Jakarta - Kehilangan seseorang yang sangat dicintai tentu saja menyesakkan dada, menimbulkan kesedihan mendalam. Hal ini juga dirasakan Soeharto, BJ Habibie, dan Susilo Bambang Yudhoyono. 

Berikut ini Tagar mengulas sedalam apa kesedihan tiga Presiden Indonesia tersebut. 

1. Presiden Kedua Indonesia Soeharto 

Tien SoehartoPresiden kedua RI Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto. (Foto: Intisari)

Air mata Soeharto menetes saat harus menerima kenyataan sang istri, Raden Ayu Siti Hartinah atau akrab disapa Tien Soeharto meninggal pada 28 April 1996 karena penyakit jantung. Ia kehilangan separuh jiwa untuk selamanya. 

Ditinggal sang istri, Soeharto seperti menemukan beban paling berat yang pernah dihadapinya. Tak ada ungkapan yang bisa menjelaskan kehancurannya saat kehilangan satu-satunya sandaran hati. 

Meningganya Ibu Tien, Soeharto seperti kehilangan sumber kekuatan. Bagaimana tidak, semasa hidupnya, perempuan yang lahir 23 Agustus 1923 itu sudah berperan penting mendukung sepak terjang karier dan kehidupan Soeharto. 

Saya rindu pada ibu dan setiap saya merindukan ibu, Taman Mini ini yang membuat kerinduan saya terobati.

Bagi pria yang menikah pada 26 Desember 1947, Tien ibarat pilar kekuatan terbesar selama masa pernikahan. Tak hanya menyokong Soeharto dalam kehidupan sehari-hari, Ibu Tien juga kerap menjadi sumber 'wahyu' Soeharto, termasuk ketika ia mendesak Soeharto tak usah lagi maju sebagai presiden pada 1990-an.  

Semasa hidup sang istri tercinta, Soeharto kerap ditemani ke mana pun saat bertugas. Bahkan ada yang menyebut mereka sebagai pasangan supranutaral.

Sejak istri presiden kedua RI ini mengembuskan napas terakhir, Soeharto menyimpan kepedihan mendalam. Sampai kemudian ia menemukan cara tersendiri untuk melepas rasa rindu. 

Seperti dikatakan eks petinggi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Bambang Sutanto yang meyebutkan Soeharto sering mengunjungi TMII untuk mengobati rasa rindu kepada sang istri. 

"Walau bicaranya sudah tidak jelas, tapi saya bisa mengerti isi perkataan beliau. Pak Harto bilang, 'Saya rindu pada ibu dan setiap saya merindukan ibu, Taman Mini ini yang membuat kerinduan saya terobati'," kata Bambang mengulang ucapan Soeharto. 

TMII memang dibangun atas gagasan Ibu Tien. Saat pembangunan TMII diprotes karena dinilai tidak bermanfaat alias mubazir, Soeharto membela proyek itu tetap berjalan.

Lewat piagam penghargaan bernomor 001/XV/1996, Soeharto menetapkan Ibu Tien sebagai pahlawan nasional. Dalam piagam tertulis bahwa perempuan yang menemaninya selama 49 tahun itu pantas menjadi pahlawan atas “Jasa-jasanya yang sangat luar biasa dan tindak kepahlawannya dalam perjuangan melawan penjajah pemerintah kolonial Belanda pada umumnya.”

2. Presiden Ketiga Indonesia BJ Habibie

Ainun HabibiePresiden kedua RI BJ Habibie bersama Ibu Negara Hasri Ainun Habibie. ( (Foto: AFP/Adek Berry)

Kisah cinta Bacharuddin Jusuf Habibie dan Hasri Ainun mendapat perhatian luas masyarakat Indonesia. BJ Habibie yang setia menemani Ainun selama menjalani perawatan kanker ovarium.

Pemilik nama lengkap Hasri Ainun Besari meninggal pada 22 Mei 2010. Artinya sudah 9 tahun BJ Habibie hidup dalam kesendirian. Tanpa istri tercinta di sampingnya. 

Sepeninggal perempuan yang lahir 11 Agustus 1937 itu menimbulkan luka mendalam bagi BJ Habibie. Kematian Ainun adalah beban terberat yang dirasakan selama hidup. 

Saya tidak bisa membohongi diri bahwa masih sakit di hati, tapi saya mencoba untuk ikhlas.

Dunia seperti kiamat, meninggalnya Ainun membuat pria kelahiran 25 Juni 1936 itu sempat depresi. 

"Sesuai dengan agama Islam, kita tahlilan. Seminggu setelah Ainun meninggal, saya tidak pakai sepatu dalam kesadaran saya menangisi Ainun," kata BJ Habibie suatu ketika.  

Kondisi psikisnya sempat menurun hingga dokter menyarankan BJ Habibie untuk dirawat di rumah sakit jiwa. 

Saat itu dokter memberikan empat pilihan di antaranya masuk rumah sakit jiwa, terapi dengan menyampaikan semua yang dirasakan, mengungkapkan semua perasaan dalam catatan. 

"Saya pilih membuat catatan. Dia (dokter) bilang harus selesai tidak lebih dari tiga bulan, saya selesaikan dua bulan," ujar dia. 

Ternyata benar. Dengan membuat catatan, kondisi psikis suami Ainun membaik. Hingga akhirnya, catatan BJ Habibie dibuat menjadi buku berjudul 'Habibie dan Ainun' yang kemudian dibuat dalam versi film.

"Tiba-tiba saya normal. Dokter minta ini sebaiknya di-publish, tiba-tiba jadi best seller, diterjemahkan (dalam berbagai bahasa) sampai dibuat film," ujarnya. 

Masyarakat Indonesia sangat mengagumi sosok BJ Habibie semasa mendampingi Ainun. Pria yang menjadi presiden pada masa transisi dari orde baru ke reformasi pada 1998 ini dikenal sebagai sosok penyayang, kharismatik, lembut, pintar. 

Sifat penyayangnya itu terlihat saat BJ Habibie mendampingi Ainun dalam berbagai acara. Raut wajahnya memancarkan aura penuh cinta kepada Ainun. 

Habibie tergerak menuliskan kisahnnya dengan Ainun untuk menjaga kenangan bersama sang istri.  

"Saya tidak bisa membohongi diri bahwa masih sakit di hati, tapi saya mencoba untuk ikhlas," ujarnya.

Hingga sekarang BJ Habibie sering mengunjungi makam sang istri di Taman Makam Pahlawan Kalibata. 

Pengurus Taman Makam Pahlawan Kalibata, Narto, mengatakan Habibie sering datang berkunjung, kadang sendiri, kadang bersama anak-anaknya. 

Saat Habibie berada di luar negeri, ia mengutus ajudan mengunjungi makam Ainun.

3. Presiden Keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono

SBY dan Ani YudhoyonoSBY dan Ani Yudhoyono dalam sebuah acara resmi. (Foto: Instagram/aniyudhoyono)

Meninggalnya sang istri, Ani Yudhoyono, menimbulkan kepedihan mendalam bagi SBY. Ani Yudhoyono wafat pada 1 Juni 2019 karena sakit kanker darah. 

Semasa hidup Ani Yudhoyono sangat membantu SBY dalam menjalankan tugas negara selama 10 tahun menjadi presiden. Saat Ani dalam perawatan di rumah sakit, SBY setia mendampinginya. 

Dengan langkah cepat dia mengiringi Ibu Ani hingga naik kendaraan. Dia tak akan menanggapi satu pun pertanyaan wartawan sebelum istrinya naik mobil.

Setiap kali SBY bertugas memenuhi kewajibannya sebagai kepala negara, dia selalu ditemani sang istri. Bahkan saat tak menjadi orang nomor satu di Indonesia, pasangan ini selalu saja menunjukkan kebersamaan dan kemesraannya. 

Kesetiaan dan kecintaan SBY terhadap Istri juga tergambar ketika dia menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) pada Era Presiden Abdurrahman Wahid. Saat menjabat posisi menteri, SBY nyaris selalu terlihat menunjukkan cintanya kepada pemilik nama Kristiani Herrawati tersebut. Jika saat bertugas SBY tengah bersama Ani Yudhoyono, SBY mengantarkan Ibu Ani hingga sampai kendaraan, memastikan istrinya tidak tertahan oleh himpitan wartawan.

“Dengan langkah cepat dia mengiringi Ibu Ani hingga naik kendaraan. Dia tak akan menanggapi satu pun pertanyaan wartawan sebelum istrinya naik mobil, dan mobil telah melaju," ucap Dara Meutia seorang wartawan yang bertugas di kantor Menkopolhukam pada saat itu.

Setelah meninggalnya sang pujaan hati, perbedaan yang paling dirasakaan adalah saat hari raya Idul Fitri lalu. Di situlah kesedihan tampak terasa dialami SBY.

"Ibu Ani biasa sungkem kepada saya, penghormatan istri kepada suami, dengan kasih sayang timbal balik. Kami juga sungkem ke ibunda kami Sarwo Edhie, dan ibunda saya eyang Siti Habibah,” ujar SBY.  

"Dulu kami juga menerima halalbihalal rakyat, biasanya sampai pukul 20.00 WIB. Karena biasanya ribuan itu halalbihalal dari segala lapisan," katanya lagi. 

Sepeninggal istri, SBY tak tampak lagi di ruang publik. []

Baca juga