Afghanistan akan diamandemen sesuai pemerintahan Imarat Islam.

Sistem pemerintahan Imarat Islam akan dipimpin oleh seorang Emir, dan sekarang sepertinya tengah disempurnakan oleh Taliban di Afghanistan. 

Kelompok ini tidak menggembar-gemborkan tentang sistem Imarat Islam, tapi dalam praktik seluruh struktur pemerintahan baru Afghanistan secara perlahan menuju ke arah itu.[]

Baca Juga:

Berita terkait
Blinken Sebut Taliban Harus Buktikan Legitimasinya pada Dunia
Menlu Blinken, hari Rabu, 8 September 2021, memperingatkan Taliban harus membuktikan dan memperjuangkan legitimasinya pada dunia
Taliban Umumkan Kabinet Baru di Tengah Protes Rakyat
Pasukan Taliban resmi mengumumkan pemerintahan baru di tengah meningkatnya protes rakyat Afghanistan di Kabul
Profil Mullah Mohammad Hasan Akhund dari Taliban
Sosok Akhund sangat dihormati dalam Taliban, terutama oleh pemimpin tertingginya, Haibatullah Akhunzada.
0
Mayoritas Senior Taliban Duduki Kabinet Baru Afghanistan
Juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid mengumumkan, pemerintahan sementara Taliban tidak dibentuk berdasarkan pembagian saham dan jatah suku.