UNTUK INDONESIA
Gerakan Chipko di India: Memeluk Pohon untuk Menghentikan Aksi Penebangan
Perempuan dan laki-laki berdiri di sekitar pohon, memeluk mereka, kemudian berpegangan tangan satu sama lain untuk mencegah penebangan.
Gerakan Chipko di India, bersama-sama memeluk pohon untuk mencegah aksi penebangan. (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 28/3/2018) - Perempuan dan laki-laki berdiri di sekitar pohon, memeluk mereka, berpegangan tangan satu sama lain. Ini adalah adegan di sebuah desa di Uttar Pradesh pada tahun 1973, sekarang di Uttarakhand, dimana Gerakan Chipko modern lahir di bawah naungan Sunderlal Bahuguna, seorang Garhwa yang terkenal peduli pada lingkungan hidup.

Ini adalah bentuk perlawanan terkuat terhadap penebangan pohon yang merajalela, dimana orang-orang menegaskan hak mereka atas alam, bersumpah untuk melindunginya.

[caption id="attachment_51990" align="alignnone" width="712"] (Google Doodle menandai 45 tahun gerakan Chipko di India pada 26 Maret 2018)[/caption]

Baca juga: Hannah Glasse Sang Dewi Domestik Inggris

Gerakan jenis Chipko berasal dari tahun 1730 Masehi ketika di Desa Khejarli, Rajasthan, 363 orang dari suku Bishnoi mengorbankan hidup mereka untuk menyelamatkan pohon khejri. Perempuan bernama Amrita Devi memimpin gerakan pada abad ke-18 dan meletakkan hidupnya bersama dengan sekelompok penduduk desa sambil melindungi pohon-pohon dari penebangan atas perintah Raja Jodhpur. Setelah insiden ini, raja, dalam dekrit kerajaan, melarang penebangan pohon di semua desa Bishnoi.

Gerakan modern adalah protes kolektif yang dilakukan oleh rakyat pedesaan, berdasarkan prinsip-prinsip non-kekerasan Gandhi. Ini adalah cara terpadu untuk menghentikan pembantaian di kaki bukit Himalaya. Atas nama pembangunan, kontraktor hutan menebang pohon-pohon, dan menjarah kayu.

Pemberontakan melawan penebangan pohon dan mempertahankan keseimbangan ekologi berasal dari distrik Chamoli (sekarang Uttarakhand) pada tahun 1973 dan dalam waktu singkat tumpah ke negara-negara lain di India utara.

Nama ‘Chipko’ berasal dari kata ‘merangkul’, karena penduduk desa memeluk pohon dan mencegahnya ditebangi.

The Chipko andolan adalah gerakan yang mempraktikkan metode Satyagraha dimana baik aktivis laki-laki dan perempuan dari Uttarakhand memainkan peran penting, termasuk Gaura Devi, Sudesha Devi, Bachni Devi dan Chandi Prasad Bhatt.

Sebuah Gerakan Para Wanita

Beberapa bulan kemudian pada tahun 1974, pemerintah mengumumkan pelelangan 2.500 pohon di dekat desa Reni di Uttarakhand, menghadap ke sungai Alaknanda. Penduduk desa berkumpul untuk memprotes tindakan pemerintah dengan memeluk pohon.

Pada 24 Maret 1974, pada hari para penebang pohon memotong pohon di Reni, seorang gadis setempat bergegas memberi tahu Gaura Devi, kepala desa Mahila Mangal Dal, di desa Reni. Gaura Devi memimpin 27 wanita desa ke tempat itu dan berhadapan dengan para penebang. Konfrontasi terjadi dan pembicaraan antara kedua kelompok gagal.

Para penebang mulai berteriak dan menyiksa para wanita, mengancam mereka dengan senjata. Para wanita, dalam protes damai, terpaksa memeluk pohon-pohon untuk menghentikan mereka agar tidak ditebang. Para wanita terus berjaga sepanjang malam menjaga pohon dari pemotong sampai beberapa dari mereka, tidak dapat melakukan apa-apa, meninggalkan desa.

Google Doodle menandai perayaan 45 tahun gerakan Chipko pada Senin 26 Maret 2018. Di lamannya Google menuangkan puisi karya Ghanasyam Raturi, seorang penyair India yang menulis tentang gerakan Chipko pada tahun 1970-an untuk melindungi hutan daerah di Uttar Pradesh (Uttrakhand).

Merangkul pohon

Menyelamatkan mereka dari penebangan;

Pohon ini milik bukit kami,

Menyelamatkan mereka dari penjarahan

Keberhasilan gerakan Chipko, perlawanan non-kekerasan dan tanpa akar ini dirasakan di seluruh dunia, menginspirasi gerakan lingkungan di masa depan. (sa)

Berita terkait
0
Gubernur Sulsel Minta Isu Corona Tak Dipolitisasi
Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah meminta masyarakat agar isu virus corona tidak dipolitisasi.