Ketika Donald Trump Tidak Lagi Jadi Presiden Amerika Serikat

Presiden Trump sejauh ini tidak mengakui kekalahan, tapi itu tidak menjamin dia akan tetap tinggal di Gedung Putih yang menimbulkan spekulasi
Presiden AS, Donald Trump (Foto: dw.com/id).

Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ini belum akui kekalahannya dalam pemilihan presiden (Pilpres) 3 November 2020, tapi bukan berarti dia bisa tinggal di Gedung Putih selamanya. Dari gugatan hukum hingga ke dunia televisi, DW melihat prospek Trump selepas masa kepresidenan. Kristie Pladson menuliskannya untuk dw.com/id yang dilansir Tagar.

Satu minggu sudah berlalu sejak proyeksi kemenangan mantan Wakil Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, dalam Pilpres di Amerika Serikat. Bila resmi menang, pelantikan Biden akan dilakukan dalam waktu lebih dari dua bulan mendatang. Namun, saat ini Biden sudah mulai beraksi, minggu ini ia bertemu dengan para ahli untuk membahas rencana aksi melawan wabah virus corona.

Banyak yang kemudian bertanya-tanya, bagaimana dengan Donald Trump, presiden yang sejauh ini menolak untuk secara terbuka menerima kekalahan elektoralnya itu. Kecuali ada perubahan besar, Donald Trump akan keluar dari Gedung Putih bagaimanapun caranya pada 20 Januari 2021.

Berikut hal-hal yang kemungkinan telah menunggunya setelah meninggalkan kantor kepresidenan:

1. Tuntutan Hukum yang Bertubi-tubi

Sebuah kebijakan Departemen Kehakiman AS, yang dibuat pada tahun 1973 selama skandal Watergate yang kemudian menjatuhkan Presiden Richard Nixon, telah mencegah pengadilan mendakwa presiden yang sedang menjabat. Meninggalkan Gedung Putih akan mencabut kekebalan ini dari Trump sebagai seorang presiden, membuatnya berpotensi menghadapi banyak tuntutan hukum yang menumpuk selama empat tahun dia menjabat.

Di negara bagian New York, saat ini sedang berlangsung investigasi kriminal dan perdata terhadap praktik bisnis Trump. Presiden Trump juga menghadapi tuntutan hukum dari para perempuan yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual. Itu hanya beberapa contoh.

Ada kemungkinan bahwa Trump akan mencoba menggunakan kekuasaan konstitusionalnya untuk mengeluarkan pengampunan pidana guna membersihkan diri sendiri sebelum meninggalkan jabatannya. Tetapi, sejauh ini belum ada presiden yang pernah mencoba mengampuni dirinya sendiri dan tidak jelas apakah langkah itu akan tetap punya kekuatan hukum.

Ketika Biden, saat resmi menjabat sebagai presiden, dapat memilih untuk mengampuni Trump, seperti yang dilakukan Presiden Gerald Ford kepada Nixon setelah pengunduran dirinya pada tahun 1974, atau tidak.

2. Tumpukan Utang

Beberapa orang juga berspekulasi bahwa intensitas pencalonan presiden periode kedua Trump dimotivasi oleh kebutuhan untuk mempertahankan perlindungan hukum dan perlindungan finansial dari jabatannya

jaksa agung nyJaksa Agung Negara Bagian New York Letitia James pada hari Senin, 24 Agustus 2020 meminta pengadilan untuk menegakkan panggilan pengadilan atas dugaan penggelembungan aset bisnis Trump dalam laporan keuangan (Foto: dw.com/id).

"Adalah kantor kepresidenan yang menjauhkannya dari penjara dan kemiskinan," ujar profesor sejarah dari Yale, Timothy Snyder, kepada majalah The New Yorker pada hari-hari menjelang pemilu.

Pada bulan September, penyelidikan pajak Trump oleh New York Times mengungkapkan bahwa presiden berhutang lebih dari 400 juta dolar AS (Rp 5,65 triliun), sebagian besar kepada Deutsche Bank, dengan masa jatuh tempo empat tahun ke depan.

Beberapa hari sebelum pemilu, eksekutif senior Deutsche Bank mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa kekalahan Trump akan membuat pemberi pinjaman tidak terlalu canggung untuk menuntut pembayaran kembali pinjaman.

Trump juga menghadapi kemungkinan harus membayar kembali uang pengembalian pajak sebesar 72 juta dolar AS (sekitar Rp 1 triliun) yang dia klaim pada tahun 2010, audit yang sedang berlangsung melihat klaim kerugian oleh Trump sebesar 1,4 miliar dolar AS (kurang-lebih Rp 19,8 triliun) pada tahun 2008 dan 2009.

3. Mengurus Bisnis Keluarga

Presiden Trump masih memiliki lebih dari 500 usaha, termasuk hotel, resor, dan klub golf, yang sering dia kemukakan selama masa kepresidenannya. Putra-putra Trump yang sudah dewasa memang telah mengambil alih manajemen harian The Trump Organization begitu dia menjabat, tetapi presiden tetap mempertahankan akses ke aset bisnisnya. Partai Demokrat menyebut langkah ini penuh konflik kepentingan, menuduh Trump telah menjadikan kesepakatan bisnis potensial untuk memengaruhi kebijakan luar negeri dan menggunakan kantor kepresidenan untuk keuntungan finansial pribadi.

Setelah lengser, Trump dapat kembali ke peran yang lebih aktif di kerajaan bisnisnya. Namun, sebagian besar kepemilikannya berada di real estat dan hotel, dan majalah bisnis Forbes memperkirakan bahwa The Trump Organization telah mengalami pukulan signifikan selama pandemi virus corona. Valuasi bisnisnya turun 1 miliar dolar, menjadi 2,1 miliar dolar AS antara tanggal 1 - 18 Maret 2020, menurut Forbes.

Meski kursi kepresidenan mungkin berfungsi sebagai peluang bagi pemasaran, dengan cara lain hal itu juga telah merusak citra mereknya. Menurut perhitungan dari portal real estat City Realty, harga unit kondominium di gedung milik jejaring bisnis Trump telah turun 25 persen dalam empat tahun terakhir di New York City, sebuah kota di mana Trump sangat tidak populer. Beberapa gedung apartemen juga dikabarkan telah menghapus namanya dari gedung tersebut.

4. Kembali ke Layar Televisi

Beberapa pengamat seperti mantan penjabat Kepala Staf Gedung Putih, Mick Mulvaney, memprediksi bahwa Trump akan tetap berada di panggung politik, dengan fokus pada pemilu melawan Biden tahun 2024. Tetapi banyak juga yang berpikir dia punya rencana lain.

“Ketika Anda melihatnya di jalur kampanye, betapa bersemangatnya dia dan betapa berenerginya dia saat berada di hadapan publik, cukup jelas apa yang ingin dia lakukan," kata jurnalis dan penulis biografi Trump, Michael D'Antonio, kepada DW. "Saya perkirakan dia akan terus-menerus tampil di televisi."

D’Antonio dan yang lainnya berspekulasi bahwa Trump akan memanfaatkan kedekatannya dengan media dan bermitra dengan perusahaan media konservatif, atau mungkin mendirikan bisnis media miliknya sendiri. Opsi ini telah ia canangkan pada tahun 2016 seandainya saat itu ia kalah dalam pemilu.

Menurut media Business Insider, penasihat senior dan menantunya Jared Kushner telah "membicarakan" kemungkinan itu pada bulan Oktober 2020.

Media yang dipimpin Trump bisa jadi lebih berhaluan sayap kanan daripada Fox News yang menjadi media favoritnya. Media ini pernah menjadi corong utama presiden, tetapi ketegangan antara Trump dan jaringan ini telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Trump dilaporkan sangat marah karena jaringan media ini tidak melaporkan lebih banyak berita untuk menantang legitimasi kemenangan Biden (ae/vlz)/dw.com/id. []

Berita terkait
Hadapi Kekalahan di Pilpres Donald Trump Berkicau di Twitter
Sejak Joe Biden diproyeksikan sebagai Presiden AS terpilih melalui Pilpres 3 November 2020, Presiden Donald Trump bungkam pilih berkicau di Twitter
Joe Biden: Memalukan, Donald Trump Tolak Akui Kekalahan
Presiden Donald Trump menolak mengakui kekalahan Pilpres 3 November 2020 oleh Joe Biden disebut sebagai hal yang memalukan
Ketika Donald Trump Kalah Pilpres Tolak Keluar Gedung Putih
Sepanjang sejarah AS belum pernah ada presiden menolak hengkang dari Gedung Putih, bagaimana jika Donald Trump menolak keluar dari Gedung Putih
0
DPR RI: Indonesia Tak Dapat Kuota Haji 2021
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan Indonesia tidak mendapat kuota haji 2021 dari Pemerintah Arab Saudi.