Komitmen Iklim Negara-negara Maju Dinilai Abaikan Keadilan

Komitmen terbaru untuk kurangi emisi gas rumah kaca di seluruh dunia gagal mempertimbangkan utang karbon negara-negara kaya terhadap negara miskin
Aktivis lingkungan demonstrasi demi iklim di Bayern, Jerman, September 2019 (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Komitmen terbaru untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di seluruh dunia gagal mempertimbangkan utang karbon negara-negara kaya terhadap negara miskin. Bagaimana keadilan iklim bisa tercapai? Ajit Niranjan melaporkannya untuk dw.com/id.

Ketika Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, menetapkan bahwa AS akan memangkas separuh emisi gas rumah kaca dari level tahun 2005 pada 2030 nanti, sembari mendesak China dan India untuk bertindak lebih, dia gagal meyakinkan pecinta lingkungan.

Potongan itu terasa besar, tapi nyatanya tidak menghentikan AS untuk melampaui batas emisi sesuai ukuran ekonomi seperti yang ditetapkan Perjanjian Paris 2015, menurut lembaga studi Climate Action Tracker.

Artinya meski sudah dikurangi separuh, jumlah emisi AS masih berada di zona merah yang memproyeksikan kenaikan suhu rata-rata Bumi di atas 2 derajat Celcius.

1. Peringkat Nengara-negara yang Terapkan Perlindungan Iklim di Dunia

Fenomena ini digugat karena mencederai keadilan. Tidak hanya menyumbang emisi gas rumah kaca lebih banyak dari negara lain di dunia, AS juga punya dana paling tebal untuk menanggulangi krisis iklim.

Komitmen emisi AS hanya membantu mencapai jumlah potongan emisi yang "mendekati atau hanya sejengkal” dari yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu di bawah 2 derajat Celcius, kata Andreas Geiges, peneliti Climate Analytics.

Peringkat nengara-negara iklimPeringkat nengara-negara yang terapkan perlindungan iklim di dunia (Foto: dw.com/id)

Bahkan, tanpa menghitung jumlah emisi yang dibuat di masa lalupun, pengurangan jejak karbon AS tidak mencukupi untuk proyeksi suhu di bawah 1,5 derajat Celcius yang lebih ambisius.

Ketika negara-negara di dunia merumuskan komitmen iklim jelang konferensi COP26 pada November 2021 mendatang, politisi dan penggiat lingkungan ramai membicarakan "keadilan iklim.” Belakangan istilah ini giat diadopsi oleh peneliti atau muncul dalam retorika politik.

"Kami menuntut Anda berhenti menghukum negara di selatan (negara berkembang), dan komunitas hitam, cokelat atau masyarakat adat, melalui penjarahan lingkungan,” kata aktivis Meksiko, Xiye Bastida, saat berpidato di hadapan konferensi iklim yang digelar AS baru-baru ini.

"Solusi harus dibuat selaras dengan fakta bahwa keadilan iklim adalah keadilan sosial.”

2. Apa Itu Keadilan Iklim?

Keadilan iklim mengakui bahwa mereka yang paling banyak menciptakan emisi, juga yang paling aman dari dampaknya terhadap iklim Bumi. Artinya negara-negara industri maju mengemban tanggung jawab lebih besar dalam perang melawan iklim.

isu5Perlindungan Iklim dan Pemanasan Global (Foto: dw.com/id)

Tapi sejauh ini istilah itu masih jauh panggang dari api. "Kita semua menghadapi krisis iklim, tapi kita tidak bersama-sama,” tulis Guru Besar Filsafat di Universitas Georgetown, Olúfẹ́mi Táíwò, kepada DW, Maret lalu.

Setiap tahun, negara kaya menghasilkan 10 kali lipat emisi CO2 ketimbang negara miskin seperti India, atau 20 kali lipat ketimbang negara Afrika seperti Nigeria. Kesenjangan ini semakin lebar jika mengingat bahwa negara industri sudah lebih lama mengotori atmosfer Bumi.

Studi yang dirilis di jurnal Ilmiah, Lancet Planetary Health, September lalu, menyimpulkan negara industri maju bertanggungjawab atas 92% jumlah emisi CO2 di dunia yang melebihi batas aman konsentrasi atmosfer, yakni 350 ppm. Sementara negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, hanya bertanggungjawab atas 8% dari gas berlebih di atmosfer Bumi.

Studi itu mengurangi emisi total sebuah negara dengan jumlah ideal yang mencerminkan ukuran ekonominya. Dengan mengukur perubahan populasi, dan emisi dari komoditas yang diekspor ke luar negeri, para peneliti menyimpulkan bahkan Cina yang kini penghasil polusi CO2 paling besar sekali pun, hanya menghabiskan jatah emisinya.

"Hasilnya sangat mengejutkan,” kata Prakash Kshwan, Guru Besar Politik di Universitas Connecticut, AS, yang ikut menulis studi. "Ketimpangan seperti ini lah yang menyeret kita ke krisis iklim saat ini. Fenomena ini sulit dipercaya, tapi kita tidak banyak membicarakannya.”

Saat ini pun dampak perubahan iklim lebih terasa di negara berkembang, ketimbang negara maju. Di Asia, pemanasan global yang disebabkan emisi gas rumah kaca tidak hanya mengancam sumber air bersih bagi 1,5 miliar manusia di Asia Selatan, tetapi juga kehidupan warga di kawasan pesisir yang rentan oleh kenaikan permukaan air laut (rzn/ts)/dw.com/id. []

Berita terkait
Dampak yang Dahsyat Bagi Manusia Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim akan membawa efek yang sangat dahsyat terhadap manusia sebagai penghuni di Bumi
Amerika Desak Kerja Sama Global Untuk Perubahan Iklim
John Kerry, Utusan Khusus Presiden AS, untuk urusan iklim mendesak kerja sama antara AS dan China, serta negara-negara lain dalam perubahan iklim
0
3 Petenis Top Dunia Melaju ke Putaran Kedua Prancis Terbuka
Turnamen tenis grand slam Prancis Terbuka 2021 sudah menyelesaikan putarna pertama, tanpa kejutan yang berarti