Ketimpangan dan Inflasi Hambat Pemulihan Akibat Pandemi Covid-19

Pemulihan ekonomi global dari krisis akibat pandemi Covid-19 tahun ini lambat karena negara-negara hadapi kenaikan harga, beban utang yang tinggi
Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) (Foto: voaindonesia.com/Reuters)

Jakarta – Pemulihan ekonomi global dari krisis akibat pandemi Covid-19 tahun ini akan lambat karena negara-negara menghadapi kenaikan harga, beban utang yang tinggi, dan pemulihan yang beragam. Negara-negara miskin akan tertinggal dari negara-negara kaya,” ujar Kristalina Georgieva, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), 5 Oktober 2021.

Meskipun memiliki ratusan miliar dolar untuk membantu negara-negara pulih dari bencana, Georgieva mengatakan faktor-faktor seperti kenaikan harga pangan dan akses vaksin yang tidak setara, menghambat pemulihan.

“Kita menghadapi pemulihan global yang terus dibebani pandemi dan dampaknya. Kita tidak bisa melangkah maju dengan baik," kata Georgieva dalam pidato yang disampaikan secara virtual dari Washington ke Universitas Bocconi di Milan.

IMF, pemberi pinjaman pada saat negara menghadapi krisis, dan berbasis di Washington, akan merilis perkiraan pertumbuhan baru pekan depan. Menurut Georgieva, perkiraan tahun ini sedikit turun dari enam persen pada Juli. Ia menambahkan, "risiko dan hambatan bagi pemulihan global yang seimbang semakin menjadi jelas." (ka/lt)/voaindonesia.com. []

IMF: Pemulihan Ekonomi Global Lebih Cepat dari Ekspektasi

Joe Biden Bahas Isu-isu Global dengan Pemimpin Dunia

Presiden Biden Akan Selaraskan Sistem Sanksi Global AS

Biden Agendakan Vaksinasi dan Pemulihan Ekonomi di KTT G7

Berita terkait
Komitmen Indonesia untuk Pemulihan Ekonomi Global
Indonesia memiliki kesempatan untuk ikut menentukan arah desain kebijakan pemulihan ekonomi global
0
Ketimpangan dan Inflasi Hambat Pemulihan Akibat Pandemi Covid-19
Pemulihan ekonomi global dari krisis akibat pandemi Covid-19 tahun ini lambat karena negara-negara hadapi kenaikan harga, beban utang yang tinggi