Kebanggaan Tukang Setrika Tradisional di Suriah

Seorang tukang setrika tradisional di Suriah merasa bangga dengan pekerjaannya yang telah berusia puluhan tahun
Abu Mahmoud, 72 tahun, memakai alat setrika tua untuk menyetrika pakaian di tokonya di kota Idlib yang dikuasai pemberontak di barat laut Suriah, 28 Maret 2021. (Foto: voaindonesia.com - Zein Al RIFAI/AFP)

Jakarta – Seorang tukang setrika tradisional di Suriah merasa bangga dengan pekerjaannya yang telah berusia puluhan tahun. Dia menyetrika pakaian dengan alat tua dan tanpa menggunakan listrik.

Di salah satu gang di Kota Idlib, di Suriah barat daya, Abdo Dahnin telah berprofesi sebagai tukang setrika pakaian selama 45 tahun.

Tanpa memakai listrik, dia meletakkan handuk basah di pakaian sebelum menekannya dengan setrika tua. Setrika terlebih dahulu dipanaskan di atas kompor gas portabel.

alat setrika tuaAlat setrika tua dipanaskan di atas kompor gas di toko Abu Mahmoud di kota Idlib, barat laut Suriah, 28 Maret 2021 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Para pelanggannya menyukai metode menyetrika tradisional itu, kata pria berusia 70 tahun tersebut.

“Saya telah menjalani profesi ini dan bekerja di toko ini selama 45 tahun dan saya tidak ingin mengubahnya. Ada perang, serangan udara, dan tragedi, tetapi alhamdulillah, saya tidak pernah meninggalkan pekerjaan ini dan tidak akan meninggalkannya karena setrika ini adalah milik saya, pasangan hidup saya. Saya mencari nafkah, alhamdulilłah berkat setrika ini. Saya tidak akan menggantinya, apa pun yang terjadi,” kata Abdo Dahnin.

Tukang setrika berlisensi itu percaya bahwa para pelanggan tidak akan meninggalkannya. “Pelanggan saya sudah terbiasa dengan saya. Mereka tidak akan meninggalkan saya karena mereka terbiasa dengan saya, dan saya terbiasa dengan mereka. Mereka menyukai setrika ini, yang merupakan dasar penyetrikaan dengan uap dan sungguh-sungguh merupakan proses penyetrikaan pakaian yang benar, setrika ini!”


Abu Mahmoud memeriksa bajuAbu Mahmoud, 72 tahun, memeriksa baju yang baru disetrika di toko setrikanya di kota Idlib, barat laut Suriah, 28 Maret 2021 (Foto: voaindonesia.com/AFP)

Pelanggan Abdo sebagian besar berasal dari lingkungan lama yang sama di Idlib tempat tokonya berada. Mereka sering datang untuk menyetrikakan pakaian di tokonya, dan juga untuk minum teh dan mengobrol dengan tetangga lama mereka.

Yousef Daadou adalah salah seorang pelanggan setia selama 40 tahun. “Pria ini telah berkecimpung dalam bisnis ini selama lebih dari 40 hingga 50 tahun. Saya berusia 55 tahun, lahir pada tahun 1966, dan saya telah menyetrikakan pakaian di tokonya selama lebih dari 40 tahun. Dia menyetrika celana dengan sempurna, dia terampil dan profesional.” Jelasnya (lt/ab)/Associated Press/voaindonesia.com. []

Berita terkait
Pasar Homs di Suriah Berjuang di Tengah Krisis Ekonomi
Pasar Homs, sebuah kota di Suriah, berjuang untuk pulih kembali di tengah-tengah krisis ekonomi yang parah
0
Parlemen Eropa Kabulkan Status Kandidat Anggota UE kepada Ukraina
Dalam pemungutan suara Parlemen Eropa memberikan suara yang melimpah untuk mengabulkan status kandidat anggota Uni Eropa kepada Ukraina