Yogyakarta, (Tagar 5/2/2019) - Kampung Ketandan berada di Kawasan Malioboro, di pusat kota Yogyakarta. Warga lebih mengenalnya sebagai Kampung Pecinan. Ya, di kampung ini memang warga yang mendiami dan arsitektur bangunan Chinese mendominasi.  

Sangat mudah untuk mencari Kampung Pecinan Ketandan. Penanda utamanya adalah Gapura besar menjulang berarsitektur Tionghoa. Pada pilar gapura masing-masing dihiasi ukiran ular naga melingkar serta patung dua ekor singa tepat di depan gapura.

Di atas gapura terdapat tulisan Kampung Ketandan yang ditulis dengan tiga bahasa; Indonesia, Jawa, China. Gapura tersebut berada di sisi timur ruas Jalan Malioboro Yogyakarta. Di kampung ini juga ada Roemah Budaya Tionghoa. Tempat ini menjadi pusat segala kesenian dari Negeri Tirai Bambu.

Pada hari ini, Selasa (5/2) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2019. Di Kampung Pecinan Ketandan, masih sepi. Nyaris tidak ada perbedaan dengan hari-hari biasanya, kecuali pemasangan sejumlah lampion di depan gapura.

Uchi Laniwati (40), warga Kampung Ketandan mengatakan, pada hari H Tahun Imlek memang tidak ada aktivitas yang menonjol yang berkaitan dengan Imlek. Setiap tahun saat hari H Imlek memang seperti ini, seperti hari-hari biasanya. 

"Ya memang seperti kalau pas Imlek," kata dia kepada Tagar News, Selasa (5/2).

Saat hari H Imlek, kata dia, warga Kampung Ketandan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan kerabat. 

"Kumpul bersama keluarga, liburan ke luar kota dan lainnya," imbuhnya.

Namun, suasana Kampung Ketandan akan berubah meriah saat perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), yang acap digelar sepekan setelah hari H Imlek setiap tahunnya. Selama sepekan pelaksanaan PBTY di Kampung Pecinan Ketandan sangat ramai seperti pasar. Warga Tionghoa dari segala penjuru negeri biasanya datang di kampung ini.

Humas dan Publikasi Panitia PBTY 2019 Ng Liong Ho mengatakan, PBTY 2019 digelar pada 13 sampai 19 Februari mendatang yang dipusatkan di Kampung Ketandan.  Sejumlah acara menarik yang siap ditampilkan adalah Karnaval Budaya dan Jogja Dragon Festival 2019. 

"Acara ini yang paling ditunggu warga dan wisatawan," kata dia.

Karnaval Budaya dan Jogja Dragon Festival 2019 mengambil start dari Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) menyusuri ruas Jalan Malioboro, lalu berhenti di spot depan Gapura Kampung Ketandan. Di spot ini peserta karnaval menunjukkan atraksinya selama 10-15 menit. Dan finish di Alun-alun Utara Yogyakarta.

Liong Ho mengungkapkan, selain karnaval budaya, rangkaian even PBTY 2019 adalah panggung hiburan-pameran budaya, beragam lomba, aneka bazaar dan stand kuliner. 

"Ada juga Pemilihan Koko dan Cici Jogja 2019," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Pariwisata Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY Sanida mengatakan, PBTY digelar rutin setiap tahun, sebagai bagian dari perayaan Imlek. Selama seminggu PBTY sangat kental dengan nuansa budaya Tionghoa.

Namun, kata dia, PBTY bukjan hanya even untuk masyaraat Tionghoa saja. Even PBTY selalu ditunggu masyarakat umum Yogyakarta, bahkan wisatawan lura kota juga berdatangan khusus untuk menyaksikan PBTY ini. 

"Artinya, PBTY selalu bisa mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan di Yogyakarta," kata dia. []