Indonesia
Eko Kuntadhi: Tidak Ada Rekonsiliasi Pendukung Khilafah
Prabowo-Jokowi bersatu. Yang tak mungkin bisa disatukan adalah pendukung khilafah dan penjaga kebhinekaan. Tulisan Eko Kuntadhi.
Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7/2019). Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri makan siang bersama-sama. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Oleh: Eko Kuntadhi*

Prabowo bertemu Jokowi. Itu biasa. Para tokoh politik boleh bersaing. Jika tujuannya membangun Indonesia, pada satu titik mereka akan bertemu juga. Ketika panggilan untuk membangun bangsa lebih baik, mereka akhirnya akan bergandengan tangan juga.

Para pendukung Jokowi senang-senang saja melihat dua tokoh itu rekonsiliasi. Kita berharap keduanya menjadi lokomotif yang menggerakkan bangsa ini menuju kemajuan.

Sebagian pendukung Prabowo juga sudah cuek. Hasil survei Kompas beberapa waktu lalu mengindikasikan bahwa orang yang masih menolak hasil Pemilu jumlahnya gak banyak. Hanya sekitar 3 % saja. Mereka inilah yang masih teriak-teriak curang.

Sementara rakyat lain menganggap Pemilu berjalan jujur dan adil. Proses di MK menandakan akhir dari perdebatan soal Pilpres. Semuanya klir. Terang benderang dan terbuka.

Yang tidak mungkin bertemu adalah orang yang mencintai Indonesia dengan yang membenci Indonesia. Yang tidak mungkin disatukan adalah para pendukung khilafah dengan penjaga kebhinekaan. Yang tidak mungkin jalan beriringan adalah mereka yang mau menegakkan negara agama dengan mereka yang tetap yakin Indonesia sebagai negara plural.

Keduanya seperti minyak jelantah dan air. Gak mungkin bersatu.

Kalau kini masih ada yang ngotot memprotes Prabowo karena mau bergandengan tangan dengan Jokowi, itu karena dalam diri mereka membenci persatuan. Mereka tidak suka Indonesia ini aman dan tenteram. Mereka adalah orang-orang yang dibesarkan dalam kubangan kebencian atas nama agama.

Yang tidak mungkin bertemu adalah orang yang mencintai Indonesia dengan yang membenci Indonesia. Yang tidak mungkin disatukan adalah para pendukung khilafah dengan penjaga kebhinekaan. Yang tidak mungkin jalan beriringan adalah mereka yang mau menegakkan negara agama dengan mereka yang tetap yakin Indonesia sebagai negara plural.

Jokowi dan PrabowoPresiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) saat pertemuan di FX Senayan, Jakarta. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jadi jangan berharap mereka suka terbangunnya suasana kondusif. Sebab, di mana pun, satu-satunya jalan buat menegakkan khilafah adalah dengan membuat kekacauan dan perpecahan. Mimpi khilafah gak mungkin tegak jika Indonesia bersatu.

Maka kita lihat sekarang, sebagian kecil pendukung Prabowo seperti dicentil bijinya. Kelojotan gak karuan. Mereka marah. Mereka frustasi tidak bisa lagi menjadikan Prabowo sebagai kuda troya untuk menjalankan rencana besarnya.

Sesungguhnya rakyat yang waras tidak suka dengan perpecahan. Rakyat yang adem otaknya tidak setuju dengan permusuhan. Hanya yang korslet cara mikir-nya saja yang membenci melihat orang berbaikan.

Padahal ajaran agama memerintahkan menjalin silaturahmi. Menjalin persahabatan. Tapi, mereka ngaku beragama, sedangkan mereka tetap membanci silaturahmi.

Pada orang-orang seperti ini kita memang tidak berharap banyak. Persatuan hanya bisa dicapai apabila dua belah pihak mau bersatu. Jika satu pihak membuka diri, pihak lainnya terus menyarangkan kebencian, persatuan tidak mungkin bisa dicapai.

Jembatan bisa terhubung jika kedua sisinya sama-sama membangun. Jika satu sisi membangun jembatan, sisi lain merobohkannya, tidak ada penghubung yang bisa berdiri.

Jadi kita juga gak perlu resah dengan gerombolan yang kini memprotes Prabowo karena mau bergandengan tangan dengan Jokowi. Sebab sudah tabiat mereka membenci orang yang menyebarkan kebersamaan.

Kepada mereka yang membenci persatuan, itulah sesungguhnya musuh kita bersama. Jangan terjebak pada jargon persatuan, lalu kita membiarkan mereka yang mau merobek persatuan berkelakuan seenaknya.

Musuh Indonesia saat ini adalah mereka yang mau menjadikan negara indah ini sebagai negara agama. Merekalah duri dalam diri bangsa. Keberadaan merekalah yang membuat kita terus berdiri di sini, menentang kekuatan yang ingin memporakporandakan Indonesia.

Kita perlu menggalang persatuan pada semua elemen. Sepanjang mereka menunjukkan sikap bersedia membangun bangsa secara bersama. Sedangkan pada kekuatan yang mau mengubah pondasi bernegara kita, hanya ada satu kata: lawan!

Tidak ada kata rekonsiliasi pada para pendukung khilafah. Sebab sejatinya, mereka membenci keberagaman.

*Penulis adalah Pegiat Media Sosial

Baca juga;

Berita terkait
0
Ustaz Abdul Somad Batal Isi Ceramah di Pematangsiantar
Ustad Abdul Somad batal mengisi tausiah di Kota Pematangsiantar. Rencananya, UAS akan hadir di Masjid Raya, Minggu 25 Agustus 2019.