UNTUK INDONESIA
Kiprah Kota-kota di Dunia Atasi Iklim dan Energi Terbarukan
World Cities Day yang diperingati tiap tanggal 31 Oktober merupakan gambaran kiprah kota-kota di dunia mengatasi perubahan iklim
Singapura: Ruang hijau (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Jumlah orang yang tinggal di perkotaan diperkirakan akan membengkak pada dekade mendatang, menambah tekanan pada kota metropolitan untuk mengurangi jejak karbon. Jadi, bagaimana upaya mengatasinya? World Cities Day diperingati tiap tanggal 31 Oktober merupakan gambaran bagaimana kiprah kota-kota di dunia mengatasi perubahan iklim.

Beberapa kota di dunia mengatasi perubahan iklim seperti yang dipaparkan Natalie Muller di dw.com/id yang disadur Tagar.

tantangan pertumbuhanTantangan pertumbuhan berkelanjutan (Foto: dw.com/id)

Tantangan pertumbuhan berkelanjutan. Menurut PBB, wilayah perkotaan menghabiskan lebih dari dua pertiga energi dunia dan bertanggung jawab atas 70% emisi karbon. Kota juga merupakan rumah bagi lebih dari separuh penduduk planet ini. Dengan perkiraan peningkatan populasi perkotaan, upaya kota-kota ini menangani air, polusi, limbah, transportasi dan energi menjadi sangat penting unguk mengatasi perubahan iklim.

kopenhagenKopenhagen: Komitmen netralitas iklim (Foto: dw.com/id)

Kopenhagen: Komitmen netralitas iklim. Kopenhagen berencana menjadi kota netral karbon pertama di dunia pada tahun 2025. Untuk sampai pada tujuan ini, ibu kota Denmark ini ingin 75% perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, bersepeda atau dengan transportasi umum. Harga parkir mobil pun dinaikkan dan diinvestasikan untuk ratusan kilometer jalan sepeda. Sistem pemanas kota juga beralih menggunakan biomassa ramah lingkugnan.

bogotaBogota: Mobilitas bagi jutaan orang (Foto: dw.com/id)

Bogota: Mobilitas bagi jutaan orang. Data PBB menunjukkan bahwa sistem angkutan cepat bus di ibu kota Kolombia yang diluncurkan sejak tahun 2000 ini berhasil menurunkan emisi CO2 dan meningkatkan kualitas udara. Jaringan TransMilenio di Bogota mengangkut 2,4 juta penumpang setiap harinya dan mencakup 85% wilayah kota. Pemerintah berencana membuka metro pada 2022 dan mengganti bus diesel dengan bus hybrid dan lsitrik pada 2024.

johannesburgJohannesburg: Bertani di kota (Foto: dw.com/id)

Johannesburg: Bertani di kota. Afrika dengan pertumbuhan kota tercepatnya di dunia menjadi tatanngan baru terkait permasalahan iklim seperti kerawanan pangan dan air. Di Johannesburg, Afrika Selatan, penduduk seperti Lethabo Madela menanam tanaman obat dan sayuran. Pejabat mengatakan kepada Reuters bahwa ada 300 pertanian semacam ini di kota berpenduduk 4,4 juta ini - di atap rumah, halaman belakang dan tanah kosong.

singapuraSingapura: Ruang hijau (Foto: dw.com/id)

Singapura: Ruang hijau. Selain menyediakan makanan, taman juga dapat mendinginkan kota, menyerap CO2 dan mencegah banjir. Pusat bisnis Singapura terkenal akan jaringan area hijau dan taman yang mengesankan, termasuk Gardens by the Bay yang ikonik. Semua bangunan baru di negara-kota padat penduduk ini harus memiliki beberapa bentuk vegetasi, seperti taman gantung atau atap hijau.

osloOslo: Fokus kepada kualitas udara (Foto: dw.com/id)

Oslo: Fokus kepada kualitas udara. Ibu kota Norwegia ingin mengatasi polusi udara dengan membuat semua mobil bebas emisi pada 2030. Oslo, dengan penduduk sekitar 690.000 orang, saat ini memiliki jumlah kendaraan listrik per kapita tertinggi di dunia. Pengemudi mendapatkan fasilitas seperti kredit pajak, akses jalur bus dan perjalanan gratis di jalan tol. Ketika polusi tinggi, kota dapat melarang sementara penggunaan mobil diesel.

seoulSeoul: Berurusan dengan sampah (Foto: dw.com/id)

Seoul: Berurusan dengan sampah. Seoul berhasil kurangi limbah secara dramatis sejak tahun 1990-an dengan sistem "bayar saat membuang". Kota padat penduduk di Korea Selatan ini mendaur ulang 95% limbah makanannya, misalnya dengan tempat sampah otomatis yang menimbang dan menagih penduduk atas apa yang mereka buang dengan kartu identitas yang bisa dipindai. Limbah makanan kemudian diubah menjadi kompos, pakan ternak atau biofuel.

rotterdamRotterdam: Air dan pasang naik (Foto: dw.com/id)

Rotterdam: Air dan pasang naik. Rotterdam rentan terhadap ancaman iklim seperti pasang naik karena berada di bawah permukaan laut. Untuk berlindung dari banjir, telah dibangun taman di puncak gedung untuk menyerap limpasan air, "alun-alun air" untuk menampung air hujan dan garasi parkir yang dirancang sebagai waduk. Pemerintah juga membangun struktur terapung - termasuk peternakan sapi ini - untuk menahan air yang merambah.

reykjavikReykjavik: 100% energi terbarukan (Foto: dw.com/id)

Reykjavik: 100% energi terbarukan. Islandia dapat menghasilkan energi terbarukan dengan cukup murah berkat melimpahnya sumber daya hidro dan panas bumi. Ibu kotanya, Reykjavik, adalah kota Eropa pertama yang sepenuhnya mengandalkan listrik terbarukan untuk menghangatkan rumah dan kolam renang. Bahan bakar fosil masih digunakan untuk transportasi dan perikanan, tetapi kota ini berharap dapat menghapus emisi tersebut pada tahun 2040.

vancouverVancouver: Bangunan hijau (Foto: dw.com/id)

Vancouver: Bangunan hijau. Bangunan merupakan sumber utama emisi di kota karena daya yang mereka gunakan untuk penerangan, pendinginan dan pemanas. Vancouver ingin menjadikan semua bangunan baru netral karbon pada tahun 2030 dan bangunan lama pada tahun 2050. Contohmya Vancouver Convention Center yang memiliki atap hijau dengan 400.000 tanaman untuk mengisolasi panas dan menggunakan air laut untuk pemanasan dan pendinginan.

surabayaSurabaya: Sampah botol plastik untuk tiket bus (Foto: dw.com/id)

Surabaya: Sampah botol plastik untuk tiket bus. Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan utama. Kota terbesar kedua di Indonesia ini terpilih oleh Guangzhou Institute for Urban Innovation sebagai salah satu kota paling berkelanjutan. Pemerintah kota meluncurkan proyek bus 'Suroboyo' yang memungkinakan penumpang membayar tiket dengan botol plastik bekas dan berhasil mengumpulkan hingga 250 kg sampah plastik tiap harinya. (Ed.: st/ae)/dw.com/id. []

Berita terkait
Lima Wisata di Dunia yang Punya Iklim Ekstrem
Beberapa tempat wisata beriklim ekstrem tersebut bisa dibilang mustahil dicapai manusia.
Masalah Sosial Kendala Indonesia Kembangkan Energi Terbarukan
Founder dan Executive Director IDNextLeader Foundation Hokkop Situngkir, menilai masalah sosial menjadi kendala terbesar Indonesia kembangkan EBT.
Menhub Budi Karya Harus Benahi Transportasi Perkotaan
Transportasi perkotaan di kota-kota besar di Indonesia tidak efisien sehingga diperlukan rekayasa teknologi transportasi agar efektif dan efisien
0
Upaya Kementerian PUPR Atasi Kekurangan Perumahan
Kementerian PUPR berupaya mengatasi kekurangan perumahan (backlog) dan mendorong masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) memiliki rumah layak huni.