UNTUK INDONESIA
Gunung Panderman Terbakar, Berikut Ini Tips bagi Pendaki
Puncak musim kemarau menyebabkan kebakaran lahan seperti di Gunung Panderman, Jawa Timur. Berikut ini tips menyelamatkan dirinya.
Ilustrasi pegunungan. (Foto: Pixabay/26057)

Jakarta - Puncak musim kemarau sedang melanda sebagian wilayah di Indonesia. Kebakaran lahan menjadi suatu persoalan yang patut diwaspadai, seperti kebakaran yang melanda kawasan Gunung Panderman, Batu, Jawa Timur, Minggu malam, 21 Juli 2019. Setiap pendaki perlu mengetahui tips menyelamatkan diri saat hutan di gunung mengalami kebakaran.

Mantan Ketua Mapala Tapak Giri Unisma Bekasi Agus Salim menyatakan kebakaran di gunung umumnya dapat diakibatkan oleh dua faktor, yaitu faktor kekeringan lahan dan ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Ia mengimbau pada saat kebakaran melanda kawasan gunung sebaiknya pendaki tidak lantas panik meskipun dalam keadaan darurat sekalipun.

Berikut Tips bagi Pendaki Saat Hutan di Gunung Terbakar

Agus menyarankan bila keadaan masih memungkinkan, pendaki harus mencoba turun gunung melalui jalur-jalur legal. Jangan justru sebaliknya, naik ke atas gunung. Jika semua pendaki berbondong-bondong naik ke puncak, nantinya akan mempersulit proses evakuasi.

Dengan segala keterbatasan frekuensi komunikasi, lanjut Agus, maka itu pendaki diwajibkan membawa tali webbing dan carabiner demi persiapan untuk menyelamatkan diri.

Selain itu, pendaki juga harus mempersiapkan stok air berlebih. Itu untuk memperbanyak kadar oksigen dan melawan pekatnya asap.

"HT (walkie talkie) dan sinyal handphone untuk melaporkan kebakaran itu tidak bisa terlalu diharapkan. Lebih baik [pendaki] turun dari gunung. Pakai masker atau kain, basahi dengan air lalu tutupi hidung. Itu dapat oksigen. Kalau bisa, basahi pakaian dengan air," tuturnya kepada Tagar pada Senin, 22 Juli 2019.

Agus mengatakan saat mengevakuasi diri, pendaki bisa menuruni gunung menggunakan webbing atau carabiner, sembari memperhatikan arah api. Hal lainnya, pendaki bisa mencari jalur pendakian lain yang tidak tersentuh kobaran api.

"Tali webbing dan carabiner itu berguna dalam kondisi darurat. Setiap pendaki gunung wajib bawa. Gunanya, untuk turun melewati jurang-jurang yang tidak terlalu dalam. Pasti ada jalan turun, semisal track lain dan sebaiknya turun gunung itu hal terpentingnya untuk selamatkan diri," ujar dia.

Namun apabila jalur lintasan legal sudah tidak bisa dituruni, lanjut Agus, maka hal yang harus dilakukan pendaki ialah berjalan menuju puncak, menunggu bala bantuan dari Basarnas, BPBD atau organisasi pecinta alam setempat.

Selain itu, sekop kecil menurutnya perlu dibawa pendaki. Alat itu bisa dipakai untuk memutus lajur api dengan cara membuat lubang atau kubangan-kubangan agar si jago merah tidak mudah menjilati vegetasi atau tanaman kering pada masa puncak kemarau ini.

"Tidak boleh panik, gali lubang buat jalur-jalur agar api tidak terus merembet. Bertahan hidup, kuatkan mental sembari menunggu pertolongan," ucap Agus.

Agus berharap setiap pihak yang berkepentingan terhadap kondisi sebuah gunung selalu mempersiapkan penanggulangan kebakaran lahan karena bencana tersebut bersifat musiman. []

Berita terkait
0
Relawan Sebut Menteri Jokowi Belum Cerminkan Nawacita
Bagi kelompok relawan nama-nama menteri yang sudah dipanggil belum memenuhi kriteria khususnya visi Nawacita.