Oleh: Girindra Sandino*

Kemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin harus bersih, berkualitas dan berlegitimasi kuat.

Lima hari lagi kita memasuki masa tenang, kemudian memasuki tahapan yang paling krusial dan ditunggu-tunggu masyarakat pemilih, khususnya yang ingin memilih siapa pemimpin bangsa dan negara mereka lima tahun ke depan. Dari awal tahapan pemilu banyak persoalan muncul, mulai dari hoaks yang masif, fitnah. Masalah DPT, Uji Materi UU Pemilu, dugaan pelanggaran ASN dan lain-lain. Oleh karena itu, Seven Strategic Studies sudah tidak meragukan lagi kemenangan pasangan Capres-Cawapres No urut satu ini.

Berikut komentar kami soal itu:

Pertama, sejak awal Jokowi jarang sekali mengeluarkan kata-kata kasar, pesimis. Optimisme yang dikeluarkan, santun, merangkul, tidak neko-neko, walau kerap di bilang “dungu”, beliau tidak menanggapi, tidak banyak bicara, tetap senyum dan bekerja, kerja, kerja, mirip apa yang dikatakan Lao Tzu seorang filsuf dan penyair terkenal dari Tiongkok kuno.

Dia bilang begini: "A leader is best when people barely know he exists, not so good when people obey and acclaim him, worse when they despise him. But of good leader who talks little when his work done, his aim fulfilled they will say, 'We did it ourselves'."

Sedikit bicara dan banyak bekerja itulah yang tergambar dari Jokowi selama tahapan pemilu dan kampanye.

Kedua, relawan Jokowi harus terus menggenjot militansinya habis-habisan, termasuk mengajak masyarakat pemilih dengan santun dan persuasif untuk datang ke TPS-TPS di awal atau pada pagi hari. Oleh karena jika datangnya telat maka dikhawatirkan tidak cukup waktu untuk menggunakan hak pilih, sementara kubu lain sudah mempersiapkan jauh-jauh hari hal ini. 

Bayangkan saja saat ini ada lima jenis surat suara, diperlukan waktu lima menit untuk mencoblos surat suara, sehingga kemungkinan satu TPS hanya bisa menampung 100 pemilih. Oleh karena itu disarankan untuk datang lebih awal, strategi jemput bola pemilih adalah jitu untuk diterapkan, jika tidak ingin telat terdahului pihak lain.

Sedikit bicara dan banyak bekerja itulah yang tergambar dari Jokowi selama tahapan pemilu dan kampanye.

Ketiga, diusahakan agar mengimbau para caleg koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin dalam bertarung sengit antar parpol maupun dari sesama parpol tidak dengan cara-cara di luar ketentuan aturan main UU Pemilu dan aturan tehnis lainnya. Sehingga rakyat melihat dengan jernih bahwa parpol-parpol pendukung Jokowi memiliki kredibilitas dan integritas yang dapat diandalkan jika terbentuk pemerintahan ke depan.

Keempat, Jokowi-Ma'ruf Amin memiliki pendukung beragam dan dari bergabai segmentasi, dari kalangan muda dan tua, tradisional, pemilih rasional, kaum milienal, pemilih kritis dan lain-lain. Sehingga dalam hitungan hari ini agar tidak saling salah paham atau bergesekan, sebagai contoh pendukung Jokowi yang dikenal kritis, mengkritisi penyelenggara tentang akurasi DPT, logistik surat suara, ASN yang bermain, agar jangan diejek, bahkan dimusuhi. 

Malah sebaliknya lebih militan mereka pendukung yang kritis. Oleh karena mereka pemilih-pemilih kritis tersebut adalah pendukung Jokowi yang memiliki niat sangat baik dan mulia. Mereka ingin Jokowi menang dengan cara-cara bersih, jurdil, demokratis dan berkualitas dalam sejarah pemilu Indonesia.

Kelima, agar dalam menyambut kemenangan, para pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin tidak mengedepankan arogansi, membuli pihak lain, euforia berlebihan boleh saja, namun jangan sampai saling menyakiti. Agar rakyat dapat melihat sifat dan akhlak pendukung Jokowi adalah orang-orang yang memiliki akhlak baik, sehingga mendapat legitimasi kuat dari rakyat.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif 7 (Seven) Strategic Studies

Baca juga: