Filipina Protes Legislasi UU Pertahanan Pantai China

UU Pertahanan Pantai China dikecam Filipina sebagai “ancaman perang” karena China bisa menghancur bangunan di wilayah perairan yang diklaim China
Seorang nelayan Filipina memandang kapal patroli milik pasukan penjaga pantai China di dekat Gosong Scarborough yang diperebutkan kedua negara di Laut China Selatan, April 2017 (Foto: dw.com/id)

Manila - Filipina melayangkan protes terhadap legislasi baru di China yang mengizinkan pasukan penjaga pantai untuk menghancurkan kapal atau bangunan asing di wilayah perairan yang diklaim China secara sepihak. UU tersebut diyakini mengancam negara lain di Laut China Selatan

Filipina mengkhawatirkan keselamatan warga negaranya, menyusul langkah China mengesahkan UU Pertahanan Pantai Jumat, 22 Januari 2021, pekan lalu. Berbekal UU tersebut, pasukan penjaga pantai China diizinkan mengaramkan kapal asing, atau menghancurkan bangunan asing di "wilayah perairannya".

"Hal ini dipandang sebagai ancaman perang secara verbal bagi setiap negara yang menolak”, tulis Menteri Luar Negeri (Menlu) Filipina, Teodore Locsin Jr., Lewat akun Twitternya, Jumat, 29 Januari 2021. Jika negara lain tidak menggugat UU tersebut, maka mereka "harus tunduk terhadapnya,” imbuh Locsin.

dutertePresiden Filipina, Rodrigo Duterte, berbicara di Istana Kepresidenan Malacanang di Manila, Filipina, 7 September 2020. (Foto: voaindonesia.com - Karl Norman Alonzo/Foto Presiden Malacanang/AP)

"Meski penyusunan Undang-undang adalah hak prerogatif sebuah negara berdaulat, - mengingat kawasan yang dilibatkan, atau Laut China Selatan yang bebas dan terbuka – maka ini adalah sebuah ancaman perang secara verbal terhadap negara-negara yang menolak UU tersebut,” kata Menlu Filipina.

UU Pertahanan Pantai disahkan oleh Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Jumat, 22 Januari 2021, pekan lalu. Di dalamnya ditegaskan, pasukan penjaga perbatasan diwajibkan "mengambil semua langkah yang diperlukan, termasuk penggunaan senjata, jika kedaulatan nasional, hak dan garis yurisdiksi di laut dilanggar secara ilegal oleh organisasi atau individu asing.”

Hal itu termasuk menghancurkan atau menyita bangunan milik negara lain yang didirikan di dalam wilayah yang diklaim sebagai milik China. Sebab itu UU Pertahanan Pantai dikhawatirkan bakal meningkatkan eskalasi konflik di Laut China Selatan.

Baca juga: China Caplok Perairan ZEE Indonesia di Laut Natuna Utara

Sejauh ini, Filipina sudah berulangkali terlibat bentrokan dengan pasukan penjaga pantai China seputar wilayah teritorial di Kepulauan Spratly. Ketegangan meningkat ketika sejak beberapa tahun terakhir China mulai melengkapi tujuh pulau yang diklaimnya dengan sistem pertahanan peluru kendali.

Dinamika Baru di Washington. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, sejak awal berkuasa, sebenarnya mengambil kebijakan lunak terhadap Beijing demi melindungi kepentingan Filipina di Laut China Selatan. Namun menyusul pergantian kekuasaan di Washington, Manila kini menaruh harapan pada Presiden Joe Biden.

klaim china di lcsTumpang tindih klaim maritim antara Cina dan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan. (Foto: dw.com/id)

"Sebagai salah satu sekutu AS di kawasan Indo-Asia Pasifik, Filipina bisa memetik keuntungan dari strategi poros Asia yang diadopsi pemerintahan Biden,” kata Menteri Pertahanan, Delfin Lorenzana, kepada media asing di Manila, 29 Januari 2021.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, Rabu, 28 Januari 2021, lalu mengatakan pihaknya akan mendukung negara-negara Asia Tenggara dalam menghalau tekanan China. Dalam pembicaraan telepon dengan Menlu Locsin, Blinken menegaskan pentingnya kesepakatan pertahanan antara kedua negara.

Menlu AS itu menyebutkan perjanjiannya "jelas mencakup serangan bersenjata terhadap angkatan bersenjata Filipina, kapal publik, atau pesawat udara di kawasan Pasifik, termasuk Laut China Selatan”. Demikian mengutip keterangan Kementerian Luar Negeri di Washington.

Meski demikian, keterlibatan AS dalam konflik di LCS tidak serta merta membuat posisi Filipina menjadi lebih mudah, kata Duta Besar Filipina di Washington, Jose Manuel Romualdez. "Saya khawatir kami harus lebih berhati-hati dalam berhubungan dengan kedua negara,” kata dia. "Kami tidak ingin terjebak di tengah-tengah.” [rzn/as (ap, rtr)]/dw.com/id. []

Berita terkait
China dan Filipina Jalin Kerja Sama Pemulihan Pasca Pandemi
Menlu China dan Menlu Filipina berkomitmen untuk memprioritaskan upaya pemulihan pasca pandemi virus corona
Filipina Tak Mau Setop Proyek Perusahaan China
Pemerintah Filipina tidak akan menghentikan proyek infrastruktur yang melibatkan perusahaan China yang masuk daftar hitam AS.
Filipina Cabut Moratorium Migas di Laut China Selatan
Karena desakan ekonomi Filipina cabut moratorium minyak dan gas di kawasan Luat China Selatan yang selama ini jadi sengketa dengan China
0
Kebijakan Biden Atasi Kesenjangan Kesejahteraan Antarras
Dalam kunungan Tulsa, Oklahoma ke Biden mengumumkan langkah-langkah untuk mempersempit kesenjangan kesejahteraan antarras