Oleh: Denny Siregar*

Banyak yang bilang bahwa konsultan politik dari Amerika sedang berada di Indonesia.

Kemenangan model kampanye Donald Trump di AS, menjadi inspirasi bagi salah satu kubu Capres untuk menggunakannya di sini. Dan kita melihat model-model kampanye yang sama yang sedang dibangun, terutama dalam model pengulangan kebohongan, pembangunan isu yang membangun ketakutan dan kampanye recehan untuk menarik pemilih milenial.

Sayangnya, saya kurang setuju dengan teori itu.

Bahwa ada kubu Capres yang menggunakan model seperti kampanye Trump, itu memang benar. Tetapi itu hanya berupa copy paste saja, berdasarkan pengamatan sebagian orang terhadap Pilpres Amerika dan coba diterapkan di Indonesia tanpa penelitian yang mendalam bahwa kultur pemilih di Indonesia berbeda dengan Amerika.

Adanya konsultan dari Amerika yang dibayar ribuan dollar per jam itu sejatinya hanya isu. Kenapa? Karena beda dengan 2014 lalu, untuk pilpres kali ini salah satu pasangan Capres kehabisan logistik untuk melakukan itu. Ongkosnya terlalu besar sedangkan mereka lagi kekurangan.

Karena itu salah satu pasangan Capres hanya mengira-ngira saja dalam menerapkan model kampanye Trump ke negeri ini. Mereka menerapkan sistem tambal sulam, apa yang terlihat mata, itu yang dipakai.

Tetapi ada satu model kampanye yang sebenarnya mempunyai pola yang sama dengan operasi militer pada masa orde baru. Dan ini ciri khas Indonesia, yaitu adu domba.

Model adu domba dengan membenturkan dua kubu yang berbeda, terlihat jelas dalam berbagai aksi yang familiar digunakan di sini dan tidak dikenal di Amerika.

Operasi Sarumpaet, pembakaran bendera HTI dan hoaks penculikan anak yang masif disebar adalah pola-pola yang seharusnya kita kenal bahwa ini lebih bernuansa operasi militer daripada kampanye demokrasi.

Konsultan politik lokal tentu lebih mengenal Indonesia daripada konsultan politik asing. Bahwa ada akar-akar konflik yang seperti bara dalam sekam dan tinggal dikasih bensin untuk dibakar, tentu sudah dilakukan pemetaan. Dan pemetaan itu berbeda di masing-masing wilayah. Untuk Jakarta akar konfliknya beda dengan Sumatera misalnya, karena itu dibangun model yang sesuai masalah yang ada.

Dan hati-hati dengan model demo-demo di dekat Istana. Pemerintah sudah cukup tanggap dengan model demo-demo yang ingin membangun opini masyarakat. Karena itu, pihak media terutama stasiun televisi, sudah dikontak untuk tidak menyiarkan demo-demo secara luas supaya tidak dijadikan panggung oleh mereka yang memanfaatkannya.

Dan strategi ini sudah dibaca kubu yang berbeda, sehingga ada kekhawatiran mereka akan membuat demo dengan memancing kerusuhan supaya menjadi berita besar. Demo 'tauhid' yang terjadi hari ini, bisa jadi akan mengarah ke sana.

Mereka butuh 'demo yang tidak biasa-biasa' saja. Ini yang berbahaya.

Jadi waspadai demo hari ini, karena operasi kerusuhan untuk menarik perhatian bisa saja terjadi. Lagian dalam kondisi hasil survei yang jauh tertinggal, segala cara bisa dilakukan asal bisa memenangkan pemilihan.

Semoga hari ini tidak terjadi hal yang kelak akan disesalkan. 

Seruput kopinya....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi