Jakarta, (Tagar 8/1/2019) - Beberapa hari lalu masyarakat dihebohkan soal kabar terciduknya artis Vanessa Angel dan model Avriellia Shaqqila yang terlibat praktik prostitusi online. 

Media massa kemudian mengawal kasus tersebut beberapa hari. Namun, ada yang menganggapnya tidak adil karena hanya menyorot perempuan selaku penawar jasa prostitusi online tersebut.

Media juga dinilai tidak mempunyai keinginan untuk melakukan hal serupa kepada penyewa jasa seksual artis itu yang berinisial R. Antara Vanessa dan pengusaha R diketahui sama-sama diamankan Polda Jawa Timur.
 
Imbasnya, setelah dua artis tersebut menjadi headline pemberitaan media arus utama, berbagai lini masa media sosial kemudian mendongkrak naik nama keduanya sebagai trending topic pembicaraan di ranah maya.

Berbagai meme, sindiran bahkan komentar berisi caci dan hinaan kemudian dilancarkan warganet ke akun media sosial milik dua artis tersebut.

Seolah tidak cukup membanjiri akun-akun sosial media milik Vanessa Angel dan Avriellia Shaqqila dengan komentar-komentar pedas dan menyakitkan, warganet kemudian memburu informasi pribadi keduanya. Akun sosial media keluarga, pasangan dan apapun yang berhubungan dengan kedua artis Ibu Kota itu ikut diserang netizen.

Vanessa AngelVanessa Angel dan kekasihnya, Bibi Andriansyah alias Dedi. (Foto: Instagram/@bibliss)

Kasus serupa juga pernah terjadi pada tahun 2015, saat mucikari bernama Robby Abbas membeberkan puluhan nama terkenal di industri hiburan tanah air yang menurutnya kerap terlibat praktik prostitusi artis di bawah perintahnya.

Masyarakat sontak memburu dan menduga-duga siapa deretan inisial yang dilontarkan oleh Robby Abbas. Tidak satupun yang ambil peduli dengan nama-nama pengguna jasa prostitusi artis tersebut, dari kalangan mana saja mereka dan darimana uang untuk membeli jasa seks tersebut didapatkan.

Fenomena serupa terjadi pada kasus yang tidak melibatkan artis. Pada kasus yang menimpa masyarakat biasa pun, pihak perempuan selalu dijadikan ulasan utama topik pembahasan betapa tidak bermoralnya kaum perempuan yang terseret kasus. 

Sedangkan kaum pria selaku pengguna jasa prostitusi kerap dilupakan atau tidak terlalu menjadi sorotan utama, bahkan jika pelaku merupakan tokoh terkenal sekalipun.

Sebut saja saat kasus video mesum yang melibatkan seorang anggota DPR berinisal YZ dan seorang penyanyi dangdut yang tidak terlalu terkenal berinisial, ME. Masyarakat hampir tidak ambil pusing dengan sosok YZ yang seorang wakil rakyat di parlemen dan mencecar artis ME yang seorang artis pendatang baru sebagai topik utama pembahasan.

Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie, M.Psi, CH. melalui sambungan telepon menjelaskan kepada Tagar News bahwa fenomena perilaku masyarakat yang kerap menjadikan pihak perempuan sebagai objek bahasan utama pada hampir setiap kasus prostitusi atau yang berkaitan dengan moralitas merupakan buah dari budaya patriarki yang masih kental di masyarakat. Sehingga orang terbiasa memandang perempuan selalu salah.

"Agak sulit ya karena memang di masyarakat kita, budaya patriarkal masih ketal banget kan. Budaya dimana laki-laki begitu diagung-agungkan, gak pernah salah dan lain-lain. Ambil contoh semisal ada sebuah perceraian, perempuan hampir selalu jadi pihak yang disalahkan. Tidak pandai memasak lah, atau apalah," terang Liza

"Komponen kedua adalah, nilai wanita di mata masyarakat kita itu memang masih dipandang rendah. Terbukti dari banyak contoh dimana wanita selalu jadi objek seksual para lelaki. Semisal dalam sebuah tayangan iklan atau apa, itu akan semakin digemari kalau ada perempuan berbalut pakaian yang seksi dan lain sebagainya. Sehingga saat ada kasus seperti ini, jelas perempuanlah yang jadi sasaran empuk untuk kerap disalahkan," lanjut Liza.

Sebagai upaya perbaikan paradigma atau cara berpikir masyarakat, psikolog yang juga menguasai keilmuan di bidang hipnoterapi tersebut menyarankan agar masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Selain itu, dia juga mendorong kepada pihak kepolisian dan media massa untuk berlaku adil dalam penyaluran informasi terkait pelaku yang tersandung kasus seperti itu.

"Masyarakat harusnya bisa lebih bijak dan adil ya dalam memandang setiap kejadian. Dan pihak Kepolisian, Media, harusnya pun bisa lebih adil dalam menyalurkan informasi. Ini kok kenapa nama Vannesanya bisa cepat banget keluar, sedang laki-laki pengguna jasanya enggak?" terang Liza.

"Masyarakat juga pasti ada yang ingin tau pelaku dari pihak cowoknya sebagai pengguna (jasa prostitusi), tapi media mungkin gak ada yang bahas itu, dan media kan dapet bahan dari keterangan pihak kepolisian. Jadi mari kita belajar untuk adil, mulai dari sekarang," tutup Liza.