Oleh: Denny Siregar*

"Gus Nur jadi tersangka, Palu langsung gempa!"

Begitu teriakan Shobri Lubis, Ketua umum FPI, minggu kemarin. Yang dia maksud Gus Nur adalah Sugik Nur Raharja, yang entah kapan menyandang gelar "Gus" karena biasanya sapaan Gus itu di kalangan NU diperuntukkan sebagai panggilan kehormatan untuk putra Kiai, sedangkan Sugik sama sekali bukan keturunan Kiai.

Sugik Nur - yang dianggap ustaz oleh para pengikutnya meskipun tidak jelas pernah nyantri di mana - memang sudah menjadi tersangka karena dilaporkan Banser NU sebab dianggap menghina mereka. Keterangan ini pun dibenarkan Sugik sendiri sambil ngomel-ngomel di depan kamera.

Entah bagaimana penjelasan teknisnya sehingga penetapan si Sugik yang terkenal dengan dakwahnya "matamu picek" itu, disambungkan dengan gempa dan tsunami di Palu yang terjadi karena patahan aktif itu.

Mungkin menurut versi FPI, Tuhan sayang pada Sugik Nur karena sering mengeluarkan kalimat-kalimat suci seperti "dobol", "jancuk", "matamu" dalam dakwah-dakwahnya sehingga harus mengeluarkan kemarahannya dengan menghadirkan gempa dan tsunami di Palu yang menelan korban lebih dari 800 orang meninggal dunia.

Tuhan dalam versi FPI ini memang kejam sekali, malah mungkin juga membenci Jokowi karena status tersangkanya Sugik Nur terjadi pada masa Jokowi berkuasa. Tuhan bagi mereka sangat bisa dinegosiasi saat Pilpres dan Pilkada berlangsung untuk harus memilih yang sama dengan yang mereka pilih juga. Kalau tidak, itu pasti bukan Tuhan.

Jadi wajar saja ketika FPI terus berhalusinasi bahwa penyebab gempa dan tsunami di Palu adalah karena Sugik Nur yang dulunya mantan agen MLM itu menjadi tersangka. Apa sih yang gak mungkin bagi FPI? Semua mungkin, asal mau satu barisan dengan mereka.

Kedangkalan berpikir melalui doktrinan FPI ini jelas-jelas mendegradasi akal umatnya. Umat yang "hooh hooh" saja karena dipikirnya yang ngomong ulama ini, adalah masalah besar yang akan menjadi penyakit di Indonesia pada masa depan. Umat Islam sulit cerdas ketika mereka selalu digiring ke masalah agama bahkan dalam masalah-masalah teknis bencana seperti gempa di Palu ini.

Dan banyak yang menikmati hal ini karena buat mereka, orang bodoh adalah bala tentara yang bisa dimanfaatkan buat apa saja. Karena jika umatnya pintar, maka mereka bisa keluar dari barisan.

Saya jadi teringat perkataan Khalifah Ali bin abu Thalib ra, "Jika ingin menghancurkan sebuah agama, maka giringlah orang-orang bodoh dalam membela agama tersebut."

Seruput dulu, mata piceknya... eh, kopinya....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi