UNTUK INDONESIA
Ini Papua, Triwulan II 2017 Pertumbuhan Ekonominya Meningkat
Tercatat kinerja perekonomian Papua mencapai 4,91 persen (yoy) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan kinerja pada triwulan sebelumnya sebesar 3,36 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Joko Supratikto mengatakan, meskipun realisasi pertumbuhan ekonomi papua tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,01 persen pada triwulan II 2017. (Foto: Tri)

Jayapura, (Tagar 5/9/2017) – Pada Triwulan II 2017, pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua tercatat mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tercatat kinerja perekonomian Papua mencapai 4,91 persen (yoy) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan kinerja pada triwulan sebelumnya sebesar 3,36 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua Joko Supratikto mengatakan, meskipun realisasi pertumbuhan ekonomi papua tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,01 persen pada triwulan II 2017.

“Pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan dipengaruhi oleh kinerja lapangan usaha pertambangan dan penggalian yang tumbuh signifikan dari 0,03 persen pada triwulan I 2017 menjadi 6,75 persen 6,75 persen. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya penjualan konsentrat tembaga hasil tambang,“ ujar Joko di Jayapura, Selasa (5/9).

Joko menjelaskan, dari sisi lain, lapangan usaha konstruksi mengalami penurunan dari 9,42 persen (yoy) pada triwulan I 2017 menjadi 3,84 persen pada triwulan laporan yang salah satunya disebabkan oleh disebabkan oleh rendahnya realisasi belanja APBD Provinsi Papua.

“Untuk triwulan III 2017, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 2,9 persen hingga 3,3 persen lebih rendah dari triwulan II 2017 yang terutama dipengaruhi oleh base effect, di mana pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu cukup tinggi (20,4 persen),“jelas Joko lagi.

Joko menambahkan, melemahnya kinerja ekpor luar negeri menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya pertumbuhan seiring permasalahan ketenagakerjaan dan operasional produksi lapangan usaha pertambangan.

“Dari sisi Inflasi secara umum pada triwulan II 2017 di Papua mencapai 3,10 persen menurun jika dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,89 persen. Penurunan tersebut disebabkan oleh rendahnya tekanan harga pada kelompok komoditas volatile foods. Tercatat kelompok ini pada triwulan II 2017 mengalami deflasi sebesar -1,68 persen, atau jauh lebih rendah dari triwulan I 2017 yang mencapai 5,92 persen, “ungkapnya.

Terjaganya komoditas seiring kondisi cuaca dan tinggi gelombang laut yang relatif kondusif menjadi faktor peredam inflasi pada triwulan ini. Di sisi lain, tekanan inflasi sepanjang triwulan II 2017 terutama berasal dari penyesuaian tarif komoditas oleh pemerintah seperti tarif listrik untuk pelanggan 900 VA, tarif angkutan udara, pembuatan SIM, STNK serta BPKB.

“Hal tersebut menyebabkan tekanan inflasi kelompok ini meningkat signifikan dari 3,69 persen pada triwulan I 2017 menjadi 10,46 persen pada triwulan laporan, “pungkasnya (tri)

Berita terkait
0
Pelaku Bentrokan di Kampus UMM Makassar Orang Luar
14 pelaku penyerangan di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar tak satupun berasal dari kampus tersebut.