Bandung - Beberapa anak berkebutuhan khusus dengan semangatnya belajar mengenal benda-benda dan membaca yang dipandu Ibu Yulianti, guru sekaligus penggagas dan pengelola Sekolah Dreamable. Sekolah ini berlokasi di Jl. Cibisoro RT02 RW 016 Desa Bojongsari Kecamatan Bojongsoang.

Nampak riuh saat anak-anak berkebutuhan khusus tersebut saling berebut untuk menjawab pertanyaan dari Ibu Yulianti. Atau riuh karena salah satu anak salah menjawab pertanyaan atau ada saja salah satu anak yang bergurau.

Sekolah ini memang dikelola warga secara mandiri. Tetapi dalam melakukan aktivitasnya didukung oleh PT Pertamina Marketing Operation Region III melalui program yang diberi nama Dreamable. Sekolah inipun diberi nama Sekolah Dreamable khusus anak-anak yang berkebutuhan khusus yang ada di wilayah Desa Bojongsari dan Desa Sapan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Baca juga: Foto: Protes Lewat Teatrikal Bandung Lautan Banjir

Penggagas, pengelola sekaligus pengajar Sekolah Dreamable Yulianti menceritakan awal mulanya berdiri sekolahnya ini. Menurut Yulianti, ia mengawali Sekolah Dreamable untuk anak berkebutuhan khusus atau ABK yang disekolahkan di SLB yang letaknya jauh dari desanya.

Kemudian, didorong karena keaktifan dirinya sebagai tenaga sosial di wilayah Tegalluar sejak 2014-2015, Yulianti  melihat bahwa ternyata di desanya sendiri banyak anak-anak yang bernasib serupa seperti anak pertama Yulianti yakni Hanif Nofal atau Adam (17 tahun) yang sama-sama berkebutuhan khusus, namun tidak disekolahkan di SLB sebagaimana dilakukan oleh Yulianti kepada anaknya.

“Awalnya, saya ajak orang tua yang memiliki ABK ini agar disekolahkan di SLB. Memang ada orang tua yang mau, ada juga yang menolak ajakan saya ini, karena tidak mengerti bahwa anak ABK bisa disekolahkan,” tuturnya saat ditemui di Sekolah Dreamable di Jl. Cibisoro RT02 RW 016 Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Senin, 15 April 2019.

Kebanyakan memang orang tua yang memiliki anak ABK ini menolak karena sekolah SLB terlalu jauh. Hal ini juga didukung masih adanya paradigma bahwa anak dengan ABK ini tidak bisa mandiri dan tidak bisa digali potensinya. 

“Melihat kondisi itulah saya tergerak untuk membuat sekolah SLB. Sehingga akhirnya saya ikut kejar paket C kemudian berkualiah di Uninus Bandung jurusan Pendidikan Luar Biasa. Dengan mendirikan SLB yang dekat dengan rumah orang tua dengan ABK dan saya pun jemput bola dengan lakukan home schooling, tidak ada alasan orang tua yang memiliki anak ABK untuk menyekolahkan anaknya,” jelas Yulianti.

Baca juga: Orang Jawa Barat Merasa Bukan Orang Jawa Barat, Merasa Orang Jakarta

Awal berdiri sekolah mandiri ini, terang Yulianti, hanya ada 2, 4 dan 6 anak. Kemudian berkat adanya bantuan PT Pertamina MOR III yang membantu sarana prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar, akhirnya dari hanya 2 atau 6 anak sekarang sudah 33 anak yang berkebutuhan khusus bersekolah di  dua Sekolah Dreamable, baik yang di Desa Sapan maupun yang di Desa Bojongsari.

Operation Head Terminal BBM Bandung Group PT Pertamina (Persero) Tbk, Bambang Soeprijono menuturkan, awal program Dreamable ini sebenarnya berawal dari Program Omaba atau Ojek Makanan Balita yang merupakan kelompok binaan PT Pertamina MOR III.

Dreamable PertaminaPenggagas, pengelola sekaligus pengajar Sekolah Dreamable Yulianti dengan murid -muridnya yang berkebutuhan khusus saat belajar mengajar di Sekolah Dreamable Desa Bojong Sari, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung. Senin (15/4/2019). (Foto: Tagar/Fitri Rachmawati)

“Dreamable ini ada kaitannya dengan Omaba sama-sama peningkatan gizi untuk anak-anak. Tetapi Program Dreamable ini pengembangannya karena dilengkapi dengan kegiatan pendidikan, pelatihan enterpreneur. Kegiatan ekonomi seperti pelatihan berkebun dan beternak lele kita lakukan di Program Dreamable ini,” tuturnya.

Tujuan dasarnya, terang Bambang, program Dreamable ini lebih memberikan pendidikan dan meningkatkan rasa percara diri serta membentuk kemandirian anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Kenapa kita tekankan seperti itu? Karena kita melihat masih banyak masyarakat yang malu karena memiliki anak berkebutuhan khusus. Sehingga memperlakukan anak anak tersebut tidak menyekolahkannya dan dikurung,” terang dia.

Program Dreamable ini merupakan salah satu program CSR PT Pertamina MOR III. Diakui Bambang, program ini bukan program bantuan memberikan uang. Tetapi, program CSR ini lebih ke pendampingan dan pengembangan program yang sudah digagas oleh masyarakat sehingga bisa lebih mandiri dan berkelanjutan.

“Kita berikan bantuan bukan saja pendampingan dan pengembangan program, tetapi kita pun melakukan pelatihan untuk guru-gurunya. Diberikan fasilitas juga seperti fasilitas pelatihan pengelolaan beternak dan berkebun sampai ke pemasaran. Jadi kami tak sekadar membuat program, kami dampingi langsung terus menerus,” ujar dia.

Di tempat yang sama Unit Manager Communication dan CSR Pertamina MOR III Dewi Sri Utami menambahkan, selain bantuan tersebut PT Pertamina pun memberikan bantuan seperti sarana dan prasana air bersih. Bantuan ini diberikan mengingat kondisi air di sini masih kotor sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap air bersih tinggi.

“Ke depannya, kami tidak berhenti sampai di sini. Program ini akan terus berkelanjutan dan bertahap setiap tahunnya. Akan ada peningkatan bantuan dan pengembangan pada program yang kita bantu ini,” kata Dewi.

Program Dreamable ini bukan digagas dari PT Pertamina MOR III tetapi digagas oleh masyarakat setempat. Dalam hal ini PT Pertamina hanya memberikan pendampingan dan bantuan secara berkelanjutan hingga masyarakat yang dibantu bisa secara mandiri melanjutkan program tersebut.

Ke depannya, PT Pertamina MOR III pun membuat program yang serupa di wilayah lainnya baik itu di Jabar maupun di luar Jabar.

“Program Sekolah Dreamable ini langsung dari masyarakat sini. Jadi bukan kami yang menentukan, tetapi masyarakat ini yang meminta atau dalam Program Dreamable ini dari ibu-ibu Omaba yang melihat banyaknya anak ABK yang tidak bersekolah SLB dengan berbagai macam alasan,” tutup dia. []