Medan (Tagar 17/2/2019) - Kota Medan, ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara memiliki beberapa objek wisata yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Selain ada tempat yang non religi, ada juga yang religi. 

Untuk yang non religi ada Merdeka Walk untuk bersantai nikmati suasana kota. Di sini pengunjung dapat menikmati hiburan hingga kulineran. Merdeka Walk buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB hingga tengah malam. Ada juga Museum Perjuangan terletak di Jalan Zainul Arifin. Di museum tersebut terdapat benda bersejarah dari ABRI dan rakyat Sumatera Utara.

Beberapa di antaranya seperti senjata, obat-obatan, hingga seragam perang yang digunakan pada perang kemerdekaan Indonesia melawan pemberontakan pada tahun 1958.

Sedangkan untuk wisata religi yaitu Masjid Raya Almaksum atau Masjid Raya Medan dan Istana Maimun. Apakah pembaca mengetahui apa saja yang menjadi hal menarik di tempat destinasi wisata yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Sukaraja, Medan Maimun, Kota Medan ini?

Sebelum Istana Maimun berdiri megah dan kokoh seperti sekarang ini tahun 2019, pada tahun 1632 Kesultanan Deli dipimpin oleh Tuanku Panglima Gotjah Pahlawan. Dimana Kesultanan ini berhasil mengalahkan Kerajaan Haru hingga berhasil menaklukkan wilayah Semenanjung Malaysia, Kamboja, Sumatera dan Kalimantan. 

Lalu, setelah menaklukkan wilayah, Tuanku Panglima Gotjah Pahlawan menikah dengan anak kejuran hitam penguasa daerah Gunung Klaud atau disebut Percut.

Dari Istri Gotjah Pahlawan melahirkan seorang putra bernama Parunggit. Setelah menikah dan memiliki anak, Gotjah Pahlawan meluaskan wilayah Kesultanannya sampai ke daerah Kesawan (Kelurahan Kesawan Kecamatan Medan Barat) dan menjadikan Kesawan sebagai ibu Kota Kerajaan Sultan Deli.

Istana MaimunIstana Maimun Kota Medan dilihat dari pintu masuk Istana (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Posisi Raja Sultan ke-2 sepeninggalnya Gotjah Pahlawan dipercaya kepasa Tuanku Panglima Parunggit. Dalam buku Hikayat bahwa Parunggit menikah dengan Nang Baluan, anak Datuk Sunggal yang pada saat itu berkuasa atas wilayah Karo. Oleh sebab pernikahan itu, Tengku Parunggit mendapat gelar adat karo "Sembiring" yang mana seterusnya menjadi gelar adat bagi keturunan keturunannya sampai sekarang.

Kemudian, setelah berakhirnya usia Parunggit, Raja Sultan ke-3 dipercaya kepada Tuanku Panglima Padrap. Pada tahun 1698, Tuanku Padrap memindahkan Ibu Kota Kerajaan ke Pulo Brayan dan Padrap pada tahun 1728 mangkat (tentang raja/meninggal) di Makamkan di Pulo Brayan.

Pada tahun yang sama (1728) Raja Deli ke-4 jatuh kepada Tuanku Panglima Pasutan. Berdasarkan kebijakan bersama, Pasutan memindahkan ibu kota kerajaan dari Pulo Brayan ke Labuhan Deli. Pasutan disini juga membentuk satu lembaga kerajaan yang dikenal dengan "Datuk Empat Suku" yang terbagi dalam empat daerah (Urung) diantaranya Urung XII Kuta (Sepuluh dua Kuta, Hamparan Perak), Urung Serbayaman (Sunggal), Urung Senembah (Patumbak dan Tanjung Morawa) dan Urung Sukapiring (Kampung Baru hingga sebagian Medan Kota).

Kemudian, Tuanku Panglima Pasutan Mangkat tahun 1761 dan digantikan dengan Tuanku Panglima Gandar wahid. Menjadi Raja Sultan ke-5, Gandar Wahid meneruskan program "Datuk Empat Suku" dan keinginan rakyat dapat terpenuhi sampai dirinya Mangkat pada tahun 1805.

Raja Sultan ke-6 yaitu Sultan Panglima Awaluddin Mangedar Alam, ke-7 Sultan Osman Perkasa Alam, ke-8 yaitu Sultan Mahmud Perkasa Alam, ke-9 Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alam, ke-10 Sultan Awaluddin Sani Perkasa Alam, ke-11 Sultan Osman Al-Sani Perkasa Alam, ke-12 Sultan Azmi Perkasa Alam, ke-13 Sultan Otteman Mahmud Paderap Perkasa Alam dan terakhir yaitu Sultan Mahmud T Perkasa Alam. Raja Sultan ke-14 ini mulai menjabat tahun 2005 sampai sekarang (2019).

Memang, Kesultanan Deli itu ada dari tahun 1632. Tetapi pada tahun itu, Istana Maimun belum ada di Kecamatan Medan Maimun. Istana Maimun didirikan berdasarkan gagasan Raja Sultan ke-9 yaitu Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alam atau tepatnya pada 26 Agustus tahun 1888.

Bangun Istana Maimun pakai arsitektur tentara Hindia Belanda

Dibangunnya Istana Maimun pastinya sangat diharapkan bagi rakyatnya pada masa itu, karena untuk dapat mempermudah komunikasi juga menjadi tempat tinggal seluruh sanak keluarga kerajaan.

Istana Maimun nampak terlihat unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam (Timur Tengah), Spanyol, India dan Italia. Semasa memimpin, Sultan Deli ke-9 ini menjadikan Tentara Hindia Belanda bernama Thedore Van Erp sebagai Arsitekturnya. Bukan hanya bangunan, singgasana kerajaan juga didesain hingga terlihat mewah dengan warna kuning.

Istana MaimunBenda Pusaka yang selalu berada di sekeliling Raja Sultan Deli di Istana Maimun Medan (Foto: Tagar/Reza Pahlevi)

Benda pusaka sekeliling Raja Sultan

Setiap Raja Sultan, pastinya tidak terlepas dengan benda pusaka disekelingnya. Benda Pusaka dianggap penting selalu mendampingi para raja.

Hingga sekarang, benda pusaka yang dipakai untuk berperang dahulu masih tersimpan di Istana Maimun. Benda Pusaka dimaksud antara lain Tombak Keris dan sebagainya. Benda Pusaka yang selalu mendampingi Raja Sultan yaitu Tepak Siri yang masing-masing memiliki sejarah.

Selain itu, piring makan Kesultanan atau Kerajaan, alat musik untuk menghibur para tamu serta tempat duduk singgasana kerjaan juga masih terlihat mewah dan kokoh terawat di Istana Maimun.

Ada lubang tahanan di Istana Maimun

Dari berbagai kisah tentang Istana Maimun yang berdiri pada tahun 1888, sampai saat ini masih ada juga terpendam kisah misterius terpendam.

Salah satu kisah itu ialah terdapatnya lubang yang dalam atau terowongan yang terletak dibagian bawah bangunan Istana Maimun. Dulunya, beredar kabar bahwa terowongan bawah tanah itu diperuntukkan untuk tahanan atau pelaku kejahatan, terutama pelaku kejahatan yang mencoba masuk sembarangan ke Istana atau bisa disebut sebagai penyusup.

Teka-teki terowongan bawah tanah ini, sampai sekarang belum juga terungkap seberapa dalam dan jauhnya lubang tersebut. Bahkan sekarang, lubang itu ditutup karena dianggap menjadi suatu hal misterius yang sulit untuk diungkap.

Sediakan sewa pakaian adat dan live musik Melayu

Rupanya, selain banyak tersimpan benda-benda bersejarah milik Raja Sultan, di Istana Maimun ini juga tersedia perlengkapan pakaian adat dan selalu menampilkan Live Musik Melayu setiap harinya. Bukan itu saja, ada juga penjualan souvenir khas Kota Medan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Tengku Muhammad Dicky selaku Kepala Bidang SDM Yayasan Sultan Ma'moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah ketika ditemui wartawan pada Kamis (14/2).

Menurut data yang dimiliki Dicky, bahwa para pengunjung Istana Maimun setiap hari selalu ada. Namun pengunjung akan meningkat/padat pada awal bulan. Tiket masuk ke Istana Maimun ini juga relatif murah yaitu Rp 5000 bagi umum dan Rp 3000 bagi para pelajar.