Indonesia
Gelang Haji, Kreasi Perajin Asal Jepara
Tahukah anda gelang yang dipakai Jemaah Calon Haji (JCH) asal Indonesia dari mana? ternyata gelang tersebut dibuat oleh pengrajin dari Jepara Jawa Tengah.
Subandi menunjukan dua gelang haji yang berbeda desain. Diatas (biru) merupakan gelang tahun lalu, yang menggunakan barcode, sementara di bawahnya (kuning) merupakan gelang haji yang dipakai tahun ini, karena menggunakan sistem pengenal maktab atau pemondokan. (Foto: Tagar/Padhang Pranoto)

Jepara - Selain paspor dan kartu tanda pengenal, jemaah haji asal Indonesia juga memakai gelang dari dari stainless steel yang berisikan identitas diri. Gelang haji tersebut dihasilkan oleh tangan-tangan terampil perajin asal Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Sebuah rumah yang berada di gang sempit  Rukun Tetangga 8 Rukun Warga I, Desa Bakalan, terlihat sama seperti rumah-rumah lainnya. Namun bila dilihat seksama, ada lalu lalang pekerja yang sibuk dengan mesin-mesin gerinda. Di tangan mereka, nampak sebuah benda berkilau yang nampak sekilas seperti batang sendok.

Namun bila di lihat lebih dekat, benda tersebut terlihat berbeda. Dengan panjang sekira 10 sentimeter, batang stainless steel itu berukir identitas haji, lengkap dengan tulisan Arab.

Subandi, perajin  yang menangani seluruh proses pembuatan gelang haji menuturkan, gelang tersebut dibuat dari bahan khusus.

Bahan gelang di impor langsung dari Jepang yang diklaim tahan api, tak berkarat dan tidak menimbulkan alergi di kulit.

"Bahannya adalah stainless steel 304 dari Jepang. Kalaupun terbakar, tulisan yang ada digelang tetap bisa terbaca. Sehingga kami tidak menggunakan bahan seperti karet dan sebagainya. Untuk bahan ini juga kuat tapi lentur dan tidak menimbulkan iritasi di kulit, tidak seperti jenis stainless steel 301 atau 201," paparnya kepada Tagar Sabtu, 13 Juli 2019.

Artikel lainnya: Petani Garam di Jepara Keluhkan Harga Anjlok

Ia mengatakan, tahun ini, ia dibebani membuat sejumlah 235.049 biji gelang haji. Jumlah tersebut sudah termasuk tambahan kuota 10.000 jemaah haji dari Pemerintah Arab Saudi plus petugas haji.

Selain itu, pada tahun 2019 gelang haji memiliki ciri yang berbeda dari gelang tahun lalu. Jika pada tahun lalu, ada tempat khusus untuk barcode, maka di tahun ini tanda itu digantikan dengan maktab atau pemondokan.

"Karena tahun lalu, ada kekurangan barcode banyak yang tidak terbaca. Maka tahun ini diganti dengan kode maktab atau asal pemondokan jemaah haji di Tanah Suci. Untuk membedakan antar embarkasi ada kode warna khusus yang berbeda-beda. Di Indonesia ada 19 embarkasi," urainya.

Rekrut 150 Pekerja

Subandi memaparkan, untuk mengerjakan ratusan ribu gelang haji pesanan Kementrian Agama RI dibutuhkan waktu selama tiga bulan. Untuk keperluan tersebut, ia merekrut 150 pekerja, terdiri dari buruh harian, borongan dan buruh harian lepas.

Proses pengerjaan dilakukan sejak bulan Mei 2019. Kini setelah jemaah haji Indonesia mulai diberangkatkan, pengerjaan sudah mencapai 100 persen. Pengerjaannya pun menggunakan metode semi manual.

"Supaya presisi kita menggunakan mesin untuk pemotongannya, pemberian lubang dan sebagainya," tuturnya.

Artikel lainnya: Krisis Air, Warga Jepara Gunakan Air Sungai

Budi Hariyanto seorang pekerja gelang haji menuturkan ia harus lembur untuk menuntaskan pembuatan gelang haji. Hal itu untuk mengejar target penyelesaian order.

"Pas puasa lalu sampai lembur-lembur sampai tengah malam. Ya sembari menunggu sahur juga sih," ucapnya.

Berikutnya, setelah gelang-gelang tersebut selesai dikerjakan, Subandi juga masih punya pekerjaan selama sebulan ke depan. Ia harus mengirimkan pekerjanya ke 19 embarkasi guna menyelesaikan pencetakan nama jemaah haji.

Pencetakan nama dilakukan secara manual, berdasarkan daftar yang diberikan oleh Kementrian Agama, sesuai dengan kelompok terbang dan asal embarkasi. []

Berita terkait
0
Ustaz Abdul Somad Batal Isi Ceramah di Pematangsiantar
Ustad Abdul Somad batal mengisi tausiah di Kota Pematangsiantar. Rencananya, UAS akan hadir di Masjid Raya, Minggu 25 Agustus 2019.