Jakarta, (Tagar 12/4/2018) - Presiden Joko Widodo sangat terbantu memiliki pembantu sekaliber Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang tangguh dan berani tegas menenggelamkan kapal asing pencuri ikan. 

Ketika bukan orang luar, tapi orang dalam, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengkritik sanksi penenggelaman kapal asing yang tertangkap mencuri ikan di perairan Indonesia, Presiden Joko Widodo maju ke depan menunjukkan sikap. Ia mendukung sepenuhnya langkah Menteri Susi.

Menurut Jokowi, melalui kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan, Susi telah mewujudkan kedaulatan di Indonesia.

"Sudah tiga tahun ini ribuan kapal asing pencuri ikan semuanya sudah enggak berani mendekat. Karena apa? Semuanya ditenggelamkan oleh Bu Susi," ujar Jokowi, Senin (8/1/2018).

"Sudah 317 kapal yang ditenggelamkan Bu Susi. Bu Susi itu perempuan, tetapi seram. Takut semuanya kepada Bu Susi," lanjutnya.

Lebih lanjut Jokowi menjelaskan penenggelaman kapal asing pencuri ikan adalah bentuk penegakan hukum Pemerintah Republik Indonesia untuk menimbulkan efek jera.

"Penenggelaman (kapal) ini adalah bentuk law enforcement yang kita tunjukkan bahwa kita ini tidak main-main terhadap illegal fishing, terhadap pencurian ikan. Tidak main-main. Oleh sebab itu yang paling seram ya ditenggelamkan. Ya, kan. Untuk efek jera," jelas Presiden.

Penenggelaman kapal pencuri ikan diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Pasal 65 ayat (4) UU Nomor 45 Tahun 2009 menyatakan, penyidik dan atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan atau penenggelaman kapal perikanan berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

Penenggelaman kapal pencuri ikan berdampak signifikan bagi peningkatan nilai ekspor produk perikanan nasional.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjelaskan kinerja ekspor produk perikanan Indonesia Januari sampai dengan November 2017 sebesar US$ 4,09 miliar dengan volume ekspor 979.910 ton. Tren ekspor Januari-November 2017 mengalami kenaikan 8,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 3,78 miliar

Jika dilihat tren 5 tahun ke belakang, 2012-2017 naik 1,71% per bulan dengan kenaikan volume 1,63% per bulan.

"Nilai ekspor naik 8,13% dari US$ 3,78 miliar di 3016 menjadi US$ 4,09 miliar di 2017," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo di Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (11/1/2018).

Di sisi lain, nilai dan volume impor sampai dengan November 2017 mencapai US$ 433.380 dan 346.350 ton. Tren impor Januari-November 2017 mengalami kenaikan 14,43% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Akan tetapi, hal ini tidak berpengaruh terhadap nilai neraca perdagangan karena persentase impor hanya 10,31% terhadap nilai ekspor.

Selama periode 2012-2016, tren tahunan nilai ekspor mengalami kenaikan 2,45% dan impor mengalami penurunan 1,89%. Namun dari sisi volume ekspor tren tahunannya mengalami penurunan 3,23%. Akan tetapi penurunan volume tidak berpengaruh pada nilai ekspor.

Hal ini dikarenakan meningkatnya harga produk perikanan serta produk yang turun volume ekspornya adalah produk dengan harga rendah.

Dibandingkan dengan beberapa negara lain seperti China, Thailand, Vietnam, dan Filipina tren pertumbuhan nilai ekspor dan neraca perdagangan Indonesia lebih tinggi selama periode 2012-2016. Pertumbuhan nilai ekspor tercatat 2,31% per tahun dalam periode 2012-2016 dan pertumbuhan neraca perdagangan naik 2,67% per tahun.

Sedangkan pertumbuhan nilai ekspor China naik 2,29% per tahun dan neraca perdagangan tumbuh 0,60% per tahun. Kemudian Vietnam nilai ekspornya naik 1,45% per tahun dan neraca perdagangannya turun 15,14% per tahun. Sedangkan Filipina nilai ekspornya naik 0,32% dan neraca perdagangan turun 6,75%.

Berdasarkan komoditas utama yang diperdagangkan, tren nilai ekspor Januari-November 2016-2017 mengalami kenaikan untuk komoditas udang 0,53%, tuna tongkol cakalang 18,57%, rajungan dan kepiting 29,46%, cumi sotong gurita 16,54%, rumput laut 23,35%, dan lainnya naik 3,61%.

Tujuan utama pasar ekspor mengalami kenaikan ke Amerika Serikat (AS) 12,82%, Jepang naik 8,31%, Asia Tenggara naik 3,42%, China naik 11,28%, dan Uni Eropa naik 9,38%. (sa)