Untuk Indonesia
Ketika Nyamuk dan Semut Saja Takut pada Prabowo
Tulisan Denny Siregar menanggapi cerita asisten pribadi Prabowo yang mengatakan Prabowo bisa bicara dengan semut dan nyamuk.
Di atas sunroof mobil capres nomor urut 02 Prabowo Subianto menyapa para pendukungnya. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Oleh: Denny Siregar*

"Aspri ceritakan momen Prabowo bicara dengan semut dan nyamuk"

Begitu judul di beberapa media online yang kredibilitasnya terpercaya. Awalnya saya ketawa ngakak baca judul berita itu. Saya pikir, "Ah, ini pasti clickbait." Clickbait adalah judul yang provokatif dari sebuah media online, supaya pembaca terkecoh untuk membuka situs itu, tapi isi dan judulnya ternyata beda.

Tapi sesudah membaca isinya, saya tambah ketawa sampai dompet terguncang-guncang. Isi beritanya aneh dan lucu, dan ternyata fakta.

Berita itu tentang asisten pribadi Prabowo yang menceritakan betapa hebatnya bosnya itu sampai bisa ngobrol dengan semut dan nyamuk. What? Semut dan nyamuk? Iya, benar ternyata, setidaknya dari cerita aspri itu tadi yang sudah dapat izin untuk cerita ke banyak orang lewat akun Instagramnya.

Gak masuk akal memang, tapi begitulah yang diceritakan. Ada cerita Prabowo mau makan ikan salmon, ternyata ikannya dikerubuti semut. Terus Prabowo bicara sama semut, "Semut, saya mau makan, tolong kamu jangan di sini." Terus semutnya pergi dan Prabowo memakan salmonnya.

Cerita Prabowo bicara dengan semut dan nyamuk itu, bukan cerita lucu-lucuan. Itu bagian dari propaganda supaya pendukungnya lebih percaya bahwa Prabowo itu benar-benar "titisan Allah". Dia bukan manusia biasa, tetapi orang yang dikirimkan. The One. Sang pembawa pesan.

Ada lagi cerita Prabowo menyapa para nyamuk yang hinggap di tangannya, "Nyamuk, saya mau rapat, tolong kamu jangan di sini." Si nyamuk langsung pergi.

Konyol dan menggelikan. Seperti membaca seseorang yang punya ilmu kanuragan tingkat tinggi bahkan nyaris selevel Nabi yang bisa bicara dengan bahasa hewan.

Pertanyaannya, untuk apa sebenarnya cerita gila itu dikeluarkan?

Kalau kita melihat jejak digital, pendukung Prabowo itu aneh-aneh. Ada yang percaya bahwa Prabowo itu titisan Allah. Ada yang bilang bahwa Tuhan malu tidak memenangkan Prabowo. Bahkan ada yang bilang bahwa KPU kena sihir.

Cerita Prabowo bicara dengan semut dan nyamuk itu, bukan cerita lucu-lucuan. Itu bagian dari propaganda supaya pendukungnya lebih percaya bahwa Prabowo itu benar-benar "titisan Allah". Dia bukan manusia biasa, tetapi orang yang dikirimkan. The One. Sang pembawa pesan.

Dengan begitu, akan timbul fanatisme berlebih dari pendukungnya untuk menaikkan narasi bahwa kekalahan Prabowo itu karena semua curang. Dan diharapkan tujuan akhir dari fanatisme itu adalah gerakan massa untuk membela "utusan Tuhan".

Memang tidak masuk akal sehat bagi mereka yang waras, bahkan jadi bahan tertawaan. Tapi ini bagian dari narasi "membangun berhala" mirip cerita Samiri dengan penyembah patung sapi emas di masa Nabi Musa as. Akal sehat dihilangkan demi mencapai tujuan.

Dan percaya atau tidak, orang bodoh dan fanatik ketika dibungkus agama, akan menjadi senjata yang berbahaya.

Narasi ini bisa dibilang narasi terpanik dari "penghasut" di kubu Prabowo. Siapa lagi kalau bukan kelompok yang panik jika Jokowi menang dan mereka akan semakin dihabiskan dalam periode mendatang. Yaitu orang-orang HTI dan ormas radikal.

Sesudah membangun narasi bahwa Prabowo adalah pemimpin hasil ijtimak ulama, sekarang dinaikkan levelnya menjadi utusan Tuhan. Gila, kan?

Gila memang. Segila orang yang percaya pada cerita itu. Tapi dalam masa genting ketika real count KPU sudah mengindikasikan bahwa Jokowi menang, harus ada cerita-cerita gila untuk menghadangnya. Narasi C1 sudah, narasi tempat real count BPN yang diretas dan berpindah-pindah sudah.

"Apa lagi ya? O iya, gimana kalo bikin Prabowo jadi Nabi saja? Gilakan sekalian aja pendukung fanatik kita."

Argghhh... rasanya ingin tenggak secangkir kopi, bukan seruput kopi.

Prabowo ternyata lebih sakti dari Obbie Messakh yang hanya malu pada semut merah yang berbaris di dinding dan menatapnya curiga. Prabowo malah bisa berbicara dengan mereka!

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
0
Kampung Statistik Pertama Indonesia di Makassar
Unhas dan BPS provinsi Sulawesi Selatan meresmikan kampung statistik. Ini tujuannya