Ekonom INDEF Sebut Pengaruh Joe Biden bagi Ekonomi Indonesia

Seperti apa pengaruh Presiden terpilih Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden terhadap ekonomi Indonesia?
Ekonom INDEF Eny Sri Hartati (Foto: Tagar/Tagar Tv)

Jakarta - Ekonom Senior Institute For Development of Ekonomis dan Finance (INDEF), Eni Sri Hartati mengatakan, hubungan Indonesia dengan negara luar termasuk Amerika Serikat tidak tergantung kepada siapa presiden negara tersebut.

Namun kata Eny, lebih kepada bagaimana Indonesia melakukan berbagai macam lobi maupun juga kerjasama bilateral yang sistemik dengan negara luar itu untuk kepentingan ekonomi nasional.

Menurut dia, negara-negara yang demokrasinya maju seperti Amerika Serikat dengan dua kekuatan politiknya yang seimbang antara Partai Demokrat dan Republik, mereka sudah memiliki kebijakan ekonomi masing-masing. Sehingga siapapun presidennya, kebijakan ekonomi mereka tidak akan jauh berbeda sesuai partai mereka masing-masing. 

"Sehingga siapa pun yang menjadi presidennya, baik itu dari Partai Demokrat maupun Republik, mereka memiliki platform ekonomi masing-masing," kata dia saat diwawancara Tagar Tv, Minggu, 8 November 2020.

Eny menjelaskan, jika Amerika dipimpin seorang Presiden dari Partai Republik maka kebijakan ekonominya tidak jauh berbeda seperti yang dilakukan oleh Donald Trump. Yakni kebijakan ekonomi lebih mengutamakan kepentingan dalam negerinya.

"Seperti ketika awal Donald Trump menjabat (Presley Amerika) ia langsung menaikan pajak impor baja dan aluminium yang masuk ke negaranya. Jadi lebih kepada strategi ekonominya ke dalam (negaranya)," tutur Eny.

Jadi sekali lagi siapapun presidennya (Amerika Serikat) biasanya warna politik atau garis kebijakan ekonominya itu tidak akan berubah, ujarnya.

Sementara Partai Demokrat seperti ketika Barack Obama menjabat presiden, lebih cenderung kepada intervensi pemerintah, memberikan subsidi. "Kalau kita lihat kebijakan Demokrat seperti ketika Barack Obama menjabat ada namanya Obama Care kalau di Indonesia seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT)," kata dia.

Baca juga: Ramai Boikot Produk Prancis, INDEF: Ada Pesan Umat Muslim

Baca juga: Genjot Potensi Ekspor ke AS, Indef: Perlu Intelijen Pasar

Ini merupakan perbedaan visi fiskal atau instrumen yang digunakan dalam kebijakan ekonomi antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Amerika Serikat. "Jadi sekali lagi siapapun presidennya (Amerika Serikat) biasanya warna politik atau garis kebijakan ekonominya itu tidak akan berubah," ujarnya. []

Berita terkait
Ramai Boikot Produk Prancis, INDEF: Ada Pesan Umat Muslim
Publik termasuk para pemimpin dunia harus melihat isi pesan yang disampaikan dibalik seruan pemboikotan produk Prancis.
Genjot Potensi Ekspor ke AS, Indef: Perlu Intelijen Pasar
Peneliti Indef, Bhima Yudhistira menilai, perlu ada intelijen pasar untuk mengoptimalkan potensi pasar dari Amerika Serikat.
Indef Soroti Utang Meningkat untuk Renegosiasi ke Kreditur
Peneliti Indef Bhima Yudhistira menilai sebaiknya pemerintah renegosiasi terkait utang luar negeri Indonesia kepada kreditur.
0
Permintaan Risma Kepada ASN Kemensos di Hari Lahir Pancasila
Mensos minta semua teman-teman di lingkungan Kemensos menegakkan integritas. Bayangkan bila kita salah mengetik angka bisa merugikan negara.