Evergrande Raksasa Properti China Semakin Terdesak

Berita penangkapan tersebut didahului penggerebekan terhadap anak perusahaan Evergrande di Shenzen
Evergrande (Foto: dw.com/id - Wang Gang/Utuku/ROPI/picture alliance)

TAGAR.id - Kredit macet dan dakwaan kriminal semakin membebani raksasa properti China, Evergrande. Kini, perusahaan mempertaruhkan masa depan pada rencana restrukturisasi utang yang semakin lama semakin sulit terwujud. Thomas Kohlmann melaporkannnya untuk DW.

Krisis yang menimpa raksasa properti China, Evergrande, kian memanas, setelah Kantor Berita Caixin melaporkan penangkapan terhadap Direktur Keuangan, Pan Darong, dan bekas Direktur Utama, Xia Haijun. Keduanya dikenal loyal kepada pendiri Evergrande, Hui Ka-yan. Dia mengundurkan diri 2022 silam setelah ketahuan menggelapkan kredit bernilai miliaran Dollar AS.

Berita penangkapan tersebut didahului penggerebekan terhadap anak perusahaan Evergrande di Shenzen, di mana sejumlah pegawai ditahan aparat kepolisian.

Pada Selasa (26/9-2023), kantor berita Reuters mengabarkan, para pemegang saham Evergrande di luar negeri berniat mengajukan gugatan likuidasi terhadap manajemen, jika Evergande gagal merilis rencana restrukturisasi utang hingga bulan depan. Laporan tersebut memicu gelombang spekulasi, bahwa raksasa properti China itu tidak lagi bisa diselamatkan dan harus menyatakan diri bangkrut.

Celakanya, pada hari Minggu (24/9-2023) manajemen perusahaan mengaku tidak lagi diizinkan mengambil utang baru oleh pemerintah China. Artinya, perusahaan tidak lagi bisa membayar cicilan utang atau menawarkan surat utang jangka panjang.

Goyahnya perekonomian China

Kasus Evergrande menjadi pukulan bagi upaya pemerintah di Beijing untuk menstabilkan perekonomian dan menenangkan investor. Dikhawatirkan, krisis properti di China bisa berimbas kepada sektor perbankan. Industri properti selama ini menyumbang seperempat dari produk domestik brutto di China.

Eskalasi krisis bukan hanya akan berdampak kepada pemerintah China, tetapi juga pada semua mitra dagang terbesar Beijing. Betapapun juga, sektor konstruksi di China bertanggung jawab atas seperempat PDB secara langsung atau tidak langsung.

Sejak beberapa bulan terakhir, Evergrande berusaha meyakinkan debitur untuk menyetujui rencana restrukturisasi utang luar negeri senilai 31,7 miliar dolar AS. Secara keseluruhan, perusahaan berutang sebanyak 340 miliar dolar AS pada tahun 2022. Rencana restrukturisasi menyaratkan para debitur bersedia memperpanjang masa cicilan menjadi 10 atau 12 tahun.

Tidak sedikit debitur yang dikejutkan oleh pengumuman perusahaan pada akhir pekan lalu, bahwa Evergrande tidak lagi sanggup membuat utang baru. Kini sedang dirundingkan bagaimana restrukturisasi utang atau pembayaran cicilan bisa dilaksanakan dengan tertib, lapor Reuters mengutip sumber orang dalam.

Negosiasi alot seputar restrukturisasi utang

Jika sampai tanggal 30 Oktober Evergrande belum memublikasikan rencana restrukturisasinya, sejumlah debitur luar negeri sudah siap mengajukan permohonan likuidasi terhadap aset perusahaan, menurut laporan Reuters.

Namun belum jelas berapa banyak debitur Evergrande yang akan menempuh jalur hukum dan berapa volume pinjaman yang diperkarakan.

Top Shine Global, salah satu pemilik saham Evergrande, mengajukan permohonan likuidasi sudah sejak Juni 2022 lalu melalui pengadilan di Hong Kong. Gugatan berbasis pada kegagalan Evergrande memenuhi butir kesepakatan untuk membeli kembali saham situs otomotif, Fangchebao. Juli lalu, sidang dengar pendapat diundur hingga 30 Oktober, menunggu hasil negosiasi restrukturisasi utang antara perusahaan dan debiturnya.

Untuk nendapat lampu hijau bagi restrukturisasi, Evergrande harus mendapat persetujuan dari minimal 75 persen semua debitur dan pemegang surat utangnya.

Pertemuan itu sudah dijadwalkan untuk pertengahan Oktober. Namun setelah Evergrande mengaku tidak lagi bisa membuat utang, analis keuangan meragukan apakah upaya restrukturisasi bisa dilakukan. (rzn/as)/dw.com/id. []

Berita terkait
Presiden Marcos Jr. Sebut Filipina Tidak Cari Masalah tapi Akan Bela Perairannya dari Agresi China
Ini pertama kalinya Presiden Marcos Jr. berbicara terbuka mengenai penghalang sepanjang 300 meter di arah mulut Scarborough Shoal oleh China
0
Evergrande Raksasa Properti China Semakin Terdesak
Berita penangkapan tersebut didahului penggerebekan terhadap anak perusahaan Evergrande di Shenzen