UNTUK INDONESIA
Kiriman Uang TKI dan Pekerja Migran Vietnam
Pekerja migran Vietnam memakai jasa penyelundup manusia agar bisa bekerja di luar negeri demi meningkatkan kehidupan di kampung halamannya
Posko pengaduan TKI/TKW Indramayu. (Foto: Ist)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Polisi Inggris menemukan 39 jasad di dalam kontainer berpendingan di Essex, Inggris, Rabu, 23 Oktober 2019. Jasad terdiri atas 31 laki-laki dan 8 perempuan. Penyidikan polisi setempat menemukan bahwa korban adalah imigran asal Vietnam. Mereka menyabung nyawa sebagai pekerja migran ilegal untuk meraup uang yang akan dikirim ke kampung halaman sebagai bagian dari upaya mengatasi pengangguran dan kemiskinan di kampung halamannya.

Warga Vietnam membayar ratusan juta rupiah hanya untuk diselundupkan ke negara-negara Eropa sebagai pekerja migran ilegal. Tingkat pengangguran yang tinggi di Vietnam mendorong warganya jadi pekerja migran. Salah satu desa yang jadi ‘sumber’ pekerja migran adalah Do Thanh. Desa ini disebut desa kaya di Vietnam karena banyak rumah mewah di sana. Tapi, di balik kemewahan desa itulah nasib 39 pekerja migran yang tewas di Inggris.

Seperti dilaporkan Deutsche Welle (dw.com), 2 November 2019, Desa Do Thanh sekilas seperti sebuah surga keluarga. Tapi, di balik kemewahan desa itu tersimpan fakta kemiskinan dan pengangguran. Hampir 80% gedung, rumah dan gereja yang mewah di desa itu dibangun dengan uang kiriman dari kerabat pemilik rumah yang bekerja sebagai buruh migran di Eropa atau Amerika Serikat.

Kepala Desa Do Thanh kepada dw.com mengatakan: "Jika Anda bekerja di Vietnam, butuh waktu yang sangat lama untuk bisa membangun rumah sebesar ini." Tanpa buruh migran desa itu tetap akan terbelenggu kemiskinan.

Uang kiriman kerabat mereka yang bekerja di luar negeri jadi modal untuk membangun rumah. Sebuah rumah mewah memerlukan dana satu miliar dong atau setara dengan Rp 600 juta. Maka, tidak mengherankan kalau kemudian desa itu dijuluki desa miliarder. Banyak penduduk desa yang dikabarkan kaya mendadak berkat kiriman uang kerabat yang bekerja di luar negeri.

Dari 39 korban yang ditemukan di kontainer berpendingan di Essex ternyata ada tiga warga Desa Do Thanh. Mereka nekad membayar 50.000 dolar AS (setara dengan Rp 700 juta) kepada penyelundup manusia agar bisa bekerja di Inggris.

Biar pun risiko diselundupkan ke Inggris besar, tapi warga desa itu tidak takut karena mereka tergiur kekayaan tetangganya karena ada kerabatnya yang mengirim uang dari luar negeri. Mereka memilih ke Eropa untuk bersaing dengan tetangga yang keluarganya bekeja di Eropa. Soalnya, upah minimum di Vietnam sekitar 181 dolar AS atau sekitar Rp 2,6 juta. Maka, sangat beralasan warga Vietnam memilih jadi pekerja migran agar bisa mengirim uang lebih banyak ke keluarganya.

Catatan Bank Dunia menunjukkan pada tahun 2018 buruh migran Vietnam mengirimkan uang 16 miliar dolar AS ke kampung halaman mereka. Angka ini disebut meningkat 130% dalam satu dekade terakhir. Jumlah ini dua kali lebih besar daripada surplus perdagangan Vietnam tahun 2018.

Dengan jumlah pekerja migran yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Vietnam, ternyata kiriman uang (remitansi) dari tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri lebih kecil daripada kiriman pekerja migran Vietnam. Pada tahun 2018, seperti dilaporkan BI, kiriman uang TKI sebesar 10,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 151 triliun. Ini dikirim oleh 3,65 juta TKI. Sedangkan remitansi tenaga kerja asing sebesar 3,4 miliar dolar AS.

Laporan ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Buruh Sedunia menyebutkan pekerja migran Vietnam mencapai 540.000. Angka ini jauh lebih banyak daripada dari jumlah TKI, tapi mengapa jumlah uang kiriman ke negara asal berbeda?

Begitu juga remitansi TKA dengan jumlah 100.000 mereka membawa pulang uang dari Indonesia 3,4 miliar dolar AS. Sedangkan 3,65 juta TKI di luar negeri hanya membawa masuk uang 10,8 miliar dolar AS.

Bisa jadi upah yang diterima pekerja migran Vietnam lebih tinggi daripada upah yang diterima TKI. Begitu juga dengan TKA. Jumlah TKA sedikit tapi perbandingan uang masuk dari TKI dan uang keluar TKA 1:3. Begitu juga dengan jumlah pekerja migran Vietnam yang hanya 540.000 atau 14,8 persen dari TKI, tapi uang kiriman mereka hampir dua kali lipat dari kiriman TKI.

Tentu saja kita berharap agar Menaker Ida Fauziyah bisa memberikan jawaban yang tuntas seputar perbedaan jumlah uang kiriman TKI dan pekerja migran Vietnam. Sedangkan TKA yang bekerja di Indonesia memakai standar upah di negaranya sehingga jauh lebih besar daripada gaji buruh lokal.

Perlu juga membuat perjanjian dengan negara-negara tujuan TKI agar upah pekerja migran Indonesia dihitung berdasarkan kebutuhan hidup di negara tempat TKI bekerja. Ini juga merupakan bagian dari diplomasi Indonesia (Bahan dari: dw.com, ILO, dan sumber-sumber lain). [] 

Berita terkait
Menaker Ida Fauziyah Wujudkan Zona Bebas Pekerja Anak
Pekerja anak merupakan persoalan yang serius di Indonesia karena mereka terpaksa meninggalkan bangku sekolah dan menerima upah yang tidak layak
Polda Sumut Gagalkan Pengiriman TKI Ilegal
Polda Sumut berhasil menggagalkan 25 orang pengiriman tenaga kerja Indonesia ilegal.
Gigi TKW Asal Aceh Rontok, Disiksa Majikan di Malaysia
Seorang TKW asal Aceh bernama Anisa disiksa majikan di Malaysia. Penyiksaan tersebut membuat giginya rontok dan kulit melepuh.
0
Ahok Masuk BUMN di Mata Dosen UGM Yogyakarta
Ahok dikabarkan mengisi jabatan tinggi di BUMN. Statusnya mantan napi tidak masalah, yang menjadi masalah statusnya sebagai kader partai politik.