Jakarta, (Tagar 10/8/2018) - Intan Khasanah merupakan mahasiswi jurusan Public Relations di Universitas Indonesia. Sejak tahun 2012 lalu, Intan mengidap kanker kelenjar getah bening stadium empat.

Kali pertama Intan menyadari adanya benjolan sebesar kelereng di leher kanan saat umurnya masih 17 tahun dan duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA).

Benjolan tersebut, menurut Intan, muncul beberapa hari usai dirinya sembuh dari demam tinggi. Saat itu, Intan menganggap benjolan itu bukan kanker, melainkan tanda dari penyakit TBC.

"Sempat dikira penyakitku adalah TBC. Selama delapan bulan aku rutin mengonsumsi obat TBC, namun kemudian berbagai keluhan mulai kurasakan," ujar Intan.

Usai rutin mengonsumsi obat TBC, Benjolan di leher Intan semakin besar. Bahkan, benjolan yang awalnya hanya di sisi kanan, sudah merambat ke sisi kiri.

"Napasku sesak. Batukku hampir sebulan tak kunjung sembuh. Tubuhku terasa lemah dan lemas setiap harinya. Setiap malam pakaianku basah dibanjiri keringat, sekalipun aku tidur di ruangan ber-AC," paparnya.

Akhirnya, Intan memutuskan kembali ke RS Awal Bros Pekanbaru untuk kemudian dibiopsi di ruang operasi menggunakan bius total.

Lantaran dibius, Intan tak mengetahui tindakan apa yang dokter lakukan padanya. Ia hanya mengingat, saat terbangun dirinya sudah terbaring di ruang ICU dengan berbagai alat yang terpasang di tubuhnya, termasuk ventilator yang membuatnya masih bisa bernapas dan bertahan hidup.

Nampaknya RS Awal Bros Pekanbaru tak mampu menangani penyakit Intan, ia pun dirujuk untuk menjalani pengobatan di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

Disana lah Intan harus menerima pil pahit, bahwa penyakit yang dialami Intan adalah kanker jenis Limfoma Hodgkin Stadium IV.

IntanIntan berfoto usai menjalani kemoterapi di RS Premier Jatinegara, Jakarta. (Foto: Instagram/intankhasanah)

Intan Nyaris Sembuh

Intan sempat terbaring selama 10 hari di ICU dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, dan menggantungkan hidup pada peralatan medis yang tersedia.

Keajaiban Tuhan datang kepadanya. Usai menjalani opname, perlahan kondisi Intan berangsur membaik, ia bisa kembali pada rutinitasnya sebagai pelajar SMA di SMAN 8 Pekanbaru, Riau.

"Ya meskipun empat bulan selanjutnya harus bolak-balik Jakarta-Pekanbaru untuk menyelesaikan kewajiban kemo dan sekolah," tandasnya.

Pada tahun 2013 dan 2014, Intan melakukan CT-scan sebanyak dua kali, hasilnya tubuh Intan dinyatakan masih belum bersih dari kanker.

Kanker tersebut hanya tinggal sedikit lagi dan dokter menganjurkan Intan untuk kembali menjalani kemoterapi dengan dosis yang lebih tinggi.

"Aku pun dianjurkan untuk kembali kemoterapi dengan dosis yang lebih tinggi. Namun karena aku sudah begitu lelah menanggung derita kemoterapi, aku akhirnya memilih kabur dari medis dan mencoba pengobatan lain," ucapnya.

Sayangnya, Intan memilih untuk menjalani pengobatan alternatif yang ditangani oleh orang-orang yang tak memiliki kemampuan dalam bidang kesehatan.

Alhasil ini menjadi pil pahit kedua bagi Intan usai ia dinyatakan kembali terjangkit kanker. Namun dengan penyebaran yang berbeda.

Jika kali pertama kanker menyebar ke paru-paru, kali kedua kanker menyebar ke tulang belakang, membuat Intan sempat tak mampu berjalan, duduk, atau bahkan mengangkat leher.

"Selama itu aku harus kembali berjuang, rutin melakukan terapi, baik itu kemoterapi, radioterapi, fisioterapi. Aku juga kembali harus bertemu ruang operasi untuk mengangkat tumor yang bersarang di tulang belakangku itu, dan kembali bermalam di ICCU selama 2 hari," ungkapnya.

IntanIntan Khasanah saat merayakan ulang tahunnya yang ke-20. (Foto: Instagram/intankhasanah)


Jika dihitung, menurut dia, total pengobatan yang sudah dilaluinya dari tahun 2013 hingga awal 2017 sekurang-kurangnya empat kali operasi, 12 kali kemoterapi, 50 kali radiasi, serta fisioterapi yang tak kuhitung sudah berapa kali.

Salah satu yang Intan lakukan adalah melatih motorik kaki agar dapat berfungsi normal seperti sedia kala.

"Alhamdulillah, kini aku sudah mampu berdiri serta berjalan kembali, meski belum kokoh dan sempurna layaknya dahulu sebelum kanker menggerogoti saraf-saraf di tulang belakangku tepat saat aku baru memasuki usia 20 tahun," jelasnya.

Mimpi Bertemu Girlband IdolaTerkabul

Meski mengidap penyakit mematikan, Intan sama sekali tak terlihat sedih atau pun murung, bahkan dalam setiap unggahan foto di akun instagramnya Intan terlihat riang.

Dengan berganti-ganti posenya dalam berfoto, Intan benar-benar tak terlihat sebagai seorang cancer survivor yang tengah gencar menjalani kemoterapi.

Bahkan, sesekali Intan mengunggah video saat dirinya tengah menari salah satu lagu girl band asal Korea favoritnya yakni Blackpink yang berjudul Ddu-Du Ddu-Du.

Dalam video tersebut Intan terlihat masih menggunakan infus, saat itu Intan diketahui baru saja menjalani kemoterapi yang ke-20, namun hal tersebut tak menghalanginya untuk bergerak dengan leluasa.

Di tengah perjuangannya melawan kanker ganas, kehadiran Blackpink menjadi penyemangat hidup dirinya.

Perjuangan para anggota Blackpink yang harus menjalani masa trainee selama bertahun-tahun demi debut menjadi salah satu hal yang memotivasi Intan untuk tetap kuat.

Bahkan, kekuatan lagu-lagu yang dibawakan Lisa, Jisoo, Rose, dan Jennie membuat Intan merasa begitu bahagia meski harus menjalani kemoterapi.

Video yang diunggah Intan ternyata menuai banyak pujian, bahkan semangat untuk berjuang melawan penyakitnya membuat Intan dan ibunya mendapatkan tiket Meet Lisa Blackpink di Jakarta dari salah satu platform e-commerce Indonesia.

Kesempatan untuk bertemu dengan Lisa Blackpink diharapkan mampu membuat Intan lebih semangat lagi melawan penyakitnya.

Dibalik Sosoknya yang Periang

Meski terlihat kuat dan tegar, Intan mengaku pernah mengalami keterpurukan akibat penyakit kanker yang tengah menggerogoti tubuhnya. Bahkan ia baru saja mengalami keterpurukan terparah sepanjang hidupnya.

Hanya saja, menurut Intan,  keterpurukan yang dialaminya tak ia bagi-bagi kepada orang lain apalagi di sosial media.

"Aku juga suka ngeluh, aku baru ngalamin down terparah sepanjang masa, cuma jarang aku bagi-bagi ke orang lain. Hanya ke orang terdekat saja sesekali, atau ke psikolog kampus terpercaya, atau lebih sering nulis di Tumblr," tandasnya.

Lantaran, kata dia, menceritakan kesedihan yang ia rasakan kepada orang lain dinilai tak ada manfaatnya. Untuk menutupi kesedihan itu, Intan pun menyikapi segala sesuatu disertai dengan bercandaan agar terlihat bahagia, ceria dan energik. []