UNTUK INDONESIA
Masjid Pekayuan Semarang, Pilarnya dari Majapahit
Masjid Taqwa Sekayu semula bernama Masjid Pekayuan. Masjid ini tak lepas dari peran penyebar Islam di Sekayu, Kyai Kamal
Pilar atau kayu penyangga Masjid Taqwa Sekayu di Semarang diyakini dari pendopo Majapahit. Masjid tersebut dibangun sebelum Masjid Demak berdiri. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang – Masjid Taqwa Sekayu, tempat ibadah di tengah kawasan padat penduduk di Kampung Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Lokasinya persis di belakang pusat perbelanjaan Paragon Mall.

Oleh penduduk setempat, Masjid Taqwa Sekayu diyakini salah satu saksi sejarah runtuhnya Majapahit sekaligus penanda berkembangnya Islam di tanah Jawa.

"Masjid ini dibangun pada tahun 1413, sebelum Masjid Demak dibangun," ungkap Ketua Takmir Masjid Taqwa Sekayu Ahmad Arief kepada Tagar, Selasa 28 Mei 2019.

Masjid Taqwa Sekayu semula bernama Masjid Pekayuan. Keberadaan masjid ini tak lepas dari peran sosok penyebar Islam di kawasan Sekayu, Kyai Kamal.

Dia adalah salah satu murid atau santri kinasih Sunan Gunung Jati. Belum jelas darimana asal Kyai Kamal namun oleh warga Sekayu ia dipercaya dari Cirebon, tempat Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di kawasan barat Pantura.

Bermula dari goncang-ganjing yang terjadi di lingkungan Kerajaan Majapahit, para ulama yang tergabung di Wali Songo berpandangan untuk menyelamatkan tanah Jawa dari incaran pendatang asing. Kala itu, tanah Jawa kaya akan rempah-rempah yang dibutuhkan feodalis Barat. Salah satunya bangsa Portugis.

Karenanya Wali Songo sepakat untuk membendung kekuatan di sepanjang pantura Jawa. Kekuatan militer laut mulai dibangun dari Banten hingga pesisir Jawa Timur. Dan sekitar Semarang, saat itu berpusat di Demak, dijadikan pusat pertahanan karena berada di pesisir bagian tengah Jawa.

Baca juga: Masjid Ad-Darojat Yogyakarta, Mati Suri Zaman Jepang

Membangun kekuatan laut yang mumpuni bukan perkara mudah. Dibutuhkan proses penggemblengan raga dan batin dari pasukan. Seiring berdirinya Kerajaan Demak dengan Raden Patah sebagai rajanya, salah satu Wali Songo, yakni Sunan Kalijogo menginisiasi pembangunan masjid. Masjid tersebut masih berdiri kokoh dan dikenal dengan nama Masjid Demak.

Proses pendirian Masjid Demak membutuhkan banyak kayu jati. Dan pesisir Semarang kala itu dikenal sebagai sentra penyimpanan atau transit kayu jati dari berbagai daerah. Tempat persisnya adalah kawasan perkampungan yang saat ini dikenal sebagai Sekayu.

"Sekayu ini dulu dekat dengan sungai besar yang bermuara ke laut. Banyak kapal ke sini untuk mengangkut beragam rempah, juga beragam hasil hutan termasuk kayu Jati," jelas Arief.

Maka ditugaskanlah Kyai Kamal oleh Sunan Gunung Jati mengkoordinir pengumpulan kayu jati di Sekayu guna keperluan pembangunan Masjid Demak. Tak hanya menyuplai kayu jati ke Demak, selama tinggal di Sekayu, Kyai Kamal juga melakukan syiar agama.

Karenanya, atas restu Sunan Gunung Jati, Kyai Kamal membangun tempat ibadah yang sederhana dan tidak terlalu besar. Masjid itu mayoritas dibangun dari bambu, atap dari rumput yang dikeringkan dan dianyam atau disebut rumbia. Bagian lantai berupa tanah yang di atasnya ditutup tikar dari daun pandan yang dikeringkan.

Sementara untuk pilar atau penyangga atap masjid, Kyai Kamal mendapat suplai kayu dari pendopo Kerajaan Majapahit.

"Para Wali Songo dengan kerajaan Majapahit itu sebenarnya berhubungan baik mengingat Raden Patah juga berasal dari Majapahit. Sehingga ketika diketahui Kyai Kamal merintis masjid kecil di Sekayu, dengan peran Wali Songo, Majapahit memberi kayu pendoponya untuk penyangga masjid," cerita dia.

Empat kayu penyangga yang lazim disebut saka berbentuk bujur sangkar, setinggi sekitar tujuh meter sampai sekarang masih bisa ditemui di Masjid Pekayuan atau Masjid Taqwa Sekayu. Berada di ruang salat pria.

Masjid mengalami beberapa kali renovasi, keberadaan empat kayu penyangga yang berukir khas Majapahit itu tetap dipertahankan.

Hanya saja guna menghindari syirik, empat tiang penyangga telah dibungkus papan kayu jati berdiameter kurang lebih 60 sentimeter.

Baca juga: Masjid Al Makmur, Arsitektur Timur Tengah di Aceh

"Di masjid ini juga ada pustaka peninggalan para wali, juga masih ada di puncak masjid. Jadi ini lah masjid pertama di Semarang, bahkan masjid pertama di Jawa Tengah. Karena dibangun sebelum Masjid Demak berdiri," beber dia.

Sementara Kyai Kamal akhirnya meninggal dunia di Sekayu setelah menyelesaikan tugasnya membantu pembangunan Masjid Demak. Ia dimakamkan santrinya di bagian imam Masjid Taqwa Sekayu. Makam tersebut sampai sekarang juga masih terawat baik dan kerap jadi kunjungan peziarah.

"Melihat sejarah masjid kami berharap tempat ibadah ini bisa menjadi salah satu tempat wisata religi di Kota Semarang," tukas Arief.[]

Berita terkait
0
Kenali Fitur WhatsApp untuk Lindungi Privasi
Masih banyak pengguna belum mengetahui fitur WhatsApp untuk menjaga privasi dan keamanan data digital.