Jakarta, (Tagar 25/12/2018) - Musibah tsunami yang terjadi di sebagian wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12) benar-benar mengagetkan seluruh negeri.

Keceriaan para pengunjung kawasan wisata di kawasan tersebut yang ingin menikmati libur panjang Natal dan Tahun Baru berubah menjadi kepanikan saat gelombang tinggi menerjang dalam waktu sekejap.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Selasa siang (25/12), korban meninggal dunia telah mencapai 429 orang, luka-luka 1.485 orang, hilang 154 orang dan pengungsi 16.082 orang.

Tsunami tersebut berdampak pada lima kabupaten yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten, serta Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus Provinsi Lampung.

Banyaknya korban tersebut diduga karena penyebab tsunami bukan gempa tektonik sehingga Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak mengeluarkan peringatan.

Untuk itu, ucapan doa dalam perayaan Natal kali ini menggema untuk para korban maupun keluarga yang terdampak bencana alam tersebut.

Dalam Misa di Katedral, Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo memimpin doa bagi para korban dan keluarga yang terdampak tsunami di Selat Sunda.

"Semoga para korban yang meninggal dunia diberikan kebahagiaan abadi, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," kata Ignatius di Katedral Jakarta, Selasa (25/12) mengutip kantor berita Antara.

Doa tersebut disampaikan dalam salah satu rangkaian prosesi Misa Pontifikal Natal 2018 atau misa bersama uskup agung yang diikuti seribuan umat Katolik di Jakarta dan sekitarnya.

Selain menyampaikan dukacita dan doa bagi para korban yang terdampak tsunami, Ignatius juga berdoa agar musibah bencana alam itu dapat menggerakkan kepedulian sosial masyarakat.

"Semoga kejadian ini menggerakkan kita semua untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," katanya.

Pastor Gereja Katolik Santo Yoseph Matraman bersama jemaat juga ikut mendoakan masyarakat yang menjadi korban tsunami yang terjadi di Selat Sunda.

"Kita mohonkan kerahiman dan belas kasih Allah bagi mereka yang menjadi korban dan juga bagi keluarga atau sanak saudara yang ditinggalkan, diberi rahmat penghiburan dan kekuatan," ujar Pastor Dominikus Beda Udjan di sela-sela misa Natal pagi di Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta.

Ia juga menuturkan sejauh ini tidak ada jemaat Gereja Santo Yoseph Matraman, Jakarta Timur, yang dilaporkan menjadi korban dalam musibah tersebut.

"Sampai saat ini info yang saya terima, belum ada jemaat kami yang menjadi korban," ujarnya.

Tunda Ibadah

Doa serupa kepada para korban bencana tsunami di Banten dan Lampung juga diutarakan oleh jemaat ibadah Natal di Huria Kristen Batak Protestan (HKPB) Rawamangun, Jakarta Timur.

"Kita turut mendoakan, tadi di dalam khutbah Natal diajak untuk mendoakan para korban," kata pengurus gereja Jerry Panjaitan saat ditemui di Jakarta.

Pengurus Gereja HKPB Rawamangun juga sedang mempertimbangkan untuk memberikan bantuan kepada korban seperti saat terjadi musibah gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah.

"Waktu bencana Palu kami sumbangkan juga materi dan baju, kita kirim langsung ke Palu. Kemungkinan nanti juga dirapatkan dulu tetap kita partisipasi membantu korban," katanya.

Sementara itu, Gereja Pantekosta Pantai Carita, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, memutuskan untuk menunda ibadah misa Natal setelah terjadinya bencana alam tersebut.

Pendeta Gereja Pantekosta Rahmat mengatakan ibadah kemungkinan baru bisa dilakukan pada sore hari ketika suasana sudah relatif normal dan aktivitas masyarakat mulai menggeliat.

Pada awalnya, pengurus Gereja sudah menyiapkan penataan ruangan, tempat duduk maupun jamuan makanan untuk perayaan Natal. Namun, Tuhan berkehendak lain dengan adanya gelombang tsunami tersebut.

"Kita menerima kejadian bencana alam karena itu kehendak Tuhan," katanya.

Identifikasi penyebab

Menanggapi bencana alam ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan telah mengoordinasikan para ahli untuk menyelidiki dan mengidentifikasi penyebab dari terjadinya bencana tsunami di Selat Sunda.

"Bahwa ini bukan tsunami karena gempa vulkanik tapi karena longsor seluas 64 hektare dari gunung anak Krakatau," kata Luhut dalam siaran pers Kemenko Kemaritiman yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ia mengemukakan bahwa hal tersebut merupakan teori awal yang disimpulkan tim yang sudah mulai bekerja sejak hari Minggu (23/12).

Koordinasi dilaksanakan dengan melibatkan para ahli dari berbagai instansi seperti BPPT, LIPI, BMKG, BIG, LAapan, Pushidros TNI-AL dan Kementerian ESDM.

Analisis sementara para ahli mengarah pada terjadinya anak gunung Krakatau, yaitu adanya material yang lepas dalam jumlah banyak di lereng terjal yang dipicu oleh tremor dan curah hujan tinggi.

Untuk membuktikan kebenaran teori tersebut, tim akan melakukan survei geologi kelautan dan bathymetri di komplek Gunung Krakatau setelah situasi dirasa aman dan memungkinkan.

Selain survei laut, tindak lanjut tim tersebut antara lain akan dilakukan konfirmasi citra satelit resolusi tinggi oleh LAPAN, survei udara oleh BPPT, data GPS dan PASUT oleh BMKG, BIG, Pushidros TNI-AL, serta melibatkan industri di kawasan.

Khusus mengenai solusi jangka panjang dalam menghadapi bencana alam, pemerintah sedang merancang kebijakan yang lebih terintegrasi dan holistik/ menyeluruh di bawah koordinasi Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan fokus utama saat ini adalah evakuasi dan pencarian korban.

"Karena masih banyak korban yang dilaporkan hilang jadi fokus utama kita adalah evakuasi dan pencarian korban," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta.

Selain itu, BNPB juga fokus pada penanganan korban luka-luka, penanganan pengungsi serta perbaikan darurat sarana dan prasarana umum yang rusak akibat tsunami.

Selain lewat jalur darat, pencarian juga dilakukan melalui operasi laut dimana TNI AL dengan KRI mencari korban yang hanyut karena sebagian jalur darat masih terhambat.

Operasi laut juga dilakukan untuk mendistribusikan bantuan terutama untuk daerah yang sulit dijangkau.

Terdapat satu kecamatan yaitu Kecamatan Sumur di Pandeglang yang masih terisolasi karena akses transportasi terhambat. Dari tujuh desa di kecamatan tersebut baru satu desa yang terjangkau tim gabungan.

Keenam desa yang masih terisolasi dan membutuhkan bantuan tersebut yaitu Desa Cigorondong, Kertajaya, Sumberjaya, Tunggajaya, Ujungjaya dan Kertamukti. []