Jokowi Kirim Tim Dokter Kepresidenan untuk Buya Syafii

Presiden Joko Widodo mengirimkan tim dokter kepresidenan pada mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Buya Syafii Maarif.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif bersama Menteri Sekretaris Negara Pratikno di RSU PKU Muhammadiyah Gamping, Sabtu, 28 Juli 2019. (Foto: Tagar/ Kurniawan Eka Mulyana)

Sleman - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengirimkan Tim Dokter Kepresidenan pada mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Buya Syafii Maarif. Jokowi pun mengutus Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) untuk melihat kondisi terkini dari Buya Syafii.

"Kemarin pagi Pak Presiden memanggil saya, untuk jenguk dan kirim Tim Dokter Kepresidenan. Karena Pak Presiden kan khawatir dengan Buya," ujar Mensesneg Pratikno usai menjenguk Buya Syafii di Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Sabtu, 28 Juli 2019.

Tim Dokter Kepresidenan menurutnya hanya bertugas back up dan monitor kondisi kesehatan Buya. Penanganan sepenuhnya diserahkan pada tim dokter dari RS PKU Muhammadiyah Gamping.

"Tim dokter di PKU kan hebat-hebat," tuturnya.

Kemarin pagi Pak Presiden memanggil saya, untuk jenguk dan kirim tim dokter kepresidenan. Karena Pak Presiden kan khawatir dengan Buya.

Buya Tak Mau Pakai Kursi Roda

Meski sakit, Buya mengaku tak mau memakai kursi roda. Padahal sudah diminta dokter untuk memakai kursi roda.

"Kata dokter, saya termasuk tahan sakit. Pakai kursi roda saya ndak mau. Sakitnya baru selasa, di kamar mandi keluar darah," ucapnya.

Setelah dilakukan pengobatan kini Buya merasa kesehatannya sudah lebih baik.

"Sudah agak normal, kemarin kan sakit sekali di sini [bawah perut]," ujarnya.

Kondisi Buya Membaik

Kondisi Buya Syafii kini berangsur membaik setelah opname di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman pada Selasa, 22 Juli 2019. Menurut dokter yang menangani Buya, Dokter Prahara Yuri, Buya yang mengeluhkan kencing berdarah kemungkinan karena iritasi batu di ginjal kanannya.

Setelah tindakan medis non-operasi, Buya sudah beraktivitas normal. Jika tidak ada hambatan, ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakti dan melanjutkan pengobatan melalui rawat jalan.

"Dilakukan terapi electro shock wave theraphy atau pemecahan batu dengan gelombang kejut, dan Alhamdulillah hari ini sudah lebih baik," kata dia. []

Baca juga:


Berita terkait
0
Pemprov DKI Siap Patungan Bangun Giant Sea Wall
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyatakan siap untuk patungan dengan pemerintah pusat dalam membangun tanggul laut raksasa