Jakarta, (Tagar 5/11/2018) - Ternyata banyak orang sukses luar biasa asal Boyolali Jawa Tengah. Mereka kalau mau tentu tidak sulit untuk keluar masuk hotel mewah. Dan tentunya mereka tidak akan diusir petugas hotel hanya karena 'tampang Boyolali'-nya, kecuali hotel tersebut ingin ditinggalkan pelanggan. 

Berikut ini lima orang sukses asal Boyolali:

1. Sutopo Purwo Nugroho

Sutopo Purwo NugrohoKepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. (Foto : Antara)

Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia tokoh berpengaruh untuk urusan informasi bencana alam yang terjadi di Indonesia. Saat terjadi gempa Lombok dan Palu Sulawesi Tengah, wajahnya sering muncul di televisi. 

Ia alumnus Universitas Gadjah Mada, lahir di Boyolali pada 7 Oktober 1969. 

Sosoknya hingga sekarang ini menjadi andalan masyarakat Indonesia karena informasi mengenai bencana alam selalu dinanti-nantikan, mulai dari perkembangan jumlah korban meninggal, kondisi para pengungsi, hingga terkait masalah teknis penanggulangan bencana. 

Dalam perannya sebagai Kepala Humas BNPB, ternyata dia tidak hanya aktif memberikan informasi tentang bencana alam melalui siaran pers saja. Tetapi dia juga berusaha menyebarkan dan memperbaharui informasi faktual terkait bencana lewat akun Twitter-nya. Bahkan Sutopo juga selalu berusaha menangkal hoaks yang sering muncul terkait bencana agar masyarakat tidak tertipu infomasi yang tidak jelas kebenarannya. Hal itu dilakukannyasupaya masyarakat semakin cerdas dalam perkembangan informasi khususnya bencana alam. 

Ayah dari empat orang anak ini memang sudah dikenal banyak orang. Namun kesuksesannya sekarang bukan semata-mata ditempuh dengan mudah. Sutopo merupakan lulusan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada pada 1993. Ia mengawali kariernya dengan bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada 1994. Ia menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 nya di Institut Pertanian Bogor (IPB) di bidang hidrologi. Setelah menyelesaikan pendidikan S3 di IPB, Sutopo juga menjadi dosen di Pascasarjana UI, IPB, dan Universitas Pertahanan. Sejak 2010 hingga sekarang ia bekerja di BNPB.

2. Jenderal TNI Mulyono

Kasad MulyonoKepala Staff Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono bersama Menteri Perhubungan Budi Karya. (Foto : Instagram/tni_angkatan_darat).

Jenderal TNI Mulyono juga tokoh asal Boyolali Jawa Tengah yang sukses. Pria kelahiran 12 Januari 1961 di Boyolali ini adalah seorang perwira tinggi TNI AD yang saat ini menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Mulyono merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1983. Jabatan terakhir Jenderal empat ini adalah Pangkostrad.

Lulusan Akmil yang berdinas di TNI sejak 1983 ini pernah menjadi Komandan Batalyon Tri Eka Jaya di Lampung yang masuk dalam area Kodam II Sriwijaya. Karier di militernya sudah menjadikan dirinya mendulang kesuksesan. 

Jabatan militer yang pernah ia capai yaitu Letnan Dua sampai Letnan satu, Komandan Peleton (Danton) Bataliyon Infanteri (Yonif) 712/Wiratama Kodam VII/Wirabuana, Komandan Kompi (Danki) Yonif 712/Wiratama Kodam VII/Wirabuana, Pasiops Yonif 712/Wiratama Kodam VII/Wirabuana.

Kemudian Kepala Seksi Operasi Pengajaran (Kasiopsjar) Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Bandung (1995). Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 143/Tri Wira Eka Jayadi wilayah Kodam I/Bukit Barisan (1997).  

Juga Dosen Gol V/Seskoad (1999). Komandan Kodim (Dandim) 0901/Samarinda (2000). Kepala Staf Korem 121/Alambhana Wanawai. Asisten Operasi  (Asops) Kaskostrad (2006). Danmentar Akmil Magelang (2009). Komandan Resort (Danrem) militer 032/Wirabraja (2009). Wakil Komandan (Wadan) Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD (2011).

Juga Direktur latihan (Dirlat) di Kodiklat TNI AD (2011). Direktur Doktrin (Dirdok) Kodiklat TNI AD (2011). Wakil Komandan (Wadan) Kodiklat TNI AD (2012). Asisten Operasi (Asops) Kasad (2013). Pangdam Jaya (2014). Pangkostrad (2014). Kepala Staf TNI Angkatan Darat atau KASAD (2015).

3. Djoko Kirmanto

Djoko KirmantoMantan Menteri Pekerjaan Umun Djoko Kirmanto. (Foto : Antara)

Djoko Kirmanto mantan Menteri Pekerjaan Umum Indonesia pada masa Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2004 hingga 2014. Pria kelahiran 5 Juli 1943 di Boyolali Jawa Tengah ini juga menjadi salah satu tokoh di Indonesia yang juga turut ambil bagian dalam memajukan bangsa Indonesia. 

Djoko menyelesaikan pendidikannya di jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 1969. Kemudian meneruskan pascasarjananya di Land and Water Development (IHE-Delft), Belanda pada tahun 1977. Setelah lulus kuliah, Djoko menjadi Site Engineer pada proyek Departemen Pekerjaan Umum (DPU): Pembangunan Pondasi Jembatan Karangsemut di Yogyakarta. Proyek inilah yang menjadi awal langkah Djoko menapak karier birokrasi di DPU.

Bergabung dengan DPU, Djoko menangani banyak proyek penting departemen tersebut. Antara tahun 1970-1974 dia sudah menjadi Asisten Perencana pada Proyek Irigasi Sadang, Sulawesi Selatan. Pada Proyek Pekalen di Jawa Timur (1976-1980), dia sudah menjadi Deputi Teknik. Setelah itu dia kembali menjadi Deputi Kepala Staf Proyek Irigasi IDA di Jakarta (1980-1983). Sampai akhir tahun 1980-an itu, pria 69 tahun ini masih beberapa kali ditugaskan dalam berbagai proyek pembangunan yang melibatkan DPU.

Pada 1991 Djoko menjabat sebagai Inspektorat Wilayah. Dalam satu dekade kemudian, dia sudah menjadi Direktur Jenderal Pengembangan Permukiman Departemen Pengembangan Wilayah. Selama 32 tahun lebih, Djoko mendedikasikan pengabdiannya di Pekerjaan Umum, sebelum akhirnya mengakhiri karier PNS sebagai Sekjen Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) pada November 2003.  

Riwayat karier Djoko  Kirmanto: Asisten perencana proyek irigasi Sadang Sulsel, Deputi Teknik Proyek Pekalen Sampean Jatim, Deputi Kepala Staf Teknik Proyek Irigasi IDA Jakarta, Pemimpin Proyek Banjir Jaya Ditjen Air, Direktur Bina Program Direktorat Cipta Karya, Asisten I bidang Pengembangan Pembangunan Perumahan Negara, Dewan Pengawas (Dewas) dari BUMN di bidang perumahan, Perum Perumnas, Komisaris Bumi Serpong Damai.

Setelah menjalani masa pensiun ia diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memimpin dan menghidupkan kembali DPU. Pembangunan perumahan yang menjadi bidang spesialisasi dan prioritasnya. Proyek yang ditawarkan pemerintah Indonesia kepada investor asing tersebut antara lain berupa pembangunan jalan tol dan air bersih di 24 lokasi di Indonesia.

Dalam kariernya tersebut dia sangat perhatian pada sektor perumahan, serta mendorong pembangunan perumahan secara horisontal di kota-kota besar sebagai upaya mengurangi permukiman kumuh. Dari kesuksesan kariernya tersebut, ia sudah memberikan banyak kontribusi bagi Indonesia. 

4. Bambang Widiyatmoko

Bambang WidiyatmokoBambang Widiyatmoko. (Foto : harnas.co/Teguh Indra)

Bambang Widiyatmoko adalah seorang peneliti Fisika LIPI kelahiran Boyolali tahun 1965 yang telah menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat yang juga diakui dunia internasional. Bambang Widiyatmoko 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang. Karya terbesar Bambang adalah Optical Frequency Comb Generator (OFCG) yaitu alat pencecah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan berbasis fiber optik. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai industri komunikasi di Jepang. Berkat temuannya tersebut Bambang diberi penghargaan berupa medali Anugerah Habibie dari The Habibie Center (THC), yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser yang hanya sebesar jari kelingking sebagai produk dasar. Kemudian Bambang menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara masal. Ide Bambang membuat pemancar sinar tersebut disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K. 

Dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi (K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang. 

Dengan kecerdasannnya tersebut, Bambang juga menghasilkan karya besar lainnya yaitu alat pendeteksi tsunami berbasis laser. Alat itu kini sudah dimanfaatkan di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai. dengan Alat pendeteksi tsunami ini, semua orang di daratan bisa mengantisipasinya.

Bentuk alat ini seperti tongkat yang ditanam di dasar laut. Berbeda dengan alat pendeteksi tsunami lain yang diapungkan dengan buoy. Apabila, buoy hilang dihantam ombak, lenyaplah alat tersebut.

Alat pendeteksi tsunami ini pernah ditawarkan ke Bappenas pada tahun 2004, namun sebelum ada jawaban terjadilah tsunami di Aceh. Hingga kini, alat Bambang juga masih belum dipakai di Indonesia. Alat tersebut justru populer di Jepang. 

Selain itu, Bambang juga telah menciptakan alat penghancur jarum suntik. Setelah menyuntik pasien, dokter tidak perlu lagi membuang jarumnya ke tempat sampah. Cukup dimasukkan ke dalam alat buatan Bambang tersebut. Nantinya jarum akan melebur menjadi serbuk. Dari peleburan jarum tersebut, bakteri yang menghuni pada jarum tersebut dipastikan mati. Di luar negeri banyak dibuat alat serupa, namun banyak suster ketakutan, sebab alat itu memancarkan api.

5. Presiden Joko Widodo

Presiden Jokowi(Foto: Facebook/Presiden Joko Widodo)

Siapa tak mengenal tokoh satu ini. Dedikasinya memajukan bangsa Indonesia sudah banyak dirasakan masyarakat. Mulai menjabat Presiden RI sejak 20 Oktober 2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014. Jokowi pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober 2012 sampai dengan 16 Oktober 2014 didampingi Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Sebelumnya, dia adalah Wali Kota Surakarta (Solo), sejak 28 Juli 2005 sampai dengan 1 Oktober 2012 didampingi Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota. Dua tahun menjalani periode keduanya sebagai Wali Kota Solo, Jokowi ditunjuk oleh partainya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), untuk bertarung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Jokowi lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi.  Ibu Jokowi, Sudjiatmi lahir dan tumbuh di Desa Giriroto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Sementara ayah Jokowi, almarhum Noto Mihardjo menjalani masa muda dan sekolah di desa itu bersama kakek dan neneknya. []