Jakarta, (Tagar 11/12/2018) - Pembayaran konvensional lambat laun mulai ditinggalkan. Banyak tempat berbelanja mulai dari e-commerce, marketplace, dan toko online berlomba-lomba menghadirkan metode pembayaran alternatif, guna mempermudah para penggunanya.

Seakan tak mau ketinggalan, tidak hanya usaha berbasis online yang menggunakan pembayaran alternatif, warung nasi pinggir jalan sampai ke restoran mulai menggunakan pembayaran virtual.

Masyarakat mulai menggemari pembayaran virtual dengan dompet elektronik (e-wallet). Pembayaran ini efektif dan praktis, walaupun penggunaannya masih untuk layanan yang disediakan oleh perusahaan penyedia.  

Dompet elektronik merupakan bagian dari uang elektronik seperti Go-Pay dari Go-Jek. Kemudian ada OVO milik Grup Lippo. Ada juga T-Cash milik Telkomsel. Rupiah tersimpan dalam bentuk aplikasi. Berbeda dengan uang elektronik yang tersimpan dalam kartu atau e-money.

Pembayaran alternatif ini sekarang baru disediakan untuk pembayaran moda transportasi daring, belanja daring, hingga dompet elektronik yang disediakan oleh jaringan peritel.

Selain pembayaran lebih efisien dan tak perlu dilakukan secara tunai, pengguna juga berkesempatan menikmati rupa-rupa promosi. Tetapi, saat dompet elektronik yang dimiliki makin banyak, cukup sulit untuk mengelolanya karena memiliki sistem yang berbeda-beda.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko menuturkan, pihaknya masih mempelajari kemungkinan tersebut. Onny menjelaskan, bank sentral masih mempelajari interface terkait dompet elektronik.

"Kami masih pelajari interface yang sesuai untuk bisa connect each other (saling terhubung satu sama lain)," kata Onny kepada media, (14/2/2018).

Onny menambahkan, meskipun demikian yang penting adalah terjadi interoperabilitas antara satu pelaku dengan pelaku lainnya. Interoperabilitas adalah satu metode pembayaran saling dapat dioperasikan pada yang lainnya.

Teknologi Finansial Kian Digemari

Jumlah pelaku industri teknologi finansial (tekfin) di tanah air terus bertambah. Data Asosiasi FinTech Indonesia (Aftech) menyebutkan, dari 235 perusahaan tekfin, sebanyak 39% bergerak di bisnis pembayaran.

Ajisatria Suleiman, Direktur Aftech memperkirakan, bisnis tekfin yang berkembang cukup pesat adalah pembayaran. Hal ini sejalan dengan konsolidasi dan sinergi yang pelaku usaha industri tekfin lakukan, yakni memadukan bisnis dengan layanan pembayaran yang lebih eksklusif.

Bukan berarti bisnis tekfin pembayaran tanpa tantangan. Anistasya Kristina, Vice President Corporate Communications PT Nusa Satu Inti Artha (Doku) mengatakan, setidaknya ada dua tantangan terbesar dalam mengembangkan layanan pembayaran.

Pertama keamanan siber (cyber security), masih jadi tantangan bersama bagi semua pemain tekfin dalam ekosistem e-commerce dimanapun termasuk di Indonesia.

Kedua, edukasi seputar manfaat produk dan teknologi jasa pembayaran memerlukan waktu dan sinergi antara para pelaku industri dan regulator guna mencapai tujuan bersama.

Sementara Setiawan Adhiputro, Direktur PT Visionet Internasional (OVO) melihat, tantangan terbesar dalam mengembangkan layanan pembayaran adalah pasar dan kebutuhan pelanggan yang terus berubah.

"Pelaku usaha tekfin harus siap untuk senantiasa beradaptasi. Kami harus terus dekat dengan masyarakat dan melakukan riset pasar secara mendalam mengenai kebiasaan pelanggan," pungkasnya. []